Ngopi Bareng Puthut EA

Dalam hidup, beberapa hal yang hanya terlintas sekilas di kepala, tiba-tiba bisa menjadi nyata dengan cara tak terduga.

Siang itu Mas Puthut (Puthut EA) mendadak mengajak saya ke RS Fatmawati untuk menjenguk Pak Martin Aleida (kecelakaan sehabis mengisi acara haul Pram di UIN Jakarta). Awalnya, ia mau mengajak beberapa teman lain: Mas Jibal, Mas Rifqi dan Dedik. Tapi tampaknya ketiganya belum bangun, sedang Mas Puthut sudah siap berangkat.

Saya kaget juga mendapat ajakan dari Mas Puthut. Pikir saya Mas Puthut sudah abai dengan saya. Awal interaksi di twitter, saya nyamber twit Mas Puthut perihal kopi semut. Lantaran ia merasa penyataan saya ada yang ‘cerdas’ ia pun follow saya. Setelah itu ya sudah. Adem ayem saja.

Dulu saya pernah punya akun twitter, pernah menyapa Mas Puthut juga. Tapi akun itu saya matikan sekian lama dan baru punya lagi beberapa minggu belakangan. Hanya saja saya termasuk penunggu twit-twit Mas Puthut sejak dulu. Ia sering menceritakan teman-temannya yang lucu-lucu, di antaranya #sayuri dan #olop.

Saya diberi tahu seorang teman kalau Mas Puthut sedang di Jakarta, sehari sebelum Mas Puthut mengajak saya ke Fatmawati. Teman tersebut, Dedik namanya, menawari saya ikut ngopi bareng Mas Puthut. Seolah Dedik ini sudah dekat sekali dengan Mas Puthut. Saya iyakan saja. Tak dinyana, siang itu Mas Puthut minta saya menemaninya bezuk Pak Martin. Tentu saya siap berangkat. Sebetulnya saat itu saya sedang berada di tengah acara pelantikan pengurus baru organisasi pergerakan. Saya lantas menghubungi Dedik. Mengajaknya jalan bareng ke Fatmawati. Rencana jam14.00 berangkat. Eh, jam 13.30 Dedik malah sudah berangkat bareng Mas Rifqi dan Mas Jibal. Saya ingin segera menyusul tapi ditahan panitia pelantikan. Saya diminta memberi sambutan, selaku ketua demisioner. Tak mau berlama-lama, kepada pengurus baru saya berpesan sederhana saja: jangan sampai kurang piknik, perbanyak ngopi. Itu saja.

Acara pelantikan belum selesai, saya pamit. Sebelum menuju RS Fatmawati saya menghampiri Adi, teman satu kos saya yang sedang bekerja untuk ikut serta menjenguk Pak Martin. Di jalan saya berpikir dan membayangkan: seperti apa ya ‘wujud’ Mas Puthut. Apakah ia pendiam, urakan, atau seperti apa? Kita lihat saja nanti.

Setelah memarkir motor, saya menuju gedung di mana Pak Martin dirawat. Di depan gedung itulah saya bertemu Mas Puthut untuk kali pertama. Oh, gemuk juga orangnya, gumam saya dalam hati. Sekilas saya perhatikan celana dan sepatunya, juga kaos polo yang dikenakannya. Kok formal banget ya sepertinya, batin saya. Adi punya kesan tersendiri terhadap Mas Puthut. Kata Adi, Mas Puthut itu modis.

Saya tak lama bertemu Mas Puthut di depan gedung di mana Pak Martin dirawat. Mas Puthut sudah menemui Pak Martin lebih dulu ternyata. Saya dan Adi lantas menuju kamar Pak Martin. Sementara Mas Puthut dkk hendak ke Kafelosophy, Ciputat.

