Ngopi Sederhana di Gerobak Kopi City

Malam belum usai, pagi juga belum menyambut. Kami bertiga tengah asyik berdiskusi demi meracik isi tugas akhir dari kampus yang belum jua berujung di persidangan. Membuat saya ingin menghabiskan malam lebih panjang dari biasanya. Seorang teman berkata “berbiasalah dengan kopi maka kau akan larut pada malam panjang”.

Aku ada ide, “gimana kalo kita ngopi dulu?” Tak ingin waktu berlalu tanpa progres, kami bertiga beranjak dari kamar peraduan menyusuri pinggir jalan mencari tempat ngopi. Gerobak kopi tepat berada di pinggiran Jalan Setia Budi, menjadi tempat yang tepat untuk pelampiasan malam ini. Layaknya sebuah meja barista, gerobak itu disulap menjadi meja untuk menyeduh kopi dengan sederhana.

Barista Gerobak Kopi City meracik espreso menggunakan alat rockpresso
Barista Gerobak Kopi City meracik espreso menggunakan alat rockpresso | © Monides Sagala
Gerobak Kopi City tak menampung banyak orang, namun kopinya bisa disiapkan untuk dibawa pulang
Gerobak Kopi City tak menampung banyak orang, namun kopinya bisa disiapkan untuk dibawa pulang. | © Monides Sagala

Jika Pak Sapardi pada puisinya ingin mencintai dengan begitu sederhana di bulan Juni, kami hanya ingin ngopi begitu sederhana di bulan Juli. Malam itu, aku memesan Long Black dengan kopi dari Tapanuli Utara. Barista Gerobak Kopi mulai menyerbu biji-biji kopi dengan manual grinder. Tak ingin takarannya berlebih dan kurang, dia juga menimbang dengan mengunakan alat yang begitu sederhana namun akurat. Air pada ceret belum juga tembus pada angka 92 derajat celcius, angka kepercayaannya pada suhu kopi. Sembari menunggu kopi pesanan kami diracik, teman sebelah saya yang duduk di kursi kayu dengan cat pernis sederhana itu bertanya pada saya perbedaan antara Long black dengan Americano.

Wah, saya yang masih amatir dalam dunia perkopian ini bingung juga akan pertanyaan tersebut. Saya hanya anak petani kopi sederhana bukan peracik kopi atau pun yang ahli pada kopi, lantas saya tak habis ide untuk menjawabnya. Dengan sentuhan lembut pada smartphone, saya mencoba mencari di web majalah elektonik yang membahas kopi. Pada artikel tersebut dijelaskan, Long black dan Americanomemiliki perbedaan meskipun minuman ini sama-sama terdiri dari kopi dan air. Long black disajikan dengan menyiapkan air panas terlebih dahulu lalu setelah itu dituangkan espreso ke dalamnya. Long black berasal dari Australia dan Selandia Baru oleh karena itu cara penyajiannya haruslah mengikut negara asalnya, tak boleh sebaliknya. Untuk perbandingan rasio air dan espresonya biasanya tergantung selera.

Sementara, Americano tentu adalah kopi hitam yang berasal dari Amerika. Meskipun di coffee shop di Amerika dan sekitarnya tentu menyediakan juga menu Long black. Meski sama-sama kopi hitam, Americano tentu berbeda dengan Long black.

Yang membedakannya sebenarnya sederhana saja yaitu cara penyajiannya. Cara menyajikan adalah espreso disiapkan terlebih dahulu lalu menambahkan air panas setelahnya. Hasil Americano biasanya nyaris tak meninggalkan krema di permukaan cangkir. Hal tersebut dikarenakan espreso yang diguyur air panas sehingga memecah krema yang ada pada espreso. Hal inilah perbedaan paling jelas antara Americano dan Long black. Krema pada permukaan cangkir adalah yang membedakan kedua jenis kopi hitam ini. Asyik beberapa waktu dengan smartphone tak lantas saya tergilas begitu saja. Setelah memahami perbedaan kedua jenis minuman itu, saya mencoba berdebat dengan teman sebelah saya itu.

Daftar menu dan harga Gerobak Kopi City
Daftar menu dan harga Gerobak Kopi City | © Monides Sagala

Sedikit bercerita mengenai tempat kami ngopi kali ini, Gerobak Kopi City baru beroperasi sekitar tiga minggu oleh pemiliknya, Situngkir marganya. Gerobak Kopi City ini tergolong unik dan masih baru di Kota Medan, selain itu kopi yang disajikan juga masih dengan harga yang terjangkau oleh mahasiswa seperti kami. Harga kopi per cangkirnya berkisar antara Rp8.000 sampai Rp20.000. Gerobak Kopi City menyediakan beberapa jenis kopi, mulai dari Arabika Lintong, Tapanuli Utara, Wine Dairi yang berasal dari Sidikalang, Simalungun, Kopi Arabika dari Karo dan ada juga Gayo.

Begitu sederhana, Gerobak Kopi City hanya menyediakan beberapa kursi kayu di pinggir gerobak tersebut. Sehingga tidak cocok untuk minum kopi dan nongkrong berlama-lama, karena Gerobak Kopi akan kedatangan peminum kopi berikutnya. Sebagai solusi, kita juga dapat memesan kopi dalam gelas plastik sehingga dapat langsung dibawa. Malam itu belum juga larut, kami belum ingin beranjak dari kursi kayu sederhana itu masih terus menikmati sisa kopi di gelas dengan perlahan. Namun setelah beberapa peminum kopi berikutnya telah berdatangan, perlahan kami segera menyingkir dengan sedikit senyuman manis.

Monides Sagala

Mahasiswa, Seorang anak petani kopi.