Ngopi Rasa HARDCORE!

Black Cup dari muka
Black Cup dari muka | © Black Cup Crew

Secara tak sengaja, sudah menjadi gaya saya untuk berkunjung ke kedai kopi setiap menemui kota yang saya singgahi. Tapi selektif sekali, karena saya lebih suka yang single origin dengan manual brew. Bukan apa-apa, ini masalah selera. Maka, sebagai penggemar single origin, saya lumayan antusias menjelajah kedai-kedainya.

Biasanya saya tidak merasa cukup jika hanya menikmati kopi tanpa bercengkrama. Ngopi dan ngobrol sudah bergandengan tangan sejak dulu, jadi saya sering membawanya kemana-mana. Dan untuk tujuan ini, saya lebih suka ber-kepo ria dengan si pembikin kopi. Topiknya soal kopi, asal kopi, pengelolaan bijinya, cara seduh, dan bagian yang paling saya suka adalah soal seni. Saya menganggap aktivitas pada kopi sudah merupakan bagian dari seni. Iya gak, sih? Sebagai barista atau brewer tentu erat dengan hal ini. Saya memandangnya sekaligus sebagai seniman. Boleh dibilang banyak aktivitasnya bersentuhan dengan seni. Atau paling tidak mencintai seni lah.

Black Cup Coffee House, saya mengenalnya dari komunitas ‘Kawanua Menyeduh’ yang membikin acara ‘Ngopi Bayar Suka-suka’ pada suatu pagi di akhir pekan. Kawanua Menyeduh adalah satu komunitas di Manado yang memiliki passion terhadap kopi dan baru-baru ini mengenalkan coffee bean atau kopi single origin dengan seduhan manual yang terbilang belum familiar di kalangan para pengopi Manado. Selain Black Cup, ada tiga kedai yang memotorinya; Van Omen Coffee (VOC), Kedai Bababudan, dan Aneka Kopi. Satu sama lain belum berusia lama nyemplung di lapak single origin, kecuali Aneka Kopi. Ia import dari kota lain (Jakarta), salah satu brewer Black Cup merupakan pendirinya dan membawanya kemari. Saya awalnya cukup resah pada bulan pertama-kedua kedatangan saya di Manado. Setengah mati tidak kunjung menemukan oase kedai kopi di tengah padang warung kopi yang gersang tanpa coffee bean. Sampai akhirnya saya menemukan foto rame-rame ngopi gratis dengan tag manual brewing di sub pencarian pada sosial media Instagram yang saya ketahui kemudian milik VOC. Wah, gembiranya. Ternyata event di foto tersebut merupakan kegiatan perdana mereka.

Black Cup dari sudut. Tampak gerai Timeless di dalam
Black Cup dari sudut. Tampak gerai Timeless di dalam. | © Black Cup Crew

Di Manado ini, saya pendatang yang belum genap seumur mahasiswa semester satu yang umumnya baru semangat-semangat ngenalngincar gebetan. Tapi saya bukan mahasiswa, so perna le! Saya ex-mahasiswa, dan saya hendak berlama-lama di sini. Barangkali sampai dia menuntun kepada kota berikutnya.

Mengunjungi kedai masing-masing, VOC berkonsep coffee truck yang nomaden, Bababudan berdiri di tengah jantung tempat ngopinya orang Manado: Jalan Roda (Jarod), Aneka Kopi merupakan sangrai kopi yang ternyata bersemayam di tubuh Black Cup. Black Cup sendiri letaknya di bawah tanah kampus Unsrat (Universitas Sam Ratulangi ke daratan bawah di Jln. P. Miangas/Ikip Bawah no.10). Saya lebih nyaman di kedai yang terakhir ini.

Kalau ngopi biasa identik pada aktivitas selo atau yang kalem-kalem, di Black Cup bisa jadi ngopinya sambil jingkrak-jingkrak. Mengapa? Perlu diketahui, Black Cup terdiri dari insan-insan berselera musik ekstrim. Lokasi Black Cup menyatu dengan indie clothing berpapan nama Timeless dan barbershop Vionette yang notabene anak komunitas musik tersebut. Mereka para musisi dan memiliki band. Karena itu, musik pengiring di kedai seringkali bernuansa bentrok-bentrok. Ngopi rasa hardcore, kata lidah. Asik aja sih. Selera musik saya apa saja, asal kaki turut terangguk ritmik, artinya saya sedang nyawiji dengan beat-nya. Sruput..

Eh, hardcore nge-beat?

