Nasionalisme Kedai Kopi Pak Pete

“Sekali Seduh Bersaudara”

Oh, pemilik biji harum kopi/air mata kopi tumpah dari cangkirku

(Air Mata Kopi – Gola A Gong)

Di zaman pra kemerdekaan, rasa cinta tanah air ditunjukkan dengan mengangkat senjata melawan kolonialis. Di awal-awal kemerdekaan, rasa cinta tanah air ditunjukkan melalui dua hal: mempertahankan kemerdekaan dan membangun pondasi bangsa di berbagai bidang. Dan di era Orde Baru, rasa cinta tanah air dikerangkeng dalam aktivitas upacara saban hari Senin, peringatan Kesaktian Pancasila, dan program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) bagi seluruh rakyat.

Namun di era sekarang, masa di mana arus budaya dan pertukaran ekonomis telah melintas batas negara, rasa cinta tanah air itu bisa dipompa dan dimunculkan melalui laku dan gerakan kecil. Salah satunya melalui secangkir kopi yang dijalankan oleh kedai kopi Pak Pete.

Terletak di Jalan Sekaran, Gunungpati, Semarang, kedai ini tak berbeda dengan kedai kopi sederhana lainnya. Perkakas membuat kopi tersusun rapi di atas meja, dua barista sekaligus merangkap pelayan hilir mudik memenuhi pesanan, dan aneka kopi asli Indonesia dijejer membentuk barisan.

Deretan kopi lokal mulai dari kopi Temanggung, Jawa, Bali, Toraja, Sunda
Deretan kopi lokal mulai dari kopi Temanggung, Jawa, Bali, Toraja, Sunda | © Mia

“Ingin pesan apa mas?” tanya barista bernama Habib dengan merenggang senyum, “Kebetulan sedang ada kopi dari kaki Gunung Slamet,” tawarnya.

Saya belum pernah mencoba rasa kopi dari kaki Gunung Slamet. Saya penasaran bagaimana citarasa kopi dari gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut. “Boleh mas, pakai Vietnam Drip ya,” saya membalas tawarannya.

Melihat Habib meracik kopi tersebut, saya iseng bertanya, “Di sini semua kopinya lokal mas? Saya tak melihat ada kopi dari luar. Biasanya ada satu dua kopi luar yang dijual?”

“Kalau di sini semua kopinya harus dari Indonesia mas. Kami sering melakukan eksplorasi dengan kopi-kopi lokal. Ya contohnya kopi Kendal, kopi Rembang, kopi Gunung Slamet ini,” jawab Habib.

Habib menegaskan bahwa di kedai Pak Pete, hanya kopi Indonesia yang dijual. Hal itu dilatarbelakangi oleh keinginan pemilik kedai untuk menghadirkan cita rasa lokal di lidah para penikmat kopi Indonesia. “Kami ingin membantu para petani lokal melalui kedai ini. Mungkin kecil tapi ini yang bisa kami berikan,” jelas Habib saat menunggu suhu air pas sesuai takaran.

“Wuih. Nasionalis banget mas?”

“Ya beginilah. Kan kita mesti cinta produk sendiri.”

Gelas unik berbentuk vas bunga
Gelas unik berbentuk vas bunga | © Mia

Kopi tak sekadar secangkir kopi. Ada etos kerja para petani yang memberikan setiap peluhnya demi secangkir kopi untuk dinikmati. Dalam kopi pula, keindonesiaan dan semangat gotong royong itu termaktub. Indonesia sejatinya bukan saja tentang kopi Gayo, kopi Bali, dan kopi Sumatera. Petani kopi di Indonesia beragam dan bertebaran di hampir seluruh pelosok negeri. Hanya saja, banyak jenis kopi yang sukar mendapat panggung sehingga peminatnya sedikit. Misalnya saja kopi Kendal hanya dinikmati oleh warga Kendal dan paling jauh Semarang. Begitu pula dengan kopi Gunung Slamet dengan cita rasa khas tanah gunung aktif yang sedikit pahit. Kopi-kopi itu tak mampu hadir di hadapan konsumen sebab tak banyak kafe mau memasarkannya.

