Ngopi Di Vietnam: Sebuah Kompromi Ideologis

Vietnamese coffee
Suasana warung kopi di pinggir Sungai Hoi An. © Iqbal Aji Daryono

Ho Chi Minh City alias Saigon, Mei 2015.

Begitu siang itu saya turun dari bis bandara dan menginjakkan kaki di depan Ben Than Market, saya tingak-tinguk. Di mana ada warung kopi? Di mana?

Sejak beberapa bulan sebelumnya, bahkan sejak setahun-dua tahun sebelumnya ketika saya kepikiran merealisasikan solo travelling ke Vietnam, hal yang pertama saya bayangkan adalah kopi. Terlintas terus di kepala betapa asyiknya ngopi-ngopi di salah satu negeri kopi itu. Kopi adalah tujuan utama saya ke Vietnam.

Ya, mungkin saya lebay dan terlalu pencitraan. Seolah saya ini pemuda kekinian yang benar-benar maniak kopi demi life style, biar nggak kalah keren dibanding Dee Dewi Lestari yang menulis Filosofi Kopi hahaha. Enggak, enggak. Bukan semacam itu. Terus terang lebih karena saya belum bisa membayangkan seperti apa sesungguhnya negeri yang bernama Vietnam. Sebab hanya dua hal tentang Vietnam yang saya tahu: perang melawan Amerika di tahun 1970-an sebagaimana saya tonton di film-film Hollywood itu, dan kopi yang dicampur susu kental manis itu.

Sayang sekali, serajin apa pun kepala saya tingak-tinguk mencari warung kopi, ternyata saya tak kunjung menemukan apa yang saya cari. Yang tampak di sekitar justru tukang es keliling. Es dari air perasan tebu dengan perasan jeruk nipis, yang dijual seharga 10 ribu Dong.

* * *

Hari pertama berlalu tanpa kopi. Vietnam macam apa ini? Vietnam dari Hongkoong??

Namun kemudian, pagi-pagi sekali ketika saya meninggalkan hostel di daerah Pham Ngu Lao, Tuhan menuntun kaki rapuh saya ke sebuah sudut di tepi jalan. Wow! Ada orang minum! Ada semacam etalase kecil milik warung di depannya, dan ada kopi di sana!

Saya pun memesan. “Do you have coffee?”

Pemilik warung, seorang ibu berumur di atas 50 tahunan bertanya balik dengan bahasa Inggris yang lebih buruk daripada Thukul Arwana: “Coffee? Coffee, here!”

“With milk? Do you have coffee with milk? Vietnamese coffee?”

Dia mengangguk. Saya akhirnya yakin dia paham maksud saya. Maka saya pun duduk di kursi kecil, menanti, menghadap ke jalan raya. Menikmati pagi di Ho Chi Minh City, merasakan suasana yang mudah-mudahan truly Vietnam. Menatap sekilas bis jarak jauh yang bersiap mengangkut penumpang ke kota-kota lain yang ratusan kilometer jaraknya, seperti Da Lat, Na Thrang, atau bahkan Hoi An yang nun di utara sana. Melirik sekilas sambil nyengir ke lambaian bendera-bendera merah bergambar bintang atau palu-arit.

Vietnamese coffee
Peralatan tempur pedagang kopi Vietnam. © Iqbal Aji Daryono

Ibu pemilik warung datang. Menyodorkan gelas bening besar ke meja kecil di depan saya. Tapi… tunggu. Sed.. sedotan? Ada sedotannya! Apa-apaan ini? Setahu saya, kalau saya ngopi Vietnam di Kopitiam Oey, misalnya, atau di Vito Cafe Jogja, selalu ada filter berbahan stainless steel yang ditaruh di atas gelas. Lalu air dituang ke filter, dan air itu perlahan menetes ke bawah sambil menyambar turun sari-sari kopi yang ngendon di dalam filter. Tapi ini… sedotan?