Selepas menjenguk Pak Martin, di perjalanan pulang saya merenungkan banyak hal. Saya tidak tahu bagaimana perjalanan hidup bisa mempertemukan saya dengan orang-orang yang saya kagumi. Seperti bertemu Pak Martin misalnya. Jadi begini, ketimbang artis-artis di televisi, saya lebih ‘mendewakan’ para penulis. Setiap membaca karya yang hebat, saya kadang berpikir: orangnya seperti apa ya? Bagaimana hidupnya dan lain-lain. Itu terlintas sekilas saja dalam pikiran. Eh, tak tahunya saya bisa bertemu.

Dengan Mbak Ratih (Ratih Kumala) contohnya, saya membaca nyaris semua karyanya, baik novel maupun cerpen. Puji Tuhan, saya bisa ketemu dan bahkan ditraktir minum kopi dan makan donat sama Mbak Ratih saat mewawancarainya di sebuah kedai donat di bilangan Pondok Indah untuk majalah Surah. Ketemu Mas Seno Gumira Adjidarma juga anugerah. Kurang ‘hebat’ apa Mas Seno? Dari semua karya beliau yang saya baca tak ada yang jelek. Ternyata, saya dipertemukan dengan beliau dalam sebuah wawancara (untuk Majalah Surah juga). Saya dan tiga teman dari Majalah Surah diajak naik mobillnya dari Cikini ke Kebun Jeruk. Sepanjang jalan itu kami ngobrol banyak hal. Hingga senja purna dan hanya tinggal gerimis sisa.

Nah, kembali ke judul tulisan ini: Mas Puthut. Oke, sebelumnya saya ingin membuat pernyataan: saya memang gumunan dan ‘ndeso’. Tapi barangkali inilah cara saya mensyukuri pertemuan dengan orang-orang yang saya kagumi karyanya. Bagi pembaca tulisan ini yang belum mengenal Mas Puthut, saya akan sedikit kenalkan. Pertama-tama, saya mengenal Mas Puthut sebagai cerpenis. Cerpennya kadang bertema ‘kerakyatan’ ada pula yang berupa ‘prosa yang mendayu.’ Namun, meski cerpen-cerpen Mas Puthut bagus dan sudah dimuat di banyak koran, tetap tak mampu membuat saya kagum sepenuhnya. Yang membuat saya lebih kagum adalah kehidupan Mas Puthut yang sepertinya sangat mengasyikkan.

Bagi saya, menelisik kehidupan Mas Puthut bisa melalui dua bukunya: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (novel) dan Makelar Politik (kumpulan ‘bola liar’). Di buku itu diceritakan bagaimana kehidupan Mas Puthut yang menyenangkan: Jogja, kopi, teman-teman baik yang jumlahnya teramat banyak (bahkan di berbagai daerah), perjalanan, perempuan, dan kiprahnya sebagai ‘detektif partikelir’. Ah, masa muda yang begitu menyala dan bergairah, simpul saya atas kehidupan Mas Puthut. Belakangan saya juga tahu jika Mas Puthut aktif di pergerakan mahasiswa. Turun juga ketika ’98. Dalam berkesenian kontribusinya untuk Insist dan AKY sangat membuat iri. Buletin On/Off yang keren itu seolah hanya bisa lahir dari tangan Mas Puthut dan teman-temannya.

Kurang lengkap apa hidupnya. Jadi tak aneh jika ia (konon) punya banyak mantan. Hehe. Asal ia tidak gabung Laskar Sayang Mantan saja. Hus, jangan bahas mantan! Ora ilok. Mas Puthut sudah punya anak satu, namanya Bisma Kalijaga (nama yang gagah dan keren, gaul sekaligus magis), biasa dipanggil Kali. Dari foto-foto yang dipajang di facebook dan twitter saya tahu Dik Kali sangat lucu dan menggemaskan. Betapa beruntungnya Mas Puthut.

