Ngopi di Kota Santri

Ngopi di Kota Santri

Hampir setiap sore menjelang malam rezeki Tuhan selalu turun di kota ini, mungkin ini pesan dari Tuhan bahwa kita perlu menyegarkan kembali hati dan pikiran kita, serta selalu bersyukur atas karunia yang telah diberikan, atau mungkin ini adalah suatu cara dari Tuhan agar kita saling memberikan kehangatan sebagai sesama manusia yang katanya mahluk “sosial”.

Yah, inilah kota dimana kaum sarungan banyak berlalu-lalang di jalanan, tempat perantauan bagi orang yang ingin mencari ilmu agama. Jika sahabat-sahabat pernah membaca buku Resolusi Jihad atau pun berdiskusi mengenai 22 Oktober mungkin sudah tak asing lagi dengan nama kota ini. Sesuai dengan historisnya maka kota ini dijuluki sebagai Kota Santri, nama lain dari Kabupaten Jombang.

Isya’ telah belalu, tepatnya pukul delapan malam, dan hujan sudah mulai reda, waktu yang pas untuk memulai rutinitas yang entah sudah saya mulai sejak kapan. Mungkin gara-gara move on yang kebablasan, hal sepele pun ikut terlupakan.

Dengan sarung yang selalu saya kenakan untuk beraktifitas, saya langsung tancap gas menuju kedai kopi yang menjadi langganan saya tiga bulan terakhir ini; seusia dengan kedai itu. Usia yang boleh dibilang muda dibanding warung kopi lain di lingkungan ini yang sudah berumur puluhan tahun dan sudah memiliki banyak pelanggan.

Awalnya saya mengira kedai ini bakal tidak kebagian pengunjung, namun saya salah, justru kedai ini malah tren di kalangan santri dan mahasiswa, khususnya bagi mereka yang menjadi candu intelektual atau mereka yang galau karena kurang inspirasi. Setiap waktu tak luput dari suara gaduh para pelanggan yang berdiskusi, ada saja yang mereka perdebatan. Baguslah, yang penting mereka tidak jotos-jotosan. Bahkan ini adalah kedai kopi satu-satunya yang saya ketahui mempunyai program diba’an, mungkin ada lagi yang serupa namun belum saya ketahui.

Dengan senyum manis semanis-semanisnya pemilik kedai ini seolah-olah merestui pertengkaran argumen dari para pengunjungnya, mungkin karena itu kedai ini diberi nama Kedai Mesem. Mereka mengajarkan di setiap perdebatan agar jangan melupakan mesem. Ya mereka, yaitu Riqi Nurul Hidayat dan Lailatul Jihan, pemiliksekaligus pasangan suami istri, dan mereka juga adalah dua sahabat karib saya.

Ngopi di Kota Santri

Ngopi di Kota Santri

Sisa air hujan menutup lubang jalanan. Saya berjalan berhati-hati. Ditambah lagi jalan saya melawan arus rombongan peziarah, yang sedari tadi menunggu gerbang makam dibuka tepat jam 8. ­saya perhatikan sambil lalu, dengan semangat 22 oktober mereka menyerbu, tak sabar ingin segera berdoa di makam kyai sekaligus tokoh nasional, yaitu Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, K. H. Abdul Wahid Hasyim, dan K. H. Abdurrahman Wahid.

Tak membutuhkan waktu lama saya sampai di tempat yang saya tuju, tempat ini teletak di Tebuireng, gang sebelah selatan makam. Aktivitas yang tak asing langsung hinggap di mata, kelompok-kelompok yang hanya dibedakan oleh meja, semuanya memperdebatkan hal-hal yang berbeda pula, sependengaran saya. Mencoba saya telusuri setiap ruang yang ada, saya temukan satu sosok makhluk yang tak asing lagi dalam perjalanan hidup saya. Dia duduk hangat di sebelah perpustakaan mini yang ada, seperti menunggu orang untuk membuang seluruh keluh kesahnya.