Sedetik kemudian saya menatap ke dalam gelas, dan.. ya Allah ya Tuhanku.. itu.. itu.. bongkahan-bongkahan es batu…

Omaigat, Ini bukan kopi. Ini es kopi, dengan sari kopi yang bakal segera lenyap kekentalannya gara-gara ulah es batu yang terus mencair tanpa henti. Ini pasti tak bakal ada bedanya dengan cairan biru aneh di dalam gelas besar, jajanan para abege di Seven Eleven itu. Oh…

Ya sudahlah. Saya tak bisa menghindar lagi. Saya memandang putus asa ke gelas di depan saya, tapi lantas memaksa diri mencicipinya. Sluurrrpp…

Hmm… tidak terlalu buruk. Ho Chi Minh City memang sangat panas hari itu. Saya lupa mengecek berapa Celcius (mungkin mendekati 40 derajat), tapi yang jelas jauh lebih panas ketimbang Jakarta. Maka… sluuurrpp… oughh.. ternyata enak sekali es kopi Vietnam itu merayap menyusuri tenggorokan saya. Citarasa kopi yang agak wangi khas, dengan susu kental manis yang pekat, semuanya lumayan menggigit.

Tentu saja, kelezatan itu tak bertahan lama. Es batu di dalam gelas segera lumer. Apa yang tadinya cairan coklat paduan antara kopi dan susu yang pekat dan liat itu, pelan namun pasti berubah menuju karakter kopi susu di angkringan depan rumah: encer.

Saya kecewa. Saya gagal memperawani ritual ngopi saya di Vietnam dengan kopi yang baik dan benar. Iya, saya akui, saya mengejar kopi Vietnam ideal dalam imajinasi saya: susu kental di dasar gelas, filter stainless berisi bubuk kopi, dan tetesan air yang pelan-pelan mengantarkan kekuatan hitam sari-sari kopi yang datang membawa kegelapan. Dan yang tak bisa ditawar lagi: airnya wajib panas dong! Itu baru kopi beneraaan!

Saya tahu, Puthut EA yang melawan ekstrimisme ngopi akan cekikikan melihat saya. Biarlah saja. Bagi saya, kopi tetap harus panas, dan itu satu variabel yang tak bisa ditawar-tawar. Saya mau minum kopi yang lurus, yang sesuai khittah. Bukan kopi yang bercampur dengan bid’ah dan kesesatan.

Vietnamese coffee
Ho Chi Minh City. Bapak di depan saya itu tampak minum es kopi juga. Tanpa susu. © Iqbal Aji Daryono
Vietnamese coffee
Gerobak keliling penjual kopi pun otomatis ngasih es kopi waktu dimintai “Coffee please..” © Iqbal Aji Daryono

* * *

Pagi hari berikutnya setelah Hari Es Kopi saya, saya naik sleeper bus. Merayap jauuuuh ke utara, melewatkan sehari semalam, ke kota Hoi An. Itu adalah kota masa lalu, yang konon pernah menjadi pusat perdagangan Kerajaan Campa.

Subhanallah, ternyata Hoi An aduhai sekali. Bangunan-bangunan tua yang berjajar di kali dekat muara, perahu-perahu yang parkir di dermaga kayu seadanya, juga lampion di sana-sini, adalah suasana yang “megang” banget. Nah, ini semua wajib disempurnakan dengan kopi.

Saya pun berjalan menyusuri lorong-lorong kota tua Hoi An. Siang itu menyengat sekali. Untunglah saya sudah mengenakan caping ala tentara Viet Cong, sehingga cairan tubuh saya tidak amblas bersama setiap ayunan langkah. Perkara cairan ini wajib saya tekankan. Sebab ternyata saya sadari bahwa meski saya minum air mineral botol besar setiap beberapa jam pun, jarang sekali saya merasa perlu kencing. Betapa rakusnya matahari Vietnam di bulan Mei.

Langkah saya terhenti di depan pasar tradisional Hoi An. Saya tengok ke dalam. Sebelum los-los daging dan kelontong, ada deretan warung-warung makan juga di sana. Saya masuk. Tak tahu warung mana yang mestinya saya pilih, akhirnya saya menjatuhkan undian nasib ke sebuah warung dengan seorang mbak-mbak penjaga yang lidahnya paling lincah berbahasa Inggris.

Makanan saya pesan. Satu jenis makanan yang saya perkirakan paling kecil kemungkinannya memakai daging babi. Lalu saya pesan kopi. “Coffe please. Vietnamese cofee, OK?”

Makanan saya datang lebih dulu. Segera saya menghajarnya. Lapar sekali, memang. Paginya saya tidak sarapan karena alasan sangat fundamental: ngirit. Jadilah, makan siang yang merupakan rapelan antara breakfast dan lunch itu menciptakan detik-detik sakral yang mengembalikan spiritualitas saya.

