Ngopi Geh di Kopi 113

Plang penanda Kopi 113
Plang penanda Kopi 113 | © Imam B. Carito

“Dah ngopi belum? Ngopi geh!“

Jangan kaget jika tiba-tiba anda disapa dengan dialog seperti itu. Di tempat ini, jangan harap anda mendapatkan sapaan khas swalayan. Atau bahkan salam ala teller bank atau penjaga counter pulsa. Begitu datang, Anda tidak lantas ditanya mau pesan apa. Tapi langsung ditodong dengan, “Ngopi geh!“

Namanya Rumah Kopi 113. Letaknya di jalan Jl. Bhayangkara no.12, kota Serang. Kalau anda ingin berkunjung penandanya adalah Hotel Le Dian Serang. Rumah Kopi113 letaknya di belakang hotel. Tinggal masuk gang, jalan sedikit, dan papan nama kopi 113 akan kelihatan.

Tagline “Ngopi geh!” sengaja dipakai sebagai ciri khas. Kata “geh” sendiri berasal dari dialog asli bahasa Jawa Serang (Jaseng). “Ngopi geh!” kira-kira berarti, “ngopi lah” atau “ngopi dong.” Menurut sejarahnya, bahasa Jawa Banten atau Jawa Serang mulai dituturkan pada zaman Kesultanan Banten pada abad ke-16. Tepatnya saat Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon kedua menyerang Banten dan menaklukannya. Tidak heran jika beberapa kata dalam dialek Jawa Banten atau Jaseng hampir mirip dengan dialek Cirebonan.

Kini bahasa Jawa Banten atau bahasa Jawa dialek Banten ini dituturkan di bagian utara Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon dan daerah barat Kabupaten Tangerang. Di daerah Pandeglang, meskipun bahasa umum yang dipakai adalah bahasa sunda, imbuhan “geh” juga sering dipakai dan artinya masih sama. Kata “geh“ sebagai imbuhan ini juga dipakai di beberapa daerah di luar Banten, misalnya Lampung. Sedangkan kata “geh” dalam bahasa Gayo artinya adalah datang. Di beberapa daerah di Jawa Tengah kata ini sering diucapkan, hanya saja dengan pelafalan “Jeh” bukan “Geh”.

Dua orang yang saya temui, Ahmad dan Farhan, selaku owner Kopi 113 memang asli kelahiran Serang. Maka tidaklah mengherankan jika keduanya akhirnya menjadikan #ngopiGeh sebagai tagline cafe mereka. Alasan utamanya tentu saja, agar terdengar lebih familiar, akrab dan membumi dengan konsumen.

Rumah Kopi 113 sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 2015. Namun dengan berbagai sebab, mulai Februari tahun 2016 lalu tempatnya dipindah ke Jalan Bhayangkara ini. Jadi ketika saya dan teman-teman “Para Pendusta” mampir awal bulan Mei lalu, tepatnya baru sekitar empat bulan Kopi 113 beroperasi. Meski proses dekorasi masih berjalan dan belum selesai penuh, Kopi113 tetap menyediakan tempat kongkow yang nyaman.

Awalnya saya kira nama Kopi 113 itu ada kaitannya dengan tanggal berdirinya cafe, semacam November tanggal 3 (113). Atau berkaitan dengan letaknya, di Jalan Bhayangkara nomer 113. Ternyata tidak. Dugaan saya salah semuanya, karena kopi 113 terletak di Bhayangkara no.12 bukan 113. Pendiri kopi 113 ini adalah teman waktu kuliah dulu yang sering kongkow nongkrong dan ngopi bareng, dan tidur bareng tentunya. Satu kos-kosan. Usut punya usut ternyata nomer 113 adalah nomer kamar kos mereka saat masih mengampu kuliah.

Di lantai satu, anda akan langsung bertemu dengan meja Bartender dan dua meja kayu yang nyaman. Satu meja lagi dengan sofa empuk yang siap memanjakan anda. Empat varian Single Origin siap dipesan untuk menemani susana santai anda, bercengkerama dengan sahabat tercinta. Ada Gayo Red Mountain, Java Blue Mountain, Java Papricana dan Papua Wamena, tinggal pilih mana yang anda sukai sesuai selera. Berbagai Varian single origin ini dapat anda tebus hanya dengan seharga ongkos PP angkot Terminal Pakupatan ke Hotel Le Dian —kurang lebih sekitar 8 ribu rupiah. Masih murah, saya kira untuk secangkir Kopi Single Origin.

Mas Tabri siap meracik berbagai varian single origin
Mas Tabri siap meracik berbagai varian single origin | © Imam B. Carito

Bagi anda yang kurang suka dengan Kopi Single Origin, menu-menu varian lain juga ada. Ada Cappucino, Moccacino, Tai Tea Milk dan Afogelatto. Coklat baik yang hangat maupun dingin juga siap menetralisir mood anda. Atau misalnya anda ingin yang segar, berbagai varian Squash juga tersedia disini, dari mulai Melon, Strawberry dan Orange.

Sedangkan untuk makanan, kopi 113 menawarkan beberapa menu. Misalnya Kentang Goreng, Sosis Goreng, Pisang Goreng, dan Singkong Keju. Jika anda kurang bersahabat dengan makanan ala goreng, bisa memesan Kue Cubit sebagai pengganti.

Berbagai menu di Kopi 113
Berbagai menu di Kopi 113 | © Imam B. Carito

Farhan, salah satu owner, saat ini kopi 113 belum difungsikan untuk acara komunitas atau acara-acara lain. Memang ada rencana untuk menuju kesana, karena baru tiga bulan sejak pindahan jadi belum bisa dilakukan maksimal. Jadi kebanyakan yang mampir masih sebatas teman-teman dekat dan pelanggan lama.

Jika anda kebetulan mampir bersama orang terkasih, pacar, atau target bribikan, atau mantan yang jadi target balikan misalnya, ajak saja ke lantai atas. Di loteng lantai atas, disediakan meja khusus yang hanya satu meja saja. Jika senja datang tanpa mendung, dari meja ini anda dan pasangan bisa menikmati indahnya sunset. Syukur jika dibarengi bersama indahnya bayang masa depan atau kenangan kala masih pacaran.

Secangkir kopi, kadang memang bisa membawa kita ke momen tertentu di masa lalu. Kadang ia terasa pas, aromanya tegas, seperti dia yang kau rasa pantas namun kemudian pergi tak berbekas. Namun kadang kopi seumpama titisan nikmat tanaman surga, disangrai dalam panas api neraka, lalu diturunkan ke bumi untuk menghapus rasa sepi. Jadi, Dah ngopi belum? Ngopi geh di Kopi 113!

Imam B. Carito

Belum jadi apa-apa. Masih pengen jadi sesuatu. Suka membaca, masih belajar menulis. Suka kopi item, kopi susu dan kopi tahlil.