Ngopi dengan Cozy;

Bukan Sekadar Menyeruput Kopi
Kedai Kopi Espresso Bar - Jakal - Yogyakarta
Kedai Kopi Espresso Bar – Jakal – Yogyakarta

Ngopi. Istilah yang merujuk terutama—saya sebut terutama, karena ngopi bisa saja dipakai saat menggandakan file—pada aktivitas minum kopi, tentu saja sangat akrab dengan kita. Meski terkesan berasal dari Jawa, istilah ngopi nampaknya sudah meng-Indonesia.

Tak jelas kapan istilah ngopi pertama kali muncul. Tetapi yang jelas, ngopi kerap dipakai untuk merujuk pada bukan sekadar menyeruput secangkir kopi. Ngopi identik dengan nongkrong di warung atau kedai kopi. Bahkan meski tanpa secangkir kopi pun, asal nongkrong, banyak orang tetap menyebutnya ngopi. Di sana terjadi obrolan ringan, diskusi serius atau sekadar menikmati kesendirian saat senja.

Minum kopi memang bukan sekadar aktivitas konsumsi. Ngopi sudah membudaya, baik di Indonesia maupun di seantero dunia. Seperti kegiatan ritual. Dari segi medis kopi memang mengandung kafein yang menimbulkan efek candu, tapi aspek ‘sosiologis’ rasanya lebih kuat untuk dijadikan argumen: bahwa ngopi yang terus membudaya itu adalah proses ‘peradaban’ manusia.

Maka, ngopi sering tak cukup dengan secangkir kopi. Suasana yang nyaman menjadi faktor penting berlangsungnya budaya ngopi. Suasana nyaman itu tak melulu merujuk pada tempat yang serba mewah.

Tergantung kesesuaian antara latar belakang ‘aktor’ dan ‘panggung’ bermainnya. Penduduk desa misalnya, tetap nyaman ngopi di warung kopi yang mungkin bagi orang kota serba ‘kumuh’ atau kotor, lantaran terbangun suasana keakraban di sana.

* * *

Yogyakarta, pada sebuah sore yang tak begitu cerah tapi juga tak begitu mendung. Saya menyempatkan mampir di sebuah kedai kopi—istilah kerennya coffee shop—berlabel Keiko (Kedai Kopi). Keiko berada tepat di seberang perempatan Kentungan, antara ring road (jalan lingkar) utara dengan jalan Kaliurang Km 5.

Keiko sendiri bernama lengkap Kedai Kopi Espresso Bar. Keiko merupakan kedai kopi berjejaring dibawah naungan Teammates Coffee Indonesia, berkantor di Yogyakarta.

Belum lagi tangan saya melepaskan gagang pintu kaca Keiko, para Barista dengan ramah menyapa. “Selamat sore, selamat datang…” Saya segera menuju tempat duduk yang kosong.

Seorang Barista berwajah imut lantas menyodori saya buku yang berisi daftar menu. “Silahkan memilih menu, kalau sudah panggil saja kami,” kata Barista berseragam biru yang kemudian saya ketahui namanya Ajeng.

Daftar menu Keiko memuat ragam pilihan kopi. Ada espresso, original coffee, latte, cappucino, serta blended coffee. Tak cuma kopi, Keiko juga menjual aneka minuman selain kopi. Ada coklat, squash, dan milkshake. Sebagai pelengkap ngopi, kita bisa memesan sandwich, salad, cake, pizza, friench fries, atau pasta.

Non Heavy food… A good company for coffee… A great friend for your side.” begitu pesan Keiko pada pengantar daftar menunya.

Kedai Kopi Espresso Bar - Jakal - Yogyakarta
Kedai Kopi Espresso Bar – Jakal – Yogyakarta
Kedai Kopi Espresso Bar - Jakal - Yogyakarta
Kedai Kopi Espresso Bar – Jakal – Yogyakarta

Berlokasi kira-kira 1 km sebelah utara kampus UGM, Keiko banyak dikunjungi pelanggan mahasiswa. Akhir pekan awal Februari lalu, tepatnya Sabtu (04/02/2012) itu, saya melihat sepasang muda-mudi di paket seat seberang saya. Di meja, ada satu cangkir dan satu gelas putih tulang diapit oleh dua komputer jinjing yang berhadapan. Sesekali mereka melirik dan membuka-buka halaman buku di pangkuan.

Setelah beberapa kali menyeruput secangkir hot coffee mocca dan menikmati beberapa sendok tiramisu, saya menyempatkan ngobrol dengan mereka. Seperti saya bilang tadi, bahwa ngopi bukan sekadar menyeruput kopi. Paramitha sedang mengerjakan skripsinya di jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian UGM sore itu. Begitu juga dengan teman di hadapannya, Erik. Mereka berdua teman sejurusan dan seangkatan.

“Kalau ngerjain di kos tidak ada temannya. Kalau di sini bisa diskusi sama teman,” ujar Paramitha.

Ruangan 6 x 5 meter dengan beberapa paket seat di Keiko Jakal ini memang terasa nyaman untuk mengerjakan sesuatu dengan ditemani kopi. Seirama dengan tagline Keiko, “Colourfulling Coffee”, interior dengan kombinasi tiga warna: merah, kuning dan biru. Serta pencahayaan yang sejuk membuat Paramitha dan Erik betah berlama-lama nongkrong di Keiko.

