Ngopi-ngopi Hore di Bawah Jembatan

Kafe Kolong dari Sisi Selatan
Kafe Kolong dari Sisi Selatan © Vj Lie

Seminggu yang lalu, tiba-tiba saya merasa agak takut sendirian di rumah. Ceritanya nih lagi LDR (long distance relationship) sama suami yang memang sedang ada acara di luar kota. Untuk mengisi kebosanan, saya online. Padahal niatnya untuk mengisi kebosanan, tapi lama-lama sungguh membosankan.

Tiba-tiba Mas Vj Lie mengomentari sebuah foto saya ketika bersama Poetri dan Melly. Akhirnya, dengan setengah melompat saya segera mengambil telepon genggam, dan melayangkan sebuah pesan pendek kepada Mas Vj Lie. Memintanya untuk singgah ke rumah dulu, menjemput saya, karena saya tidak bisa mengeluarkan motor. Saya takut, dan saya sudah tidak sabar segera berkumpul bersama teman-teman di Kafe Kolong. Untunglah, Mas Vj Lie datang juga, setelah saya berhasil melewati yang terasa berjalan sangat lambat.

* * *

Kafe Kolong sebenarnya sudah ada sejak setengah tahun yang lalu. Hanya saja saya belum punya keinginan untuk mengunjunginya. Masih belum pengen. Apalagi dengar cerita dari teman-teman yang sering ngopi di sana, suasananya rame banget. Mungkin karena Kafe Kolong ini masih tergolong baru, jadi ramai banget pengunjungnya. Ketika Anggi, kawan blogger dari Balikpapan bertanya kepada saya tentang kafe unik di Jember, saya malah tidak kepikiran untuk mengajaknya ke Kolong. Baru ketika Anggi sudah pulang saya mengingat tempat ngopi ini.

Kemarin saat Anggi ke Jember lagi, sayangnya dia tidak bisa join kopi bersama kami karena suatu urusan. Rotan dan Kelor, kawan saya, pernah bilang bahwa kalau ngopi di sana bercerita kadang ketika bicara kita harus keras soalnya ramai banget, dan nggak kedengaran kalau bicara dengan volume suara yang biasa. Suara harus agak ditinggikan. Itu kalau suasananya ramai banget, kalau sepi ya bisalah memakai suara dengan volume rendah.

Kolong sebenarnya adalah kedai kopi biasa. Namun karena letaknya yang istimewa membuat banyak pengunjung tertarik untuk mengunjunginya. Ya, sesuai dengan namanya kafe ini memang letaknya ada di kolong. Tenang pemirsa, bukan di kolong tempat tidur lho maksudnya. Tapi di kolong sebuah jembatan legendaris di Jember. Ya, Kafe Kolong ini letaknya ada di bawah jembatan Mastrib (jembatan ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat Jember dengan cara mengumpulkan botol). Jadi, ada sisi historis yang kuat melekat di sana.

Langit mendung, suasana malam yang temaram suasana ngopi kami semakin hangat. Kita membicarakan semua hal yang kami lihat. Itu adalah pertama kali saya datang ke Kolong, dan saya agak shock juga dengan desain yang ditawarkan. Yang ada di pikiran saya waktu itu, kreatif banget sih pengelola kafe ini sampai membuat konsep yang seperti itu. Menyulap tempat yang sudah kita anggap mustahil menjadi sebuah tempat dengan potensi ekonomi yang menjanjikan. Si pengelola selain kreatif juga bisa merangkul masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Salah satu contohnya adalah dengan memanfaatkan tenaga masyarakat sekitar untuk menjaga parkiran.

Bartender di Kafe Kolong
Bartender di Kafe Kolong © Vj Lie

Untuk masalah menu, Kafe Kolong tergolong murah meriah dan juga enak. Mulai dari kopi tubruk seharga Rp 2500 sampai aneka macam kopi yang dibandrol dengan harga Rp 5000. Selain kopi juga ada macam-macam minuman lain seperti jus buah yang dibandrol dengan harga Rp 5000. Ketika pertama kali saya ke sana, saya memesan jus strawberry. Jusnya segar dan kental. Enak dan cocok dengan kondisi tubuh saya yang sedang drop dan butuh banyak asupan vitamin C. Bagi yang lapar disediakan juga nasi bungkus, gorengan, dan beberapa kudapan. Gorengan dibandrol Rp 1000. Harga yang wajar menurut saya karena memang gorengannya berukuran jumbo. Mengenyangkan. Untuk makanan yang lain saya belum pernah mencobanya, jadi belum bisa merekomendasikan.

Waktu itu Poetri memesan Jus Mangga, adiknya memesan sama seperti saya, Mas Vj Lie dan kedua orang temannya memesan kopi hitam. Mas Vj Lie malah lebih heboh, dia memesan dua cangkir kopi sekaligus dengan varian yang berbeda. Pelayanannya cukup lama, mungkin karena pengunjungnya ramai, dan pekerjanya agak kewalahan. Kalau tidak bisa mencairkan suasana, bisa garing dan bosan. Yah, meskipun arsitekturnya menarik tapi kalau lama-lama menunggu pesanan bosan juga. Semakin malam, suasana di Kolong semakin ramai. Dan kami pun mengundurkan diri ke rumah masing-masing.