Logo Black Cup pada salah satu alatnya; Grinder. Terlihat sedikit logo Aneka Kopi di atasnya.
Logo Black Cup pada salah satu alatnya; Grinder. Terlihat sedikit logo Aneka Kopi di atasnya. | © Azam Anhar

Mas Aria, salah seorang yang punya kedai (yang punya Aneka Kopi juga) menyimpulkan cerita dari salah satu penggiat komunitas sekaligus musisinya, “Intinya ngoni ngumpul karena suka kopi kan…” Nah, karena suka ngopi inilah beberapa di antaranya berinisiatif membikin tempat, singkat cerita jadilah Black Cup, tempat musisi-musisi hardcore itu ngopi. Tak melulu musik genre mereka sih yang diputar, adakalanya mereka berkeinginan nge-jazz, blues, folk, pop, dan teman-teman lainnya.

“Sebenarnya kita ini luarnya saja yang hardcore, tapi hatinya, yah hellokitty lah,” celetuk Mas Aria. Maaf, sebenarnya di sini gak ada panggilan ‘Mas’ untuk pribumi Manado. Adanya ‘Kak’ untuk panggilan ke orang dewasa. Tapi saya berasa canggung menggunakan ‘Kak’ untuk panggilan dari orang dewasa ke orang dewasa yang lebih tua. Di sini, panggilan ‘Mas’ atau ‘Mbak’ cuma dilekatkan kepada perantau dari jawa, biasanya yang berjualan. Meskipun terhadap yang secara umur sudah layak dengan title ‘Mbah’, orang Manado tetap memanggilnya ‘Mas’ dan ‘Mbak.’ Eh, Mas Aria Wahastrana Sae turunan Solo juga sih. Jadi sah kalau saya memanggilnya Mas.

Saya menyukai pertemanan melalui jalur ngopi. Selain berasa adem bersua dengan orang-orang selo dalam satu passion, juga selalu ada lingkaran seniman di dalamnya. Saya adalah tipe orang yang cukup nyeni (mungkin), sayangnya kesenimanan saya tak berkembang biak dengan baik. Barangkali, harap-harap dengan ngumpuli mereka, ada cipratan jiwa artsy yang menggugah merekahnya seni yang sebelumnya tak terpelihara dengan mesti di dalam diri saya. Kalau sudah nyeni, kehidupan kan jadi berdecak kagum, menyenangkan. Manado jadi tempat mengembirakan bagi saya. Black Cup jadi titik tolaknya. Widih.

Salah satu Brewer, Kak Opal. Tampak t-shirt yang dipakai: Manado Bay Hardcore, original by Timeless
Salah satu Brewer, Kak Opal. Tampak t-shirt yang dipakai: Manado Bay Hardcore, original by Timeless | © Azam Anhar

Betah berlama-lama di Black Cup. Sebetah bambu dan kayu yang nyaman mendesain ruang sederhananya. Untungnya selama Ramadan ia menjadwal ulang jam operasional dari sore hingga jam 4 subuh, disertai pemasangan menu buka dan sahur. Tetapi ini yang malah mengherankan. Memang dua dari tiga owner-nya muslim, tapi di kota seribu gereja ini, ada bagian besar pelanggan kristiani. Apa pentingnya meng-ada-kan menu buat rutinitas makannya orang yang puasa. Plus jam buka siang pun dihilangkan (buka biasa 10 am-10 pm). Mereka tidak terganggu kah? “Oh enggak. Sini kan toleransinya tinggi. Sebenernya kami ini susah untuk nyari sahur, di luar mahal-mahal,” bilang Mas Aria. Mereka anak kos, jadi Black Cup dibuka dengan tujuan dasar men-supply kebutuhan sahurnya. Saya ketawa.

Tampaknya memang tak ada jarak antara muslim dengan yang non. Sepanjang tengah malam sunyi yang entah lailatul qadr sudah sempat datang atau belum, saya ngopi banyak kali. Sembari mendengar celoteh guyonan perihal puasa dari manusia-manusia yang ada, seperti hal yang biasa. Mereka membaur satu sama lain. Saya sih kurang lihai bergaul. Aksen manado saya belum sempurna melakukan penyesuaian dengan lincah. Saya lho selow, se-selo MBHC (Manado Bay Hardcore) ber-tagline My Family My Friends itu ngopi dan jingkrak-jingkrak. Sruput..

Azam Anhar

Brewer rumahan. Kadang-kadang buang sampah.