Ngopi Lucu di Joko Kopi Ungaran

Suasana Joko Kopi
Suasana Joko Kopi | © Trifosa Cynthia Natalia

Awal tahun 2016, dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Ungaran, saya menangis dalam bus. Air mata saya tertumpah. Namun, bukan air mata haru akibat terbayarnya rasa rindu yang telah lama membuncah. Ini murni karena hal remeh dan tak penting yang mengaduk-aduk emosi saya. Alat penggiling kopi dan kopi saya ketinggalan. Saya baru sadar saat sudah di bus. Hati saya pun sedih, meski belum sampai menangis. Kesedihan itu saya coba atasi dengan berusaha menikmati perjalanan, mengamati jalan dan perilaku para penumpang bus sejak keberangkatannya dari Lebak Bulus. Namun, yang namanya menghapus kesedihan, ternyata tak semudah itu. Di terminal Rawamangun, ada yang kemudian duduk di belakang saya. Dua orang mas-mas. Bus pun kembali berjalan dan hujan mulai turun perlahan. Sambil memandangi jalanan dari pinggir jendela, saya mendengarkan pembicaraan mas-mas di belakang saya tadi.

“Kalau kata saya, suami yang baik itu, yaaa…yang dibilang baik sama istrinya,” kata mas yang satu.

Belum sempat saya berkata, “Edjyaaannn” dalam hati, tiba-tiba…

“KHRRRRROOOOOOOEEEEEKKKKKHHHHHHHHH” mas tadi meludah ke dinding bus.

Saya yang duduk mepet dinding bus melihat ludah mas tadi. Yawla… Saya kaget. Shocked. Saya reflek menarik punggung dari senderan kursi. Posisi duduk saya tegak. Sekujur tubuh saya tegang. Kondektur bus menghampiri saya dan menanyakan apakah saya kedinginan. Belum sempat saya jawab, ia sudah menutup AC di atas kepala saya. Saya semakin tidak tahu harus bagaimana. Saya kemudian menutup wajah saya dengan jaket. Saya menangis. Ini semua terjadi saat bus masih di Rawamangun. Masih di Jakarta. Masih jauh dari tujuan saya.

Sesampainya di Ungaran, saya sedikit lega. Namun, hari-hari saya di Ungaran pun tidak terlalu menarik. Bertumbuh di tempat berbeda dengan kawan-kawan Ungaran cukup memberi dampak yang signifikan. Topik pembicaraan dan bahan bercanda pun jadi berbeda. Alih-alih memperkaya obrolan, malah jadi terasa berjarak. Tidak terlalu buruk sih. Hanya saja, jadi tidak semenyenangkan dulu. Pertemanan yang jadi sedikit berjarak, ditambah rasa kangen yang memuncak pada kopi enak, juga perasaan dendam yang masih tersumbat pada mas yang meludah di bus membuat saya ingin cepat-cepat kembali ke Jakarta. Saya pun segera memesan tiket ke Jakarta. Bukan tiket bus tentunya. Saya masih trauma. Namun, hari untuk kembali ke Jakarta rasanya lama sekali tiba. Padahal saya sudah tidak tahan untuk ngopi-ngopi lucu. Kalau di Ungaran, mau ngopi lucu di mana?

Sampai pada suatu pagi, 2 hari sebelum saya kembali ke Jakarta, saya iseng mengetik #kopiungaran di kotak pencarian di Instagram. Tak disangka, hasilnya menakjubkan. Beberapa fotonya adalah foto-foto kopi di pinggir sawah. Mantap jiwa. Jiwa kepo saya terbakar. Semangat saya berkobar. Ternyata, di Ungaran memang ada sebuah kedai kopi di pinggir sawah. Namanya Joko Kopi. Saya jadi merasa berdosa telah meremehkan Ungaran.

Sore harinya, saya pun memutuskan untuk menyambangi kedai tersebut seorang diri. Sekitar setengah 6 sore saya sampai. Tampaknya saya pengunjung pertama. Kedainya baru buka. Masnya masih tampak menyiap-nyiapkan banyak hal. Melihat saya datang, masnya menyambut dengan ramah.

Ia menjelaskan bahwa ada beberapa jenis biji kopi yang tersedia. Sebagian dari PT Taman Delta Indonesia, Semarang, dan sebagian dari Caswells Coffee, Jakarta. Saat itu, ada satu jenis kopi spesial yang tidak setiap hari ada di sana. Saya pesan kopi tersebut dan minta diseduh dengan v60. Saya diminta menunggu karena air panasnya pun belum siap. Saya pun menunggu dengan sok-sok duduk di bagian yang tak beratap agar bisa menatap sawah dari dekat. Ala-ala penduduk kota yang merindukan suasana desa nan asri dan damai. Sayangnya, gerimis perlahan turun. Saya pun mengalah. Saya duduk di bagian yang beratap, tetapi masih bisa memandang sawah. Saat saya diam-diam posting foto ke Instagram, tiba-tiba ada mas-mas lain yang juga bekerja di situ menyapa saya.

