Nasi Degan: Kuliner Khas Kawasan Wisata Watu Lumbung

Nasi Degan Watu Lumbung
Nasi Degan Watu Lumbung | © Agil Widiatmoko

Dari Kota Yogyakarta menuju ke Kampung Edukasi Watu Lumbung, bisa ditempuh melalui Jalan Parangtritis. Sepanjang jalan Parangtritis kita akan disuguhi pemandangan yang bervariasi, mulai dari deretan ruko, warung makan, rumah warga, angkringan, dan tentunya masih ada hamparan hijau tanaman padi.

Sesampainya di jembatan Kretek, tepatnya 10 meter dari arah jembatan kita mengambil arah kiri. Lalu pemandangan dan rute yang akan dilewati berbeda 180 derajat dengan sepanjang jalan Parangtritis yang datar jalannya. Tanjakan demi tanjakan harus dilewati sepanjang kurang lebih 1 kilometer. Tak hanya itu, kita juga bakal disuguhi pemandangan yang eksotis yakni deretan pohon Jati.

Pohon Jati memang menjadi identitas dari pegunungan yang menjadi tempat kawasan Edukasi Watu Lumbung. Jika dahulu hanya pohon Jati yang ditanam ala kadarnya. Saat ini penanaman pohon Jati sudah berdasarkan sistem koordinat. “Jika dahulu, sekitar tiga tahun lalu, pohon Jati disini ditanam tanpa mempertimbangkan jarak antar pohon Jati. Tapi sekarang, penanaman pohon Jati berdasarkan titik koordinat,” ungkap Josua Ken.

Memasuki Kawasan Edukasi Watu Lumbung, pada bagian awal kita bakal disuguhi beberapa pelayanan yang terdiri dari kedai-kedai. Sampai saat ini ada sekitar lima kedai yang memiliki identitas sendiri-sendiri, tetapi konsep bangunannya sama yakni bangunan berasal dari bahan-bahan alami yang diambil dari sekitar. Bahan seperti bambu, dan juga kayu yang berasal dari pohon Jati.

Sampai pada akhirnya kita akan sampai di “Lobby” Kawasan Edukasi Watu Lumbung. Lobby ini, masih dalam tahap pembangunan. Tahapan pembangunan dilakukan antara pengelola dengan masyarakat sekitar. Menurut Kentang, —nama panggilan dari Josua Ken— pembangunan di Kawasan Watu Lumbung selalu melibatkan masyarakat sekitar, sehingga masyarakat juga akan mendapatkan edukasi dan peduli dengan lingkungannya.

Matahari semakin terik menandakan waktu siang telah tiba. Sepanjang mata memandang akan terlihat dominasi warna hijau dan coklat. Nyiur melambai dari hembusan angin, menghempaskan daun-daun Jati, yang membuat kegerahan di kala siang bisa surut. Meja dan kursi yang semuanya terbuat dari kayu, di tata menempati sudut-sudut di lobby Watu Lumbung. Ada juga gazebo bertingkat yang semakin memanjakan mata pengunjung.

Sajian makanan dan minuman khas Watu Lumbung dinikmati di meja bambu
Sajian makanan dan minuman khas Watu Lumbung dinikmati di meja bambu | © Agil Widiatmoko

Tak hanya itu, ada satu sajian menu yang bakal membuat pengunjung merasa penasaran untuk sesegera mungkin mencicipi menu andalan di Kawasan Watu Lumbung yaitu Nasi Degan. Cita rasa Nasi Degan memang menjadi identitas kuliner di Watu Lumbung. Berawal dari eksperimen yang dilakukan oleh Mas Kentang dan Pak Boy, selaku inisiator dari Kawasan Watu Lumbung. Lahirlah Nasi Degan!

Proses pembuatan Nasi Degan tak semata-mata Nasi dicampur dengan Degan melainkan kombinasi antara keduanya. Memasaknya pun masih menggunakan tungku untuk mempertahankan kealamian dari Nasi Degan. Bathok Degan dijadikan sebagai tempat sajinya, air degannya juga dimanfaatkan untuk menanak beras. Paduan antara daging degan, air degan, dan beras menghasilkan nasi yang berbeda dengan nasi pada umumnya. Sebagai toppingnya digunakan telur, maupun bahan-bahan alami lainnya.

Nasi Degan yang sudah matang siap untuk disantap. Sebagai pelengkapnya, ada sambal bawang yang semakin membuat Nasi Degan makin nikmat rasanya. Pertama yang bikin penasaran adalah bagaimana rasanya daging degan yang di kukus. Ternyata rasa dari degan yang dikukus adalah sedap dan gurih. Begitu pula dengan nasi yang masaknya menggunakan air degan, bisa dipastikan akan berbeda dengan nasi yang menggunakan air biasa.

Perpaduan gurihnya Nasi Degan dengan sambal bawang akan membawa kita untuk terus melahap sampai habis. Apalagi di dukung dengan pemandangan alam yang masih asri dengan pohon-pohon Jatinya. Anda yang baru pertama kali datang ke Kawasan Edukasi Watu Lumbung bakal ketagihan datang berkali-kali. Silakan anda mencobanya.

Agil Widiatmoko

Penulis yang masih berproses di GMNI Komisariat UNY


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405