Ngopi di Vietnam

Minum kue bolu kopi. © Murni Amalia

Sudah dua kali saya mengunjungi negara Vietnam. Sudah dua kali itu juga saya berubah menjadi mahluk lain. Kalau manusia amat menggantungkan hidupnya pada air, di Vietnam saya menggantungkan hidup saya pada kopi. Di saat orang lain minum air putih setelah menyantap spring roll atau pho, saya masih minum kopi; kopi susu tepatnya. Dua kali ke Vietnam, dua kali pula saya menjadi mahluk Homo coffeanensis. Sel-sel tubuh saya terisi oleh cairan kopi dan bukan cairan saline selayaknya manusia. Selagi saya bisa minum kopi Vietnam, saya pasti akan melakukannya. Di pagi hari, sehabis makan, sore-sore, dan di malam hari. Kalau tidak ada, baru saya mau minum yang lain. Mumpung di Vietnam dan mumpung lambung saya masih kuat.

Kopi di Vietnam itu beda. Rasanya beda dan budayanya beda. Saya selalu minum kopi susunya atau caphe sua, dingin atau panas tergantung keadaan. Sampai sekarang saya belum pernah mencicipi jenis penyeduhan kopi yang lain karena… ya gak pengen aja. Dari rasa sendiri, kopi Vietnam tidak seasam kopi di Indonesia. Kalo boleh pinjam istilah orang bule, kopinya itu lebih smooth. Menurut teman saya, Mien, orang Vietnam aselik, kopi di Vietnam termasuk kopi Robusta yang sebenarnya sama dengan kebanyakan kopi di Indonesia. Tapi sungguh, rasanya beda. Vira, teman seperjalanan saya, tidak bisa minum kopi. Dia selalu deg-degan dan berat mata setelah keracunan kafein. Kecuali di Vietnam. Dia bisa menghabiskan satu gelas kopi susu sendiri tanpa ada masalah sesudahnya. Dia seperti anak kecil yang mulai dewasa karena akhirnya bisa minum kopi.

Pemandangan Cafe Radio. © Murni Amalia

Mungkin karena airnya beda. Menurut teman saya, Maya, yang kerja di perusahaan kopi super besar di Lampung, rasa kopi berubah dengan kualitas air yang berbeda. Maya suka sekali kopi yang dibuat di pabriknya itu, tapi rasanya berbeda dengan kopi buatannya sendiri di rumah. Padahal cara pembuatannya sama. Ternyata kesadahan air dalam pabrik berbeda dengan air PAM ataupun galonan di rumahnya sehingga rasa kopi di pabriknya lebih enak. Mungkin air di Vietnam berbeda, jadi rasa kopinya lebih enak.

Mungkin susu kental manisnya beda. Rasa susu kental manis di Vietnam, menurut lidah saya yang sudah hancur karena kebanyakan makan cabe, tidak semanis di Indonesia. Tapi menurut Maya (lagi), pasar Indonesia memang suka sekali rasa manis jadi kemungkinan susu kental manis Indonesia lebih manis. Mungkin. Yang jelas, susu kental manis Vietnam tidak mendominasi rasa kopi dan semanis kopi susu di Indonesia. Pas dengan selera saya.

Ngopi bersama Mien. © Murni Amalia

Saya tidak terlalu mengerti proses pembuatannya. Saya juga kurang mencari tahu karena sibuk dengan itinerary yang sudah saya siapkan untuk perjalanan saya di negeri Paman Ho itu. Akhirnya saya memaksa Mien untuk menceritakan rahasia dibalik pembuatan kopi tersebut. Mien hanya bisa menduga kalau kopi Vietnam lebih segar dan proses penggilingannya beda.

I’ve heard that they roast it with chicken fat too.” Pantesan enak! Apa sih yang tidak enak kalo dimasak pakai lemak. Ha-ha-ha.

Sebuah kafe biasa. © Murni Amalia

Saya juga paling suka budaya ngopi di Vietnam. Setiap restoran pasti ada minuman kopi dan rasanya pasti enak. Jadi di restoran manapun saya makan, saya pasti memesan kopi susu. Bukan hanya restoran yang terbilang mahal, kopi susu pun tersedia di warung kopi biasa lengkap dengan kursi dan meja TK di pinggir jalan. Rasanya? Dasar saya cepat terpuaskan, sama enaknya! Semua orang suka nongkrong dan ngopi bareng. Tidak hanya anak muda tapi yang tua pun ikutan, cewek dan cowok. Budaya ini dapat dikatakan 11-12 sama budaya minum bir. Di pinggir jalan dengan bangku kanak-kanak.

