Nasi Jagung: Tak Lekang Oleh Waktu

Nasi adalah makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kecuali (mungkin) di bagian Indonesia timur yang mayoritas masyarakatnya mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Meski sudah memasuki era pemerintahan Jokowi, banyak lahan yang dijadikan area persawahan terutama di daerah Papua.

Menarik dicermati bagaimana sikap atau sebuah sugesti yang muncul dalam masyarakat Indonesia yang menganggap, bahwa jika belum makan nasi, namanya belum makan. Meski sudah mengonsumsi bakso dua mangkok misalnya.

Secara tidak langsung, sikap ini menggambarkan bahwa masyarakat sangat bergantung dan menganggap nasi begitu penting untuk dikonsumsi atau sekadar memenuhi kebutuhan pangan mereka. Gejala ini memang agak berbeda dengan pola makan masyarakat di Barat yang menganggap nasi sebagai sesuatu yang tak teramat penting.

Berbicara nasi, di pulau Jawa sebetulnya ada beberapa bahan alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti beras. Antara lain tiwul yang terbuat dari singkong dan biasa ditemui di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Ada pula jagung yang banyak dikonsumsi di beberapa daerah pulau Jawa.

Nasi Jagung
Nasi Jagung © Arienal Aji Prasetyo

Sebagai orang yang lahir di sebuah kampung di daerah Banjarnegara, saya sudah sangat akrab dengan nasi jagung. Sebagian besar warga desa yang berprofesi sebagai petani, nasi jagung adalah makanan pokok yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bukan berarti di daerah saya tak ada beras. Orang tua saya menanam padi, namun mereka tetap mengolah jagung sebagai pengganti nasi. Begitu pula dengan masyarakat lain di daerah saya.

Memang, untuk mengolah jagung menjadi nasi diperlukan waktu yang cukup lama. Dan bisa dibilang cukup sulit. Terutama bagi yang tidak pernah membuatnya. Tapi, saya melihat ibu saya membuat nasi jagung terlihat mudah, dan tidak repot (maklum, ibu saya sudah terbiasa). Jagung yang telah berumur tua segera dipetik dari pohonnya. Kira-kira berumur tujuh bulan.

Agar cepat mengering, jagung yang telah dipetik diletakkan di atas tungku api. Hal ini agar jagung terkena asap hasil pembakaran kayu pada tungku. Sehingga proses pengeringan akan cepat dan efisien dibanding mengandalkan panas matahari yang membuat proses pengeringan menjadi lama. Lamanya proses pengeringan tidak terikat pada berapa lama waktu yang ditentukan. Terserah saja. Tergantung pada si pemilik yang ingin segera mengolah jagung tersebut atau tidak. Intinya, proses pengeringan sesuai kebutuhan masing-masing.

Jika ingin mengolah jagung tersebut menjadi nasi, langkah yang harus dilakukan terlebih dulu adalah memisahkan biji dari bonggolnya. Kemudian, biji-biji jagung yang telah dipisahkan akan digiling. Proses ini untuk memisahkan biji dengan dedaknya. Dulu, dedak jagung bisa dipepes sehingga menjadi makanan yang sangat sederhana, selain untuk pakan ternak tentunya. Berbeda dengan sekarang, karena pengolahan semakin mutakhir, dedak bahkan bisa menjadi makanan yang bermutu. Setelah dedaknya terpisah, jagung kemudian disimpan kembali sebelum dijadikan tepung jagung.

Proses pembuatan tepung jagung menjadi nasi jagung yang siap santap juga membutuhkan proses yang lumayan panjang. Pertama, campurkan tepung jagung dengan air secukupnya. Aduk adonan tersebut hingga rata. Namun ingat, jangan sampai adonan tersebut menjadi seperti adonan roti yang sangat lembek. Secukupnya saja. Hingga tepung jagung tersebut menjadi lembab.

Jika sudah, masukan adonan tersebut ke dalam dandang yang dilengkapi dengan sebuah kukusan (sebuah benda berbentuk kerucut yang terbuat dari bambu. Biasanya masih digunakan di masyarakat pedesaan untuk mengukus sesuatu).

Adonan tadi akan mengeras dan menyatu jika sudah lama dikukus. Kemudian angkatlah dan ratakan kembali adonan yang telah mengeras tadi dengan menggunakan centhong. Setelah dingin, campur lagi dengan air secukupnya. Hal ini agar nasi tidak menjadi keras saat dikukus kembali. Pencampuran adonan ini dengan air haruslah dilakukan dengan rata. Setelah itu, kukus kembali adonan tersebut.

Tunggu adonan tersebut sampai panas dan akhirnya menjadi nasi. Jika sudah matang, maka akan terlihat tepung jagung seperti gumpalan kecil tanah. Itu tandanya sudah menjadi nasi jagung. Angkat dan pindahkan nasi jagung itu ke dalam wadah atau cething. Nasi tersebut akan mengeras seiring dengan nasi yang mendingin.

Nasi Jagung
Nasi Jagung © Arienal Aji Prasetyo

Saya rasa, olahan nasi jagung ini masih banyak ditemui. Meskipun jarang sekali menemui nasi jagung di sebuah warung makan. Di daerah saya, nasi jagung yang dijual di pasar sangat laris diserbu pembeli. Ini menunjukan bahwa nasi jagung tetap digemari oleh masyarakat walaupun zaman sudah bergeser, dan inovasi bahan pangan terus mengalami kemajuan.

Sebelum adanya nasi jagung ini, warga di desa saya sering mengonsumsi umbi-umbian liar yang banyak tumbuh di sana. Terutama ketika musim paceklik. Maka tak heran, jika dulu nasi jagung merupakan barang mewah.

Bahkan, masyarakat di desa tempat saya tinggal kini masih sangat mengandalkan nasi jagung. Menurut mereka—dan termasuk saya—mengonsumsi nasi jagung akan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama dari mengonsumsi nasi biasa. Entah kenapa hal ini bisa dirasakan. Nasi jagung juga menjadi bahan utama perbekalan mereka saat pergi bekerja di ladang. Alasan lain adalah, nasi jagung bisa bertahan lebih lama alias tidak mudah basi.

Penyajian nasi jagung juga sederhana saja. Orang tua saya dan mayoritas warga lain di desa saya, sangat menyukai nasi jagung yang disajikan dengan sayur daun kelad (kami biasa menyebutnya lumbu) dipadukan dengan ikan asin bakar dan sambal terasi. Itu sajian sederhana namun sangat memikat lidah. Membayangkan itu semua saya jadi ingin pulang kampung dan menyantap hidangan itu bersama keluarga. Ah sayang, angkringan di Yogyakarta tak menyediakan menu itu.

Tetaplah merakyat, nasi jagung tak boleh lekang oleh waktu.

Arienal Aji Prasetyo

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNY


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405