Ngopi, Ngobrol, Ngegame

Legend Coffee
Legend Coffee berharap jadi ‘legend’. © Eko Susanto

Saya pernah teramat yakin kalau saya dilahirkan untuk bermain game, baik Play Station maupun game online. Pula, saya pernah teramat yakin kalau tugas utama saya sebagai manusia adalah untuk membasmi monster-monster yang bertebaran di dunia virtual. Waktu saya sejak SD hingga awal SMA habis untuk melakukan ‘tugas kenabian’ itu. Bukan membaca buku-buku pelajaran.

Baru kemudian ‘penyakit’ itu sembuh setelah di pertengahan SMA, saya mengenal dunia pencinta alam dan memutuskan menjadi pendaki gunung partikelir. Setelah itu, memori masa-masa remaja terpendam dalam-dalam.

Tapi, di sore yang sejuk setelah hujan pertama bulan November jatuh, ingatan-ingatan tersebut muncul lagi. Ketika itu untuk pertama kalinya saya masuk ke kafe Legend Coffee, yang terletak di pangkal Jalan Abubakar Ali, arah menuju Malioboro. Di sudut-sudut kafe semi-warung ini, ada beberapa buah Play Station beserta TV layar datar berukuran cukup besar.

Sedangkan di sisi lain, nampak sebuah meja bilyard, fuzzball, dan meja tenis. Ditambah lagi, ada tumpukan kartu remi di sebuah meja kecil di dekat kasir. Jarang saya temui kafe dengan jenis permainan seberagam ini.

* * *

Seorang pria asal Dusun Grogol, Kecamatan Saegan, Danang Cahyo Nugroho, menjelaskan aspek permainan di sini. “Konsep tempat kita ini memang games café, mas,” tuturnya membuka percakapan, “makanya Legend Coffee ini awalnya ditujukan untuk pelajar, mahasiswa.”

Apa yang dikatakan Danang seiring dengan harga untuk menu yang tersedia. Mulanya saya juga agak kaget ketika melihat daftar menu. Untuk ukuran tempat nongkrong dengan fasilitas dan model interior modern macam ini, saya kira rate harga yang dipatok berada di atas Rp 10.000,-. Ternyata saya keliru. Di dalam buku menu, saya menemukan kopi, coklat, dan teh yang harganya di bawah Rp 5.000,-.

Danang berkeras, sekalipun bernama Legend Coffee, tempat ini tetap adalah warung. Artinya, seperti ia katakan tadi, pihaknya akan sebisa mungkin menyediakan menu makanan dan minuman dengan harga terjangkau.

“Dasar kita kopi, dan kita warung,” tukasnya mantap. Karena dua hal itulah, Legend Coffee yang baru berdiri pada pertengahan September 2012 ini sangat cermat terhadap pengolahan kopi. Meski jenis kopi yang ditawarkan tak sebanyak kedai-kedai kopi ‘serius’. Legend Coffee, seperti diceritakan Danang, selalu membagi menu berbahan dasar kopi menjadi 2.

Untuk penyuka kopi yang ingin rasa kopi ‘pada umumnya’, seringkali menjatuhkan pilihan kepada medium. Dalam menu, ini disebut Kopi Legend I. Sedangkan jika ingin menyesap kopi dengan tingkat kekentalan lebih tinggi, lebih kuat, bisa memesan Kopi Legend II.

Klasifikasi ini, seperti dituturkan Danang, untuk menanggapi permintaan pelanggan yang berlainan. Di satu sisi ada pelanggan yang tak terlalu suka dengan kopi yang kental. Sedang di sisi lain, ada konsumen yang menginginkan kopi di cangkirnya menyemburkan rasa pahit yang tegap. Tak hanya kopi, untuk coklat pun, klasifikasi ini juga diterapkan. Sehingga tak perlu khawatir apabila lidah Anda terlalu biasa atau bahkan, terlalu ekstrem dan berbeda dengan orang kebanyakan.

* * *

Konsekuensi paling umum ketika menetapkan satu image branding di tempat usaha adalah memudarnya tren yang melatari citraan tersebut. Akibat yang akan diterima oleh tempat usaha adalah, brand image tersebut tidak akan mampu menyusup satupun segmen pasar. Sederhananya, tidak ada ada konsumen atau kelompok konsumen yang terpikat dan akhirnya membeli barang atau jasa yang ditawarkan pemilik usaha.

Konsekuensi di atas dimengerti benar oleh Legend Coffee, dalam hal ini oleh Danang sebagai salah satu orang yang ikut menanamkan modal sekaligus pengatur operasional. Itu pula yang diantisipasi oleh Legend Coffee.

“Belakangan, kita juga jadi community café. Banyak komunitas-komunitas yang rajin datang ke sini. Hampir semua jenis komunitas, mulai yang paling serius sampai yang hura-hura,” ujarnya lalu tergelak.

Persis, waktu kami berbincang. Saya melihat ruangan di depan saya sedang ada semacam pertemuan. Ada sebuah meja panjang yang dikelilingi oleh kursi-kursi kayu. Ketika saya tanya, Danang menjawab, itu adalah pertemuan sebuah instansi pemerintahan.