Saya baru tahu saat salah seorang kawan bilang bahwa Vietnam adalah ibukota kopi. Gitu ya? Memang kopi ada di mana-mana di sini. Budayanya juga mendukung fakta tersebut. Kayaknya, negara-negara bekas jajahan Perancis memang menyisakan budaya ngopi dan nongkrong. Melihat hal ini, saya jadi bercita-cita mau ke Perancis hanya untuk mencoba kopi di cafe. Saya tiba-tiba bangga tanpa alasan setelah mengetahui fakta bahwa saya pernah ke ibukota kopi.

Ngopi di Hanoi

Sejauh ini, tempat favorit ngopi saya di Hanoi adalah Cafe Lake View. Cafe ini adalah bukti nyata ‘mestakung (semesta mendukung)-nya’ Vindhya, teman seperjalanan saya yang lainnya. Suatu sore, di pinggir Danau Hoan Kiem, Vindhya menatap sebuah balkon tinggi yang memandang ke arah danau. Karena saya pernah ke Hanoi sebelumnya, ia menanyakan pada saya tentang tempat yang ramai itu. Sebagai orang Bandung, saya asal sok tahu menjawab “Rumah orang! Paling balkon keluarga orang aja.”

Pemandangan Cafe Lake View. © Murni Amalia
Pulang dari Cafe Lake View. © Murni Amalia

Malamnya, Mien membawa kami ke dalam sebuah lorong yang tampak seperti lorong-lorong di pasar grosiran baju. Sempit dan gelap. Setengah waswas dan tersenyum ketakutan, saya mengikutinya. Saya suka kejutan seperti ini. Kami memasuki halaman rumah tua Vietnam. Dinding yang sudah usang, jejeran motor parkir, dan altar penyembahan yang sudah tua menyambut kami. Awalnya saya pikir kita diajak bertamu ke rumah temannya, ternyata kami diajak ke cafe yang berada dalam rumah sebuah keluarga. Karena terletak dalam rumah tinggal sebuah keluarga, maka dipastikan settingan cafenya berada dalam sebuah gedung sempit dan tinggi. Yes! Saya berhasil masuk ke dalam rumah jadul-nya orang Vietnam.

Setelah memesan di lantai dasar, kami bergegas ke lantai tiga. Mestakung adanya, Vindhya bisa duduk di lantai yang dia tanyakan sore itu. Karena hari sudah malam, kami duduk minum kopi bersama Mien dengan memandangi Danau Hoan Kiem yang dihiasi lampu warna warni dan lalu lintas Hanoi yang super sibuk. Kami duduk diantara orang lokal yang tampak bersenang-senang ngobrol dan juga memainkan gadgetnya.

Naik ke lantai 3. © Murni Amalia

Saya memesan kopi telur dengan campuran coklat. Iya, kopi dan teh telur ada juga di Vietnam. Sengaja saya cari kopi yang banyak campurannya supaya kafeinnya tidak terlalu kuat dan saya bisa tidur malam itu. Kalau tidak, saya bisa ketinggalan jemputan esok paginya. Lagi pula, saya penasaran dengan rasa kopi yang beda. Rasanya? Seperti minum kue bolu kopi, enak, dan seperti minuman happy-happy, bukan minuman kopi. Kopi coklat milik Vira dan Vindya rasanya enak juga. Royal di coklat tapi ada rasa kopinya. Rasa kopi Asrul, teman seperjalanan saya satu lagi, enak juga. Selayaknya kopi susu Vietnam yang saya gemari selama ini. Sekeren-kerennya pemandangan kami malam itu, jauh lebih keren Mien yang mengajak saya ke tempat itu. Saya suka dapat rekomendasi orang lokal.

Ada dua hal touristy yang belum saya lakukan di Vietnam sampai saat ini. Saya belum pernah coba minum kopi hitamnya yang super pekat dan saya belum coba kopi instan cair merek lokal yang dijual di supermarket. Karena saya juga belum pernah ke Lembah Sapa dan ingin sekali ke sana, saya pasti akan mencoba keduanya saat saya kembali ke Vietnam.

Murni Amalia

Murni Amalia, lebih akrab dipanggil Mumun, adalah salah satu pendiri blog traveling Indohoy.com.