Ngopi di Kedai Pak Oey

Secangkir kopi Oey. © Danu Saputra

Kopi Oey di Yogyakarta terdapat di Jalan Wolter Monginsidi 19. Papan nama yang terpajang di depan bangunan Londo ini bertuliskan Kopitiam Oey, bukan Kopi Oey. Tak ada yang istimewa sebenarnya dari nama ‘kopitiam’. Kopitiam berarti kedai kopi dalam dialek Hokkian. Di Malaysia dan Singapura kopitiam banyak digunakan China keturunan untuk menamai kedai kopi. Oey merujuk nama pendiri sekaligus pemilik Kopi Oey. Oey-narno (dibaca Winarno). Lengkapnya Bondan Winarno.

Kopi Oey menempati sebuah bangunan yang menghadirkan nuansa tempo dulu. Bangunan itu didirikan pada 1932. Lantaran benar-benar menempati bangunan kuno, nuansa klasik di Kopi Oey Jogja serasa tidak dibuat-buat. Menariknya, jika saya perhatikan dengan lebih seksama bangunan di sebelah kiri seakan-akan pantulan dari bangunan di hadapan saya ini.

Nuansa tempo dulu hadir dalam sebagian besar ornamen. Teras dan lantai masih berbahankan tegel jaman dahulu. Beberapa poster yang tertempel di dinding juga bernuansa kuno. Ada poster Teh Tjap Bothol dan Rokok Prijaji. Seorang mengantarkan saya ke sebuah kamar dengan kayu. Lampu yang berada di dalam lucunya ditutup sangkar burung. Wah, lampu kok dikurung. Aneh benar. Apa khawatir lampu itu kabur? Entahlah.

Seseorang mengantarkan saya dan kawan saya ke sebuah kamar. Ups, tapi, tapi…, jangan sangka saya berada di sebuah motel. Ngopi-nya memang di sebuah kamar. Bangunan Kopi Oey ini dahulunya rumah keluarga Belanda. Jadinya kedai kopi ini tersekat-sekat di kamar-kamar.

Daftar menu mengikuti tema nuansa tempo dulu. Cara eja yang sudah kadarluwasa dalam Bahasa Indonesia digunakan dalam daftar menu. Ada Koffie Toebroek. Koffie Soesoe Indotjina. Cappuccino. Koffie Saring Atjeh atawa kopi-o. Koffie Item Italia. Saya memesan Koffie Toebroek dan kawan saya yang sedang melanjutkan studi di kota ini memesan Koffie Soesoe Indotjina.

Kopi Oey memang kedai kopi. Namun di kedai kopi ini disediakan menu jajanan dan makanan. Di sini aneka menu masakan mengambil beberapa tema, Cina Peranakan, Jawa Itali, Perancis, dan Belanda. Menu spesial yang bisa dinikmati masyarakat adalah Gudeg Manggar yang disajikan setiap akhir pekan. Menu ini menggunakan bahan dasar bunga kelapa.

Koffie Toebroek dan Koffie Indochina kami datang. Kopi Toebrok masih bertaburan di bagian atasnya saat tersaji dan Koffie Soesoe Indochina disajikan dengan penyaring. Pesanan kami dihadirkan bersama kue bawang yang berbentuk panjang.

Koffie Toebroek saya sudah berkurang derajat kepanasannya. Saya mencobanya. Mak nyuus…

* * *

Kopi Oey Yogyakarta bertempat di rumah peninggalan Belanda yang didirikan tahun 1932. © Danu Saputra

Seperti kebanyakan masyarakat Indonesia saya akrab dengan Pak Oey. Dia sering tampil di televisi dengan gaya santai sambil mencicipi makanan dari kedai ke kedai dan bilang, “Mak nyus”. Istilah ‘mak nyus’ yang dipopulerkan oleh Pak Oey kini banyak digunakan untuk bilang makanan atau minuman terasa lebih dari enak.