“Kak, suka kopi, ya?” kata mas itu.

Satu kalimat itu akhirnya berhasil membuka percakapan. Saya jadi cerita kalau saya kuliah di Tangerang, lalu tinggal di Jakarta, dan sebagainya. Tidak lama kemudian, air panasnya siap. Mas yang pertama menyambut saya tadi menawarkan saya untuk menyeduh kopi saya sendiri. Ia mau mengajari saya. Sebuah kemantapan. Tentu saya tak menolak. Saya tidak pernah membuat kopi pakai v60. Saya biasa buat kopi tubruk saja. Itupun dengan aturan-aturan yang saya buat sendiri. Yang penting bagi saya enak.

Kursus dadakan itu pun dimulai. Sambil mengajari, masnya juga mengajak ngobrol. Ternyata, namanya Oki, sedangkan mas yang menemani saya ngobrol tadi bernama Ivan. Mas Oki ini atraktif sekali. Ia begitu bersemangat. Saya sampai geli. Hehehe. Puncaknya, saat masih dalam proses menyeduh kopi saya itu, mas Oki mengeluarkan statement, “Buat saya, di setiap biji kopi itu mengandung persahabatan. Contohnya, kayak kita aja, Kak. Tadi kan kita nggak kenal. Sekarang, gara-gara kopi, bisa ngobrol, kan?”

Hahaha. Saya tidak tahan lagi. Tawa saya pecah. Tidak pernah saya bayangkan di dunia nyata ada yang bicara begitu pada saya. Ngobrol dengan barista memang bukan hal baru bagi saya. Namun, barista lain paling hanya membicarakan kopi yang dia suka dan tidak suka, membandingkan kedai kopi tempatnya bekerja dengan tempat lain, dan lebih banyak membicarakan hal-hal lain di luar kopi, seperti tentang bosnya, gebetannya, dan lain sebagainya. Saya sampai merasa tidak enak hati karena tertawa. Habisnya gimana. Saya tidak biasa mendengar mas-mas barista bicara begitu secara langsung pada saya. Bicaranya pun benar-benar tampak sepenuh hati. Benar-benar kelihatan bahwa ia punya passion besar terhadap kopi.

Berguru Menyeduh Kopi
Berguru Menyeduh Kopi | © Trifosa Cynthia Natalia

Setelah kopi selesai dibuat, saya pun menikmati kopi saya itu. Awalnya memang sendirian. Lama-lama, mas Oki dan mas Ivan kembali menemani saya dan mengajak saya ngobrol. Mereka bilang, tidak perlu khawatir kesepian kalau ke Joko Kopi. Mereka akan bersedia menemani. Yoi sekali, bukan? Selain mas Oki dan mas Ivan, kemudian datang pula seorang mas-mas lain yang ikut bergabung bersama kami. Sayang, saya lupa namanya. Obrolan kami terus mengalir. Mereka menanyakan kedai kopi favorit saya, mengapa saya suka tempat itu, kopi apa yang paling berkesan buat saya, dan sebagainya. Saya pun menanyakan tentang kedai-kedai kopi Ungaran, sejak kapan Joko Kopi berdiri, bagaimana mereka jatuh cinta pada kopi, dan seterusnya. Mereka pun curhat betapa mereka sedih karena di Ungaran ini orang-orang belum terlalu suka kopi seduh manual tanpa gula. Namun, pelan-pelan, mereka berusaha untuk ngopiin Ungaran. Saya sungguh terkagum bangga mendengar ada barista yang bervisi untuk ngopiin Ungaran, bahkan benar-benar memakai istilah ”ngopiin Ungaran”. Bagian paling menyenangkannya, mas-mas ini pun juga membuatkan kopi lain untuk saya coba. Total, di malam itu saya minum 3 cangkir kopi selama sekitar 4 jam lebih duduk di sana. Yang perlu saya bayar hanya satu. Sebuah kemantapan.

Betapapun kepulangan saya itu diawali dengan kesedihan dan kekalutan, pengalaman ngopi ini seperti membayar segalanya. Seperti kata JKT48, meski ada hal sedih ataupun hal yang memberatkan, tak apa asal yang bahagia lebih banyak. Ungaran masih menyediakan kebahagiaan yang lebih banyak daripada kesedihan. Saya masih sayang Ungaran. Dua hari kemudian, saya kembali ke Jakarta. Naik kereta. Saya bahagia.