Ngopi dan Diskusi di Kedai Komika

Setelah usai dari Kedai Oen, Malang. Saya hendak mengabari Mas Aji Prasetyo kalau mau mampir ke Kedai Kopi Tjangkir 13. Nama kedai kopi ini cukup tenar di kalangan pegiat seni dan aktivis.
Tapi seorang kawan segera memberitahu kalau kedai tersebut sudah tutup. Sekarang Mas Aji pindah ke Komika di Jalan Jakarta. Segera saya menghubunginya. Dengan cepat beliau menjawab, “Ke sini saja, saya sudah di sini.”

Bayangan saya tentang sebuah kedai kopi yang biasa dipakai tongkrongan para aktivis, buyar. Kedai kopi ini nisbi besar, dengan bangunan yang tergarap rapi, di sebuah kawasan jalan yang cukup elit, dengan latar depan taman kota yang sangat panjang. Sangat nyaman. Tenang. Sejuk. Begitu tiba, Mas Aji langsung mengajak kami ke ruang-ruang yang ada. Saya mendadak takjub. Ada ruang besar yang bisa menampung seratusan orang dengan panggung kecil. Bisa untuk pentas musik, diskusi, bahkan pentas teater. Kemudian ada ruang memanjang yang cocok untuk pameran lukisan.

Saya sempat berpikir bahwa harga makanan dan minuman di kedai ini pasti tidak cocok untuk para mahasiswa. Eh ternyata tidak. Masih ada kopi tubruk dengan kualitas kopi yang bagus, dijual dengan harga 7 ribu dan 8 ribu rupiah. Dan sebagai penyuka mie, saya menyantap mie bebek yang lezat sekali. Harganya pun tak mahal.

Aji Prasetyo (kiri) dan Suasana Komika
Aji Prasetyo (kiri) dan Suasana Komika © Puthut EA
Panggung Untuk Live Music
Panggung Untuk Live Music © Puthut EA

Kedai kopi, di zaman beberapa raja di dunia berkuasa, pernah diharamkan dan dilarang. Sebab di sana tempat nongkrong orang-orang yang berpikir dan berdiskusi. Juga membangun kekuatan. Sampai hampir jam 12 malam saya nongkrong di sana. Ngobrol ngalor-ngidul, dari mulai kisah penyematan gelar pahlawan Diponegoro yang dilakukan oleh PKI, sampai soal pendapatnya yang kritis sebagai pengurus Lesbumi tentang penurunan baliho khilafah.

“Saya bukannya tidak setuju dengan penurunan baliho itu. Tapi umat Islam jangan bangga jika mendapat beking tentara untuk menurunkan baliho itu. Mestinya ya yang menurunkan baliho-baliho itu tentara dan polisi. Bukan kita.”

Sudah pasti saya setuju dengan pendapatnya. Mas Aji ini seorang komikus kondang. Tapi tak pernah lepas dari aktivitas politik. Tjangkir 13, termasuk Komika, sering dipakai untuk melangsungkan acara-acara yang bersifat politis.

Tiba-tiba dia menggeret kursinya sambil berbisik ke arah kami. “Tadi ada perempuan cantik dan berjilbab yang duduk di sebelah saya ya?”

Kami mengiyakan.

“Saya sempat mbatin, Ya Allah, kok Sampeyan baru sekarang memberikan wajah kharismatik ke diri saya. Ada banyak kursi, kok mau-maunya perempuan itu duduk di sebelah saya. Eh, pas saya menoleh, perempuan itu mau duduk di dekat saya karena ada colokan listrik, batrei hapenya mau habis…”

Kami tertawa ngakak.

Silakan teman-teman yang punya agenda diskusi atau menggelar acara di Malang, bisa langsung mengontak Mas Aji.

Puthut EA

Anak kesayangan Tuhan.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Niki Saka

    Pak kalau merasa cinta Indonesia ngga salah dong masyarakat ikut nurunin baliho khilafah.
    Maaf bukan soal kopi jadinya 🙂