Beberapa hari kemudian, saya ngopi lagi di sana. Bareng sama Bang Korep, Mas Arik, dan Mas Vj Lie. Sampai di parkiran, sudah terlihat penuh dan ramai. Semua tempat sepertinya sudah terisi. Akhirnya kita pun celingak-celinguk mencari tempat yang kosong. Tidak ada. Semua penuh. Di saat yang seperti itu kami melihat Poetri dan beberapa kawan SMA sedang ngopi juga. Akhirnya kita pun berbagi meja dan ikut bergabung bersama mereka. Seru, bisa saling mengobrol dan bercengkrama.

* * *

Tak lama kemudian, beberapa kawan SMA mengundurkan diri. Yang tersisa hanya Poetri dan Dai. Dan kami pun tak lagi duduk umpel-umpelan, kali ini sedikit lega. Beberapa menit kemudian ada dua orang yang begitu aku kenal. Mereka sepasang muda-mudi, satunya manis dan satunya lumayan cakep. Ya, malam itu Riska dan Riski (mereka sepasang kekasih) ingin merasakan malam mingguan di Kafe Kolong. Namun sayang, sepertinya malam dan tempat sedang tak memihak kepada mereka. Akhirnya saya menawarkan kepada mereka untuk bergabung, ngopi-ngopi hore di meja kami. Riska dan Riski mengaku kalau mereka baru pertama kali itu ke sana. Kami pun merekomendasikan beberapa menu yang pernah kami coba.

Kami pun mengobrol dengan asyik. Mulai dari bahasa-bahasa istilah yang sekarang ngetren sampai beberapa kondisi yang kita lihat setiap harinya. Bahkan kami pun beramai-ramai berkhayal tentang apa dan bagaimana seharusnya arsitektur kafe ini. Mulai merencanakan, kalau seadainya ada kaca tembus pandang ke kolong sebelahnya. Sampai kami pun berpikir bahwa ada baiknya si pengelola tempat ini ikut serta mendengarkan khayalan kami. Saya utarakan pada Riska bahwa ini jauh di luar perkiraan. Ah, sepertinya kami mulai mencintai Kafe Kolong dengan hiruk dan pikuknya.

Secangkir Kopi
Secangkir Kopi © Vj Lie

Awalnya saya pikir, ngopi di Kafe Kolong itu suasananya temaram dan sangat syahdu. Kita bisa menikmati malam sambil memandang pantulan bulan di Sungai Bedadung. Ternyata saya salah besar. Sisi bawah jembatan yang dipakai adalah bagian pinggir. Jadi, dari sana kami tak akan melihat Sungai Bedadung sama sekali. Tapi itu tak masalah bagi saya, karena desain tempat ini sudah cukup memikat. Namun sepertinya akan lebih cantik bila bisa memanfaatkan sisi kolong yang lainnya, mengingat jumlah pengunjung yang datang semakin hari semakin banyak.

Malam itu saya merekomendasikan sesuatu kepada Riski dan Riska: Jangan datang ke Kolong jika memang berniat untuk menikmati malam berdua. Kafe Kolong tidak cocok jika hanya untuk ngopi berdua saja. Lebih enaknya dipakai untuk ngopi rame-rame. Kalau cuma berdua, rasanya nggak asyik karena suasananya sangat ramai.

Memang ada beberapa spot yang dikhususkan untuk dua sampai empat orang. Namun yang lebih banyak digemari adalah spot-spot yang bisa dibuat nyangkruk ramai-ramai. Mereka berdua mengamini pendapat saya.

Namun, selang beberapa hari setelah itu saya mengalaminya sendiri. Adalah waktu yang salah dan tidak pada tempat yang tepat. Seusai makan bakso bareng Fai, Lemper dan Nurul —saya dan Fai merasa agak pusing. Saya menyarankan kepada Fai agar kita ngopi saja. Pilihan jatuh di Kafe Kolong. Dengan suasana yang sangat hiruk pikuk kami mengobrol sampai bosan dengan suara setengah berteriak. Dan kami mengamini bahwa ngopi di Kolong kalau hanya berdua saja itu tidak nikmat.. Hehe.

Kalau kebetulan singgah di Jember, bolehlah untuk mencoba sensasi ngopi-ngopi di bawah jembatan ini. Akan ada banyak hal tak terduga yang muncul dari obrolan-obrolan santai. Ada banyak hal yang akan kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Akan ada sisi historis yang bisa kita tangkap. Dan tentu saja, akan ada kenangan yang menyeruak dari obrolan dan omong kosong kita di meja kopi.

Zuhana AZ

Pendengar dan penulis kisah. Rakyat biasa, mencintai suami, kopi dan senja.

  • Semoga di saat aku kesana kembali ,, segelas kopi dari cafe kopi kolong dapat aku coba..
    😀

  • BonekBogor

    hmmm .. mengingatkan utk nglunthung ke Jember lagi ..
    salam dari Arek Mahapena Unej