“Kami datang tadi pagi pukul sepuluhaan,” kata Paramitha pada pukul 16.30 WIB sore itu. Mereka berdua mengaku bukan pecinta kopi yang mengutamakan jenis kopi. “Kopi apa saja tak begitu penting. Yang jelas di sini suasananya cozy (nyaman),” tambah Paramitha.

Di paket seat sofa sebelah pojok ruangan tampak lima pria bercengkerama. Dua diantaranya sambil bermain catur. Alunan musik tak begitu keras dari dua speaker aktif yang terpasang di masing-masing sudut depan meja bar menjadikan Keiko memang cozy. Apalagi pelanggan bisa mengakses internet dengan fasilitas wifi. Di belakang saya, seorang WNA tampak asyik dengan laptop putihnya beserta headseat yang terpasang di sepasang kupingnya.

WNA itu bernama Alex. Ia adalah mahasiswa asal Texas, AS. Di awal pembicaraan, ia mengatakan, “Sambil menikmati kopi, saya bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dengan akses wifi sembari mendengarkan musik.”

Alex yang baru empat bulan tinggal di Yogyakarta ini mengaku berkunjung ke Keiko tiga-empat kali dalam sepekan. Selain tempatnya nyaman, “… kopi di sini beragam. Saya suka mencoba macam-macam jenis kopi dari daerah-daerah di Indonesia, dari Jawa, Bali, Sumatera,” tambahnya. Sore itu, Alex belajar ditemani secangkir Kopi Gayo.

Menurut Candra, seorang captain Barista sore itu, ada tiga faktor yang menjadikan Keiko selalu ramai pelanggan. “Pertama jelas karena kopinya beragam, 100 persen Indonesia. Kedua harganya terjangkau. Dan wifi,” ujarnya. Candra saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa manajemen UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) itu.

Keiko sendiri, menurut Ajeng, menjaring pasar semua kalangan. “Tapi karena di sini banyak mahasiswa, mayoritas pelanggan kami ya mahasiswa,” tambah mahasiswi Geografi UGM itu. Harga rerata kopi di Keiko sejumlah Rp11.000.

Alex yang ketika di Amerika biasa nongkrong di sebuah kedai kopi ternama dan mendunia mengaku ajeg ke Keiko karena harganya lebih murah. “Selain dekat dengan kos saya di Pandega Marta (belakang Keiko), harga kopi di sini murah dengan rasa lebih strong (kuat),” kata Alex yang sudah duduk di sofa hitam selama dua jam.

Pantas saja Alex yang tak begitu suka kopi seduhan kadang bisa menghabiskan dua cangkir kopi sekali nongkrong di Keiko. Pelayanan di Keiko, menurut mahasiswa yang tengah belajar Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya UGM itu, juga ramah. Seperti Paramitha, Alex pun lebih memilih mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di Kedai Kopi ketimbang di kos.

* * *

Setelah ngobrol dengan Alex, saya kembali ke kursi saya. “Well you done done me and you bet I felt it, I tried to be chill but you’re so hot that I melted, I fell right through the cracks, now I’m trying to get back…” suara Jason Mraz dengan lagunya ‘I’m Yours’ mengalun dengan irama ceria. Seorang teman bernama Rifqi, mahasiswa Filsafat yang kebetulan sore itu menemani saya mengatakan, meski baru pertama kali datang ke Keiko dia bisa merasakan kenyamanan.

“Kalau kopinya sih rasanya seperti kopi-kopi di kedai lainnya, tapi suasana di sini memang nyaman. Buat sekadar menyendiri enak, ngobrol juga asyik,” komentar Kaskuser yang sedang berselancar menikmati fasilitas wifi ini.

Jarum alroji saya menunjukkan pukul 17.48 WIB. Dari dinding kaca sisi depan Keiko tampak lalu-lalang kendaraan di perempatan Kentungan. Alex bertanya alamat media yang akan memuat tulisan ini.

Sorry, di mana hasil tulisan Anda dimuat dan kapan saya bisa membacanya?” Saya langsung menjawab, “Minumkopi.com.” Alex langsung mengetik mimunkopi.com dengan cepat di laman Google. Lalu pamit cabut.

Volume musik mengeras. Suara Axl Rose melengking. Lagu Guns N’ Roses, ‘Knocking on Heaven’s Door’, mengiringi saya membereskan perlengkapan, menghampiri meja bar untuk membayar, lalu meninggalkan sore yang cozy dengan secangkir kopi waktu itu.

Knock, knock, knocking on heaven’s door…
Knock, knock, knocking on heaven’s door…
Knock, knock, knocking on heaven’s door…

Belum lagi tangan saya menyentuh gagang pintu untuk keluar, Tues, Barista berparas manis yang juga mahasiswi Hubungan Internasional, Fisipol, UPN kebetulan akan keluar juga, berujar “Terima kasih, Mas…” Tsaaah…

Udin Che Choirudin

Penyuka kopi lahir dan batin. Lahir di Bojonegoro, saat ini tengah merampungkan tugas akademik di Fisipol UGM. Sering membatin ingin punya warung kopi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Kapan2, bolehlah menikmati kopi buatan Bung Udin ini

  • ohoho…boleh…ada kopi lampung ini di kontrakan :))

  • eko

    kapan ngundang aku minum kopi di keiko, Din. Sedap tulisannya kayak kopi Lampung…

  • aha…kang Eko taat puasa kan, jadi ngopinya mesti malam. nah kalau malam kang Eko untuk keluarga. jadi selepas lebaran saja ya :))