Hingga kemudian kopi saya datang. Segelas ko… oh… kopi? What??

Alamak. Nasib saya ternyata tak beranjak dari dua hari sebelumnya. Ini.. lagi-lagi es kopi. Ya, es kopi. Saya tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

* * *

Gara-gara rentetan kejadian itu, akhirnya saya mengamati dengan lebih jeli kelakuan orang-orang Vietnam. Ternyata, apa yang sebelumnya saya kira bir di depan orang-orang yang duduk-duduk di sepanjang pinggir jalan tak lain adalah air teh sebagai “bilas” setelah minum kopi. Sementara, gelas di sebelah “bir” yang berisi air kobokan coklat dengan sedotan yang nangkring di atasnya—yang semula saya kira minuman entah apa, sebab warung-warung itu tidak memasang nama semacam Coffee Shop dan sebangsanya—ternyata ya es kopi itu.

Vietnamese coffee
Menu makan siang saya di Pasar Hoi An. Mi udang dan kopi berlumur es batu. © Iqbal Aji Daryono
Vietnamese coffee
Ketika saya coba pesan kopi panas di depan Jembatan Jepang, rasanya malah jadi aneh. Saya sudah kecanduan es kopi. © Iqbal Aji Daryono

Pada musim yang begitu panas menyengat, agaknya secara otomatis di Vietnam apa yang disebut “kopi” berarti “es kopi”. Semua orang minum es. Es apa pun. Hingga ketika kita bilang “Coffee please..” pun, jangan bermimpi akan datang secangkir kopi yang panas mengepul. Barulah kalau syarat air panas itu kita tegaskan, ia akan datang.

Petualangan ini berakhir tragis. Saya menyerah. Memang, bagi saya kopi adalah ideologi. (Dan sebagai ideologi, mestinya dia harus sepanas 98 derajat Celcius.) Namun di Vietnam saya dipaksa belajar, bahwa kadang-kadang ideologi pun harus mengenal kompromi. Mirip dengan ideologi komunis-nya Vietnam, negeri yang penuh gambar palu-arit tapi sesekali diselingi simbol gerai McDonald itu. Hehehe.

Iqbal Aji Daryono

Sopir truk, sementara ini ngekos di Perth, Ostralia. Bisa ditemui di akun Fesbuk-nya.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • puji hastuti

    Saya pecinta kopi panas juga… Jadi ikutan hilang hausnya baca tulisan neehhh…. Gomawooo….

  • Komang Armada

    Baru tahu ternyata Iqbal penyuka berat kopi, sekali waktu kalau sempat ke Bali, saya temani minum kopi. Ada banyak tempat ngopi keren. Oya, harap tahu saja, saya penggemar tulisan-tulisan mas Iqbal. ‘Out of the (Truck) Box’ lagi saya tunggu, sudah sempat saya cek di Gramedia Denpasar, belum nongol. Suwun.

    • iqbal aji daryono

      Makasih mas.. belum jg nongol di gramed denpasar?

  • Mantaapp.. Sruput dulu kopi nya gan.. 🙂

  • Jujur, saya sendiri ga bisa minum kopi polos bahkan beberapa jenis kopi susu di sini juga tidak terlalu suka (ga suka pahit soalnya) tapi ntah kenapa waktu berkunjung ke Saigon, dan cobain vietnam coffee drip + susu + ice, ehhh suka banget. Jadinya hampir setiap berhenti makan di sana pasti pesan ice coffee vietnam ini 🙂

  • Pengalaman itu sama seperti kalau anda tiba di Jakarta, yang sebelumnya tinggal lama di Yogyakarta. Ketika anda menuju ke sebuah warung untuk memesan teh. Teh satu bang, maka anda akan mendapatkan segelas teh tawar hangat. Berbeda seperti di Yogya, ketika pesan teh di warung, pasti dikasih segelas teh manis hangat.

  • Wakakaka sama kayak di Jawa, klo di Jatim es teh atau teh hangat itu ya manis tapi ke Jabar klo gak bilang manis ya teh tawar 😀

  • Di Tunisia. Ngopi merupakan “makanan pokok”. Ta ada geliat aktifitas jika warga negara ini tak ngopi. Mungkin lain kali saya akan sajikan liputan ttg ngopi di negeri zaitun, Tunisia