Kedai Pak Pete melawan arus. Baginya, urusan kopi bukan semata bisnis. Secangkir kopi yang dihidangkan di atas meja tak sekadar memanjakan lidah, tetapi lebih dari itu, membantu kopi-kopi Indonesia dikenal luas layaknya kopi Gayo yang mendunia. “Kalau kopinya laku, petani kan juga senang. Bisa dapat penghasilan lebih, lalu mengembangkan kehidupannya lebih baik,” jelas Habib.

Gelombang ketiga

Trish Rothgeb, seorang—yang katakanlah—akademisi jurusan per-kopi-an dunia mencetuskan gelombang ketiga dalam menikmati kopi. Trish mencoba melampaui kopi yang dipandang sebatas komoditas, dan sekaligus melampaui kopi sebagai penanda kelas atau bersentuhan dengan budaya konsumerisme.

Gelombang ketiga menjadi konsep yang mengapresiasi kopi dari sisi kualitas, keadilan, transparansi, dan keberlanjutan. Konsep ini berusaha memberi pengalaman pada peminum kopi untuk mengeksplorasi rasa serta membangun simbiosis yang akrab antara peminum kopi dengan orang-orang yang terlibat dalam segala proses sebelum kopi terhidang di atas meja. Orang-orang itu tak sebatas barista, brewer, roster, namun juga para petani kopi yang menanam biji kopi, merawatnya, memanennya, dan menjualnya ke pengedar.

Konsep 3rd wafe coffee (gelombang ketiga) ini yang dipraktekkan langsung di kedai Pak Pete. Semangat untuk menghadirkan kopi-kopi dari pelosok negeri bertujuan untuk menyajikan citarasa Indonesia sekaligus membangun keadilan dan keberlanjutan nasib petani-petani kopi tersebut.

Tagline kedai Kopi Pak Pete Sekali Seduh Bersaudara
Tagline kedai Kopi Pak Pete Sekali Seduh Bersaudara | © Mia
Secangkir Kopi Membantu Korban Gempa Aceh
Secangkir Kopi Membantu Korban Gempa Aceh | © Mia

Kopi nyatanya juga mampu membangun solidaritas. Mengangkat tagline “Sekali Seduh Bersaudara”, kedai Pak Pete ingin menciptakan sebuah ikatan solidaritas. Solidaritas ini salah satunya diwujudkan dengan membeli biji kopi yang hasilnya disumbangkan untuk korban bencana. Misalnya saat terjadi gempa di Aceh, kedai Pak Pete membeli beberapa kantong kopi Aceh yang hasilnya disumbangkan ke korban gempa. Di sini, konsumen diajak untuk mengetahui nasib korban gempa dan dengan membeli kopi tersebut, artinya konsumen telah membantu meringankan duka korban. Begitu pula dengan kopi-kopi yang kurang dikenal. Sang barista mencoba menawarkan terlebih dahulu kepada konsumen. “Soal mau atau tidak, itu urusan belakang. Yang penting kita sudah coba sampaikan bahwa dibalik kopi ini adalah beragam peristiwa yang tak pernah diketahui konsumen.”

Saya melihat, begitulah kedai kopi Pak Pete ini mengejawantahkan semangat nasionalismenya. Di era sekarang, tak mungkin rasa cinta tanah air dilakukan dengan mengangkat senjata atau menghafal Pancasila tanpa pengamalan nyata. Melalui kopi, tanah air tempat para petani menghidupi diri itu dijunjung, diberi ruang untuk tumbuh. Agar yang tetap pahit adalah kopi, bukan nasib petani, bukan pula kehidupan di negeri ini.

Muhammad Irkham Abdussalam

Pembaca buku soliter yang menanti kesempatan untuk mengobrol tentang Pierre Bourdieu dan Erik H. Erickson bersama Gita Gutawa.