Nasi Gandul dan Upaya Melepas Rindu Kampung Halaman

Penat terasa di tubuh setelah mengitari kota Solo bersama seorang teman, sebut saja Fahrudin. Mahasiswa semester lima ini rupanya haus piknik, sehingga kami memutuskan hijrah ke Solo. Puas berkeliling Solo, sekitar pukul 13.30 WIB, kami tancap gas menuju Jogja. Cuaca yang begitu panas, seakan membakar energi kami. Belum lagi perjalanan cukup jauh yang kami tempuh.

Sekitar pukul 15.00 WIB, kami tiba di Jogja. Tak ada kata yang terucap. Hanya tampak wajah lesu yang ingin melahap sesuatu. “Din, kita makan di mana?” tanyaku. Lama berfikir dan bertukar pendapat tentang makanan yang pas buat mengisi perut, hanya terlontar sia-sia. Mungkin faktor perut kosong yang membuat otak menjadi malas berfikir.

Sejenak teringat kampung halamanku di Pati sana. Dan mengembalikan ingatanku tentang makanan khas Pati, Nasi Gandul. Nama unik untuk sebuah makanan—setidaknya menurutku. Menjadi mahasiswa yang jauh dari kampung halaman tentu menghadirkan kerinduan tersendiri. Rindu akan rumah, teman-teman dan masakan khas yang sering aku santap. Karenanya, aku merekomendasikan untuk menikmati Nasi Gandul sesampainya di Jogja. Fahrudin hanya bisa mengiyakan saranku.

Warung Makan Nasi Gandul Bu RT
Warung Makan Nasi Gandul Bu RT | © Muhammad Sukron Fitriansyah

Setahuku, di Kota Jogja ada tiga penjual Nasi Gandul. Pertama di komplek ruko Seturan, lalu di Jalan Kaliurang KM.5, dan Jalan Kaliurang KM.9. Aku memilih warung yang berada di Jalan Kaliurang KM.5, berada tepat di depan RM. Sederhana. Karena jaraknya tak terlalu jauh dari lokasi kami sekarang.

Tak membutuhkan waktu lama, kami tiba di depan sebuah warung kecil. “Nasi Gandul BU RT”, begitu tertulis di papan depan warung itu. Di tempat yang mungil ini berjejer rapi meja dan kursi. Kami langsung masuk lalu melihat daftar menu. Di menu, tertulis Nasi Gandul dengan berbagai pilihan; Nasi Gandul + Telur Rp7.000,- dan Nasi Gandul + Daging/Babat/Iso/Paru dengan harga Rp14.000,-/porsi. Selain itu juga terdapat aneka minuman seperti es teh, es jeruk dan es sirup kawis.

“Kamu pesan yang mana” tanyaku.

“Samakan saja” jawab Fahrudin lesu.

Nasi Gandul
Nasi Gandul | © Muhammad Sukron Fitriansyah

Aku memesan dua porsi Nasi Gandul plus Babat. Tak lupa dua gelas es teh. Sekitar tiga menit pesanan kami mendarat di meja. Seorang wanita berusia sekitar 30 tahun mengantarkan pesanan kami dengan ramah. Cara penyajian Nasi Gandul tergolong unik. Nasi di sajikan di atas piring dengan daun pisang muda melapisi piring tersebut.

Tanpa basa basi lagi seporsi Nasi Gandul dengan hamparan babat membuat air liur ingin menetes. Sendok demi sendok Nasi Gandul masuk ke perut. Rasanya sedap. Nasi Gandul memiliki kuah yang gurih. Rasa manis dan sedikit pedas akan mewarnai lidah penikmat Nasi Gandul ini. Rasa kuah akan bercampur dengan babat, sehingga rasanya akan terasa lezat di lidah.

Seporsi Nasi Gandul cukup membuat ku hari itu cukup senang. Bagaimana tidak, rasa rindu sejenak terbayar setelah menyantap nasi khas asal daerahku ini. Rasanya seperti obat pengusir rindu saja. Nasi Gandul ini bisa menjadi obat rindu bagi mahasiswa maupun mahasiswi Pati yang rindu akan kampung halaman. Mereka tak perlu jauh-jauh pulang ke Pati. Cukup merasakan lezatnya Nasi Gandul di Jogja.

Muhammad Sukron Fitriansyah

Kurang tampan juga tidak jelek.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405