Oh iya, Mas Puthut ini juga penggemar berat AS Roma, dan tentu saja Totti. Di twitter ia akan sangat berisik jika Roma sedang bertanding (baik ketika Roma kalah atau menang). Demikian halnya jika Barca atau MU main, habislah sudah para pendukung Barca dan MU di timeline, ‘digasak’ sama Mas Puthut. Ya, twit Mas Puthut kerap kali nyinyir dan banyak olok-olok untuk fans karbitan, terasa menyentil sekaligus menggelikan.

Saat ini, setahu saya, Mas Puthut sedang berkecimpung di Komunitas Kretek dan Indonesia Berdikari. Bicara soal komunitas, tampaknya sudah tak terhitung komunitas yang dikelolanya. Layak sudah jika ia dinobatkan sebagai Bapak Komunitas Indonesia. Hehe.

Begitulah, Mas Puthut menjadi tokoh idola saya. Apalagi ia juga bersahabat dengan Eka Kurniawan (penulis hebat, karya favorit saya: Cantik itu Luka), temannya semasa di Jogja dulu. Sama-sama filsafat UGM dan sama-sama penulis jos. Intinya, Mas Puthut itu keren. Ia belakangan mengelola minumkopi.com dan jokowicenter.com bersama anak-anak muda yang dengan tekun dibinanya. Mantap jaya! Oh iya, pas hari Kartini Mas Puthut ngetwit soal Sosro Kartono, kakak dari Kartini. Satu kalimat Sosro Kartono yang masih terngiang di kepala saya adalah: suwung pamrih, tebih ajrih. Saya pikir, itu adalah laku hidup yang harus terus diperjuangkan.

Akhirnya, hari itu saya bisa ngopi satu meja dengan Mas Puthut, di Kafelosophy. Ketika disodori buku menu oleh pelayan, Mas Puthut tanya: di sini kopi apa yang enak? Si pelayan kikuk. Di kafe itu Mas Puthut belum banyak ngomong. Kalaupun ngobrol, hanya dengan Mas Rifqi yang ada di dekatnya sembari bermain gadget. Saya pun asyik ngobrol dengan Dedik dan Mas Mukhlis yang sedang merintis radio komunitas.

Sesaat setelah azan magrib berkumandang, Mas Puthut bertanya: kuliner apa yang khas Ciputat dan mak nyus? Mampus! Apa yang yang khas Ciputat? Paling nasi uduk. Tapi mosok iyo nasi uduk. Apalagi ini malam Jumat. Biasanya tutup. Dedik nyletuk mie Aceh. Mas Puthut tampak tertarik. Dedik bilang yang enak mie Aceh di Rempoa. Saya tidak sepakat. Lalu saya menawarkan mie Aceh yang di Kertamukti. Semua tampak setuju. Kami berenam menuju Kertamukti.

Mas Puthut minta dibonceng saya. Saya ndredek. Ia tersenyum melihat plat nomor saya: AE. Wah ini, Puthut AE, selorohnya. Saya tertawa. Dan kami pun meluncur. Di jalan, saya bingung sendiri mencari bahan obrolan. Mas Puthut tampak pendiam begitu. Hehe. Akhirnya semunculnya pertanyaan dalam kepala saya lontarakan: gimana kabar temen-temen Jokowi Center? Sekarang Dik Kali umurnya berapa? Barangkali wagu.

Sampai di kedai mie Aceh Bungoong Jeumpaa Mas Puthut pesan mie Aceh istimewa dan es teh tarik. Teman-teman yang lain juga pesan. Di tengah-tengah makan itu saya bilang bahwa saya mendadak teringat cerpen Mas Puthut: Koh Su. Penjual nasi goreng yang legendaris itu, yang tak seorangpun bisa menyamai. Mas Puthut cuma tersenyum kecil belaka. Tak lama, ketika ia menemukan kepala udang di mie yang ia santap, ia menyendok kepala udang itu dan mengangkatnya. Ia bilang kepada kami: ini rahasia kelezatan nasi goreng Koh Su. Saya tertawa. Sebagian teman yang belum baca cerpen itu melongo saja (tapi ini bukan dosa).