Danang yang saya duga memiliki tinggi hingga 190 cm ini menceritakan, kalau Legend Coffee pernah menjadi tempat konferensi pers. Bahkan hingga 2x. Danang ingat betul kedua acara konpers ini. Karena memang Danang lah yang berwenang dan ikut membantu mengatur jalannya acara.

Pertama dilaksanakan oleh Gerpak, Gerakan Pemuda Anti Korupsi. “Acaranya di situ (sambil ia menunjuk salah satu ruangan di dekat kasir), mungkin ada 50an orang yang datang, mas,” kata Danang. Kedua, pengampu acaranya adalah Studi Kedokteran UGM.

Sayangnya, Danang tak mampu mengingat betul konpers yang dimaksud memiliki tema atau sedang membahas apa. Selain satu kata yang ia ingat karena berulangkali disebut oleh panitia. Yakni Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat).

Suasana Santai di Teras Belakang Legend Coffee
Suasana Santai di Teras Belakang Legend Coffee. © Eko Susanto

“Kita kalau cuma (memakai) tempat (untuk acara) gak bayar, mas. Bayar makan-minumnya saja. Beda di tempat lain, tempatnya bayar, makan-minumnya ya bayar,” ujar Danang lalu terkekeh, “sering juga ada anak-anak sekolah yang mau foto tahunan. Mereka tanya kalau foto di sini bayar tidak. Saya jawab tidak ke mereka, sing penting ojok lali njajan yo (yang penting jangan lupa pesan makanan dan minuman).”

Dengan cara demikian, Danang berharap kalau Legend Coffee diingat sebagai tempat yang ramah. Tempat yang rasa ke-komunitas-annya kental. Tapi tetap tak menghilangkan kesan elegan yang telah tampak di kafe ini. Singkatnya, Danang ingin semua segmen konsumen berkumpul di satu tempat: Legend Coffee.

Kebijakan manajemen ini, bukannya tak menemui kendala dan tantangan. Salah satu yang paling gampang terlihat adalah menyiasati kebosanan pengunjung.

“Tren itu kan ada umurnya, mas. Apalagi di Yogya. Ribuan orang keluar-masuk setiap tahun. Setiap tren pasti akan habis,” tutur lelaki kurus ini, “kita (Legend Coffee) paling harus sering-sering maintenance gamesnya. Selain itu, nanti tembok kita ini gak akan kosong. Semua komunitas dan seniman boleh menitipkan karyanya, nanti tinggal bilang ke kita.”

Ketika saya tanya, adakah keinginan yang akan dieksekusi untuk Legend Coffee, ia menjawab langsung beberapa hal. Pertama, Legend Coffee akan mengisi jam-jam kosong. Terutama di pagi hari. Maka, pihaknya akan menyediakan paket menu sarapan dan makan siang untuk para pengunjung. “Menunya apa?” tanya saya. Danang tersenyum, “Masih rahasia.”

Ia lalu membetulkan posisi duduknya, kaki kanannya dilipat menindih yang kiri, baru kemudian melanjutkan perkataannya.

“Saya masih ingin kalau Legend Coffee jadi pusat ticket box untuk seluruh jenis konser. Kayak Ibu Dibjo di Jakarta.” Ibu Dibjo sendiri sudah sangat tersohor bagi kalangan maniak konser, di Jakarta atau di luar. Tempat ini menjadi destinasi utama ketika seorang mencari tiket konser atau pagelaran seni lainnya. Bahkan, melayani penjualan secara online.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Legend Coffee. Karena bagaimanapun, menjadi semacam center of segmented people adalah hal yang tidak mudah. Selain dibutuhkan uang lebih, juga konsep matang.

Di sisi lain, Danang juga menyadari, mengingat usia Legend Coffee yang baru, pertumbuhan terlalu cepat juga tidak baik. Nalurinya sebagai pegiat kedai kopi berkata, bahwa pertumbuhan harus seiring dengan kesiapan orang-orang yang bergelut di dalamnya.

“Nanti, mas, saya paling pengen menjadi kayak House of Raminten. Jadi heritage, kayak nama tempat ini, legend,” ia kembali menerawang.

“Jadi kalau orang datang ke Jogja, pasti akan datang ke sini. Saya pengen mereka nanti beranggapan, kalau datang ke Jogja gak datang ke Legend Coffee, bakal rugi. Seperti gak kayak ke Jogja,” tukasnya.

* * *

Ketika Danang sudah pamit undur diri, saya melihat-lihat ke sekeliling tempat ini. Persis di sebelah kiri saya, ada jalan kecil menuju empat set meja yang terletak di taman belakang. Dengan lantai rumput dan beberapa pohon mungil. Cukup romantis dan nyaman jika ingin berbicara dari hati ke hati, atau sekedar memandangi wajah orang terkasih.

Di kanan saya, ada seperangkat Play Station. Saya memandang produk digital ini cukup lama. Setelah itu saya berdiri, memutuskan untuk kembali ke masa remaja dan menjalankan tugas utama saya sebagai manusia.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Arys Aditya

Penerjemah lepas dan sampai sekarang bergelut di Kelompok Belajar Tikungan Jember, Jawa Timur.