Sebelum bergabung dengannya, saya sempatkan untuk merealisasikan terlebih dahulu tujuan saya datang kesini, yaitu ngopi. Pesanan saya langsung disambut baik oleh satu-satunya barista di Kedai Mesem, dia adalah Zainul, mahasiswa semester 6 jurusan Hukum Ekonomi Syari’ah. Entah dia belajar darimana meracik kopi, sepertinya sangat mustahil jika ada mata kuliah meracik kopi di jurusanya. Mungkin saja dia belajar otodidak dari media video online yang tidak pernah surut ketenarannya, tak penting lah dia belajar dari mana, yang terpenting adalah kopi hasil buah tangannnya tak diragukan lagi. Salah satu kopi andalan di kedai ini adalah Kopasus (kopi pahit susu), pahitnya kopi dipadu dengan manisnya kopi. Banyak sekali fanster kopi ini, saya termasuk salah satunya.

Baru ingin melangkahkan kaki untuk menghampirinya, ternyata dia lebih dulu memanggil, mengajakku untuk bergabung menikmati malam bersamanya. Kopi pun datang, bersama dengan itu pula obrolan kami dimulai. Seperti yang kuduga sebelumnya, dialah yang memulai pembicaraan. Dari arah persoalan yang saya tangkap ternyata dia sedang bingung dengan suatu polemik, dan saya kira bukan hanya dia yang merasa seperti itu, saya atau bahkan kebanyakan orang di negeri ini pun sama, kebingungan dengan polemik politik hingga agama yang terjadi sekarang ini. Obrolan pun menjadi semakin hangat setelah dua lagi sahabat saya bergabung. Pendapat demi pendapat terus keluar, tak terasa waktu sudah sampai pada dini hari.

Ngopi di Kota Santri

Obrolan kami ternyata tidak jauh berbedada dengan forum-forum sebelah. Diskusi pun semakin mengerucut, sekarang lebih membahas kepada pertarungan politik di DKI, bahkan sampai mengkoreksi satu-persatu dari ketiga calon. Nah, di sini mulai panas. Yang mulanya pembicaraan santai, sekarang sudah mulai ada urat saraf yang menyertai nada bicara, mencoba agar pertahanannya tidak jebol, mencari kekurangan lawan adalah strategi jitu menjatuhkan lawan bicara.

Sepertinya atmosfer yang sangat kuat berkumpul di forum saya, sehingga semua mata tertuju pada sahabat-sahabat saya yang bercekcok argumen, seolah mereka adalah orang Jakarta yang sudah dipastikan akan mencoblos di Pilkada DKI. Dari jauh seorang pengunjung berteriak “ngopi sek cek gak salah paham”. Dengan nada khas jawa timuran. Tanpa di komando kami berempat nyeruput kopi secara bersamaan.

Karena suasana yang panas kopi dingin pun ikut terasa panas. Jangan di lihat dari sudut pertengkaran pendapatnya, tapi lihatlah mereka sebagai mahluk sosial, meskipun hanya sebatas argumen tapi setidaknya mereka peduli dan yang paling nampak adalah ternyata mereka masih berfikir bukan hanya untuk dirinya. Jika kamu hanya memikirkan kepentinganmu itu tandanya kamu sedang tersesat. Kembalilah, meskipun hanya sebatas memikirkan mungkin itu akan menjadi lebih baik.

Meskipun tanpa berucap kau mampu menyatukan dan memberikan kehangatan, kami perlu bersosial denganmu agar dapat belajar lebih banyak, kopi.

Kedai mesem pun sudah tutup, tinggal kami berempat yang masih anteng di majlis tersebut, berhubung empunya kedai adalah sahabat kami sendiri jadi dia membiarkan kita bahkan sampai pagi, atau mungkin dia sungkan mengusir kami.

Obrolan pun dirasa cukup, salah satu sahabatku nyeletuk ”eh, ini pas empat orang, gimana kalau kita mulai?”Sebatas menghilangkan penat.

Selamat malam Jombang.

Khusni Mubarok

Pengangguran banyak acara.