Saya mensyukuri satu hal malam ini: tidak salah merekomendasikan tempat makan kepada seorang ‘tamu agung’. Tamu yang punya lidah sensitif dan peka, pemburu kuliner. Mas Puthut dan teman-teman terlihat menikmati makan malam di kedai mi Aceh yang tak jauh dari kosan saya itu. Selesai bersantap, sesi selanjutnya kami hendak bersantai sambil ngopi di Cho Coffee. Oh iya, entah ini penting atau tidak, Mas Puthut lah yang selalu membayar setiap kami selesai makan, tidak di Cafelosophy, tidak di mie Aceh, begitu juga ketika di Cho Coffee.

Mas Imam (ngakunya ‘tukang seduh’ di Cho Coffee), tekejut mendapat seorang tamu dari jauh. Tergopoh ia menyalami Mas Puthut. Seperti kawan lama tak berjumpa, Mas Puthut menjabat erat tangan Mas Imam sambil bertanya: ada kopi apa yang enak? Mas Imam bilang ada kopi Benteng Alla Utara (Sulawesi) dan Bajawa (Flores). Mas Imam lantas membawa dua bungkus kopi yang masih rapat tertutup itu ke Mas Puthut.

Baru kali itu saya melihat orang memperlakukan kopi sedemikian mulianya. Begitu bungkus terbuka, Mas Puthut segera menghirup kopi itu dari jarak yang dekat sekali (ritual menghirup wangi kopi juga dilakukan Mas Puthut ketika kopi baru saja disajikan di hadapannya). Beberapa detik ia nikmati wangi kopi itu. Kemudian Mas Puthut mengambil beberapa biji kopi, memperhatikan teksturnya dengan seksama. Ia pun mengangguk-anggukan kepala beberapa saat, lantas memesan kopi Sulawesi.

Barulah di Cho Coffee saya melihat sisi humoris Mas Puthut. Ternyata tidak kaku dan formal. Tanpa beban ia banyak ‘mencela’ Dedik. Mulai dari Dedik yang menyebut Pak Martin dengan sebutan ‘bapak’ (seolah sudah resmi diangkat jadi anaknya), Dedik yang Internisti, Dedik yang pecah kongsi, Dedik (dan saya) yang mengelola majalah Surah dan lain-lain.

Kami juga banyak membicarakan tentang Madura dan orang-orangnya yang ‘menggemaskan’. Tak disangka, datang teman Dedik yang orang Sumenep, Madura. Jadilah obrolan makin gayeng. Obrolan juga berlanjut soal suporter bola Indonesia yang punya yel-yel dan ‘kelakuan’ yang menggelikan. Cho Coffee tampak sangat menyenangkan malam itu. Sebuah kafe memang tergantung siapa pengunjungnya. Mungkin begitu.

Kami ngopi sampai pukul 24.00. Mas Puthut harus balik ke Jogja dengan pesawat pagi. Ia ingin rehat sejenak di hotel. Kami berpisah setelah taksi melesat meninggalkan Ciputat. Banyak pencerahan yang saya dapat dari obrolan malam itu. Soal gadget dan teknologi, soal kewarasan logika berpikir, tentang pertemanan, tentang kopi dan masih banyak lagi.

Jika ada orang yang pantas diam-diam kita doakan agar dilimpahi segala kebaikan, Mas Puthutlah orangnya.

Zakky Zulhazmi

Zakky Zulhazmi Lahir di Ponorogo, 20 Maret 1990. Aktif di Tongkrongan Sastra Senjakala, Komunitas Ketik, Majalah Surah, dan Forum Studi Media Karpet Merah. Sedang menuntut ilmu di UIN Jakarta. Bisa disapa di twitter @zakkyzulhazmi, dan tulisan-tulisannya dapat dibaca di www.zakkyzulhazmi.com.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405