Ngopi Sambil Belajar di Macapat

Kafe Macapat
Secangkir kopi arabica dari Kebun Ijen PTPN XII. © Rizky Akbari S

Pohon palem berdiri tegak, ornamen batu-batuan kali terhampar membuat suasana serasa berada di sebuah desa. Gubuk-gubuk nan nyaman berada di samping kiri kanan. Lantaran berada di area terbuka seseorang dapat menikmati angin malam yang berhembus pelan menyentuh kulit.

Seorang gadis datang lalu memesan minuman. Ia lantas melihat-lihat buku yang dipajang di dua rak yang memang disediakan untuk pengunjung. Satu buku diambilnya, “Semalam Bersama Soe Hok Gie”. Setelahnya, ia pun bergabung dengan kawan-kawannya yang sedari tadi sudah berkumpul di salah satu sudut.

Di gubuk yang lain sekelompok wartawan kampus dari Fakultas Sastra Universitas Jember sedang mengobrol serius. Sedangkan di gubuk-gubuk lain, kebanyakan pengunjung sedang belajar kelompok atau mengerjakan tugas kuliah. Maklumlah di pekan-pekan ini mereka akan menempuh ujian akhir semester (UAS).

Kafe yang tepat berada di depan Masjid Sunan Kalijaga, Jalan Kalimantan Jember ini bernama Macapat (Tempat Baca). Seperti namanya, Macapat, kafe ini mencoba mengusung konsep yang mendekatkan pengunjung dengan buku. Letak kafe yang berada sekitar 30 meter dari jalan raya justru menghilangkan bising lalu-lalang kendaraan. Suasana tenang ini membuat pengunjung nyaman belajar serta menikmati sajian.

Kesembilan mahasiswa yang mengelola kafe ini mencoba mengusung konsep tempat minum kopi yang beda. Mulai dari penataan tempat hingga kenyamanan para pengunjung. Nuansa Jawa mewarnai kafe ini. Mulai dari nama kafe hingga daftar menu yang ditulis dengan huruf bergaya Jawa. Gubuk-gubuk kafe pun tak lepas dari ornamen-ornamen Jawa. Untuk memesan menu pengunjung tak berteriak memanggil pelayan, cukup memukul kentongan bambu sebagaimana penanda bahaya di desa-desa dahulu. Begitu kentongan berbunyi pekerja kafe dengan pakaian batik akan datang menghampiri.

Kafe Macapat
Buku-buku tersedia sebagai teman ngopi. © Rizky Akbari S

Konsep kafe baca ini dipilih untuk membuat pengunjung tetap tenang dan betah menghabiskan waktunya lebih lama. Dian Teguh Wahyu Hidayat, satu dari sembilan mahasiswa pengelola kafe, sempat binggung saat dipasrahi untuk mengelola kafe yang sempat dua kali berganti pengelola ini. Meskipun sudah kepikiran untuk membuat kafe yang bisa menjadi tempat bagi pengunjung untuk bersantai, membaca dan berdikusi, tapi dia belum bisa memecahkan darimana mendapatkan buku-buku diperoleh. Sampai akhirnya buku-buku para pengelola sendiri yang digunakan untuk mengisi rak-rak buku dan bisa dibaca pengunjung.

Buku-buku yang disiapkan memang belumlah lengkap dan ditata menurut jenisnya. Kebanyakan buku yang disiapkan adalah novel dan cerpen yang sudah punya nama, seperti Perahu Kertas Supernova serta Filosofi Kopi karya Dewi Lestari ada di sini. Ada juga beberapa buku sejarah ditampilkan disini. Buku Bung Karno Menggugat! karya Dr. Baskara T.Wardaya, SJ. Buku yang tersedia itu hanya boleh dibaca ditempat, tak boleh dipinjam atau dibawa pulang, karena khawatir tidak kembali.

Di kafe baca ini pengunjung akan merasa nyaman menghabiskan waktu untuk membaca buku atau berdikusi. Kebanyakan pengunjung kafe ini adalah mahasiswa, pegiat organisasi serta komunitas-komunitas di Jember. Seperti bulan Agustus kemarin, Komunitas Kaskus regional Jember merayakan ultahnya di kafe ini. Suasana serasa di desa serta tidak terlalu hingar-bingar membuat mahasiswa pegiat organisasi menghabiskan waktunya di sini. Seperti Dedy, mahasiswa pertanian Universitas Jember mengaku betah menghabiskan waktunya di sini. “Serasa kembali ke rumah,” katanya.

Berlama-lama belajar tentu perut bisa kemerucuk tanda lapar. Tetapi di kedai yang buka sejak pukul 11 siang sampai 12 malam ini Anda tak perlu khawatir. Berbagai hidangan bisa dinikmati dari cauli flower crispy, vegetable omelet, sandwich, oranger choco late biscuit, roasted bread, roasted banana, dan sausage roll bisa menemani belajar.

Sambil membaca buku atau berdiskusi pengunjung bisa kopi arabica dan robusta setempat untuk dinikmati. Varian arabica didapatkan dari kebun Ijen, sedangkan robusta didapatkan dari koperasi di daerah Sidomulyo Jember. Walaupun disajikan secara tradisoional, kopi yang disajikan cukup sedap di lidah. Penikmat kopi tentu akan memilih kopi tanpa ampas, karena kesegaran kopi sangat kentara. Sedangkan untuk para pencinta cethe tentu akan memilih kopi dengan ampas, sebab ampas yang dihasilkan di kafe ini cukup kental dan kita bisa menggambar dengannya.

Rizki Akbari Savitri

Pembela Serigala dari kota Roma, AS Roma. Redaktur kopi di minumkopidotcom.

  • Ini keren, ngopi serius hehehe

  • Hehe, sekali-kali ngopi kudu serius mas @Joko Waluyo.
    Serius cari pacar misalnya. 😀

  • Adi Baroz

    Mantap..!! Belajar n diskusi makin konsen mas…