Pertama kali saya mengenal Pak Oey dari buku-bukunya. Salah satu buku yang ditulis Pak Oey menjadi buku yang disarankan bagi mereka yang berniat bergelut dalam dunia jurnalistik. Pak Oey pernah melakukan investigasi pertama yang dilakukan wartawan pribumi, kemudian hasilnya ia bukukan dengan judul Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi.

Maksud hati hasil investigasinya bisa diterbitkan. Namun nasib nahas menimpanya, buku itu malah mengantarkannya dituntut 2 triliun rupiah lantaran dituduh melakukan pencemaran nama baik seorang mantan menteri. Ia kalah di dua pengadilan, perdata dan pidana, kemudian diputuskan memuat pernyataan permintaan maaf di 16 harian nasional.

Logo yang bergambar dasar patkwa dasar putih dan merah di sisi luarnya digunakan Kopi Oey. Desainnya dibikin oleh (alm) Heri Wahyudin. Logo itu memang tidak asal-asalan. Saya duga si pembuat desain logo kenal Pak Oey yang selalu bernasib kurang mujur. Desain logo usaha kedai kopi ini memuat harapan supaya bernasib mujur. Patkwa ialah pengambaran dari “menjaga”, “arah mata angin”, dan “limpahan rejeki”.

Usaha kedai Kopitiam Oey memang berkembang baik. Di beberapa kota di Indonesia berhasil didirikan kedai dengan konsep tak jauh beda secara kemitraan. Termasuk kedai kopi di Yogjakarta ini dikelola dalam bentuk kemitraan dengan Fajar Montana Group.

Sekali lagi, ‘kopitiam’ berarti kedai kopi. Beberapa bulan yang lalu kata “kopitiam” yang sebenarnya sudah menjadi milik publik ini didaftarkan seseorang sebagai merek dagang. Maka semua kedai kopitiam di seluruh pelosok nusantara harus ganti nama, termasuk milik Pak Oey. Kopitiam Oey dipaksa menanggalkan kata “tiam” dari namanya menjadi Kopi Oey. Begitulah Pak Oey, ia barangkali tidak pernah lepas dari nasib sial.

Pergantian nama Kopitiam Oey menjadi Kopi Oey telah dilakukan. “Di media sosial kami sudah beralih menjadi Kopi Oey,” terang Gaby Swastika. Peralihan nama ini masih dalam tahap jalan, di kemudian hari semua nama yang tercantum Kopitiam Oey akan berganti Kopi Oey.

Saya meraih buku yang terdapat dalam tas. Seratus kiat: Jurus Sukses Kaum Bisnis. Buku yang terdiri dua jilid artikel bisnis yang ditulis Pak Oey di Majalah Tempo. Saya mendapatkannya dengan harga jujur dari pedagang buku bekas. Saya tertarik membaca lagi biografi di sampul belakang buku. Lelaki kelahiran Surabaya 29 April 1950 ini diperkenalkan dengan catatan kesialanterus. “Pendidikan formalnya kacau. Gagal jadi arsitek. Tidak selesai belajar publistik. Urung jadi penerbang. Kakinya patah dua kali untuk menyadarkannya bahwa ia bukan penerjun payung yang baik.”

* * *

Nuansa China peranakan dipertahankan dalan interior ruang. © Danu Saputra

Seorang pengelola dari bagian manajemen yang menghampiri. Sembari bercanda, dia memberi saya sedikit tips, kalau saya dan kawan duduk di meja yang berbeda terlebih dahulu maka akan mendapatkan masing-masing. Kue ini diberikan pada masing-masing meja, bukan masing-masing orang.

Aha, saran itu bisa saya gunakan di lain waktu. Saya meski pikir-pikir ulang jika hendak tak jujur di kedai ini. Koffie mantep harganja Djoedjoer. Nanti usaha pak Oey bisa merugi kalau setiap orang melakukan trik agar mendapatkan kue bawang masing-masing.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405