Ngaji di Kancakona Kopi

Bagi saya, mudik ke Sumenep nyaris selalu bersentuhan dengan rasa bosan. Kemungkinan menikmati suasana nyaman di rumah paling hanya berlangsung tiga sampai empat hari. Setelah itu biasanya langsung bosan. Penyebabnya bisa macem-macem, tapi yang paling sering, biasanya karena tidak bisa keluar seenaknya seperti di Jogja. Tidak bisa nongkrong berlama-lama untuk sekadar mencari wifi gratis atau jalan-jalan sore. Selain belum banyak tempat nongkrong yang menyenangkan, izin orang tua yang jadi hal utama. Maklumlah ya, saya lahir di lingkungan desa yang agamis, di mana anak gadis mesti pulang sebelum petang.

Tapi beda kejadiannya kalau tempat yang jadi alasan untuk nongkrong adalah Kancakona Kopi. Sebuah kedai kopi yang didirikan dan dikelola oleh perkumpulan alumni sebuah pondok pesantren di Sumenep, Pondok Pesantren Annuqayah. Setelah penjelasan seputar Kancakona Kopi rampung dari mulut saya, tak ada kata larangan dari ortu. Saya bisa berkunjung ke sana dan menghabiskan waktu berlama-lama dalam suasana kedai kopi yang “nyantri” ini.

Tak ada perbedaan dengan kedai-kedai kopi lainnya, desain ruangannya dibuat sedemikian nyeni dan tawaran kopinya juga beragam. Kecuali jika kebetulan kamu bertemu dengan kaum-kaum sarungan yang ngopi dan diskusi di situ, suasananya seolah berubah menjadi diskusi di pesantren.

Kancakona Kopi tampak depan
Kancakona Kopi tampak depan | © Nurul Ilmi Elbana
Para ahlul qahwa
Para ahlul qahwa | © Nurul Ilmi Elbana

Kancakona adalah Bahasa Madura yang bila diterjemahkan berarti teman lama. Kata teman saya, kata ini seperti sebuah sihir. Ketika mendengarnya seolah kita memang akan bertemu teman lama. Tapi memang begitulah, kalau ke Kancakona Kopi sering ketemu teman lama yang dulu nakal bareng waktu di pesantren.

Kancakona Kopi dibuka bukan untuk tujuan bisnis semata. Tapi juga untuk agar meenjadi penyambung silaturrahmi yang sempat terputus, semacam pusat layanan sosial begitu. Sejak dibuka beberapa bulan lalu, kedai kopi ini menjadi tempat silaturrahmi antar alumni, santri, juga kalangan masyarakat umum. Seingat saya, pertemuan Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) bulan Ramadhan lalu berlangsung di sana. Tentu kecintaan terhadap pesantren dan silaturrahmi sudah terjalin sejak dulu, hanya saja Kancakona Kopi seolah mempersatukan seluruhnya—yang selama ini terserak di mana-mana. Tak ayal, jika ada diskusi dan acara pertemuan alumni, tempat pertama yang masuk list adalah Kancakona Kopi. Saya pikir selain silaturrahmi, cara ini dapat menjadi salah satu jalur kontribusi para alumni terhadap pesantren.

Bukan hal yang tidak mungkin kalau obrolan sederhana di kedai kopi dapat menjadi pemecah persoalan masyarakat dan pesantren. Santri-santri menjadi jembatan relasi agar pesantren mulai membuka diri memberikan kontribusi nyata terhadap permasalahan sosial.

Kenapa sih perkumpulan alumni pesantren yang satu ini memilih membuka kedai kopi? Ngopi adalah salah satu trigger dari silaturrahmi. Yah, kopi dan silaturrahmi terikat erat satu sama lain. Kalau kamu main ke Sumenep, Madura, tuan rumah pantang memberimu izin pulang jika mereka belum menyuguhkan secangkir kopi. Bagi orang Sumenep, menyuguhkan kopi buat tamu sudah jadi kewajiban. Alasan lainnya yang cukup masuk akal karena alumni Pesantren Annuqayah sudah menjamur di Madura, khususnya Sumenep. Mereka tak lain para Ahlul Qahwa level makrifat yang kesetiaannya untuk berkunjung ke Kancakona Kopi tak bisa diragukan lagi. Pengunjung setia, bung santri!

***

Sore belum terlalu renta ketika saya sampai di sana. Mata saya disambut puisi dari Kiai-penyair, M. Faizi yang terpajang di pigura. Puisinya duduk manis di bawah deretan beberapa bungkus kopi. Toples kaca berisi kopi berjejer rapi di sampingnya, meskipun nama-nama dari masing-masing toples itu tak bisa saya ingat. Jujur, meskipun sering menyebut pergi ke kedai kopi sebagai “ngopi” tapi saya tak pernah tertarik memesan kopi (yaelah).

Mentok, nyicip punya kawan, sesekali.

Dindingnya diwarnai kaligrafi dan sapuan kanvas ala-ala kamut soal kopi dan buku, seolah mengawasi kita yang duduk di salah satu kursi di ruangan itu. Buku-buku berbaris rapi di sebuah rak samping kasir. Rak yang membatasi sekelompok kursi dan pintu menuju dapur. Di samping ruangan utama terpisah tembok terbuka, tersedia tempat yang cocok untuk diskusi, lesehan yang cukup luas dengan meja-meja berderet diam di situ.

tempat duduk di sisi kanan barista
Tempat duduk di sisi kanan barista | © Nurul Ilmi Elbana
Deretan kursi ahlul kohwa
Deretan kursi ahlul kohwa | © Nurul Ilmi Elbana
Tempat duduk lesehan
Tempat duduk lesehan | © Nurul Ilmi Elbana

Kalau kamu masih menganggap ngaji itu hanya berkaitan dengan membaca Alquran, mending kamu balik dulu ke pondok barang seminggu atau dua minggu sekadar bertanya ke Pak Yai apa itu ngaji. Yang enggak pernah mondok bolehlah main-main sek ke pesantren. Di Kancakona Kopi kamu bisa mengaji model “nyeniman” yakni dengan baca puisi, menonton film dan kesenian lainnya. Yang terbaru, acara refleksi kemerdekaan pada pertengahan Agustus lalu dirayakan dengan diskusi, bermusik, dan berpuisi.

Jika ahlul qahwa sekalian memilih duduk di deretan kursi depan barista, kau akan saksikan bentangan sawah yang di ujung terjauhnya dibatasi rumah-rumah dan perbukitan memanjang. Hilir mudik kendaraan yang tak terlalu padat sesekali akan memutus jarak pandangmu pada sawah tersebut. Tak usah risau jika ingin menikmati kesendirian sambil membaca buku. Musik mengalun sendu dan tempat yang tidak bising karena cukup jauh dari keramaian kota akan memberimu waktu untuk masuk ke dalam buku-buku bacaanmu.

Jangan lupa, barisan buku di rak Kancakona selalu terbuka menerima kawan baru. Jika punya bacaan bagus yang tak ingin kamu nikmati sendirian, kau bisa menyumbangkannya di sana. Bukumu akan berpindah dari tangan ke tangan, memenuhi ingatan tiap-tiap yang membacanya. Seandainya tak punya stok buku, ada cara lain untuk berbagi lewat Kancakona Kopi. Kita bisa mendonasikan makanan atau minuman untuk pengunjung lain dengan sistem nota tergantung.

Nurul Ilmi Elbana

Nurul Ilmi Elbana, santri yang tersesat di Yogyakarta.