(MU)santara

Kedai Nusantara
Kedai Nusantara © Eko Susanto

Seorang pria, berambut ikal agak panjang, memakai hem berlengan panjang yang ditekuk, seperti menancap di kursinya yang ada di pojok ruangan. Ia serius sekali menatap layar laptop. Ketika saya hampiri, ia tetap tak beranjak, hanya sempat melempar senyum dan membalas jabat tangan saya.

Orang barangkali tak menyangka, pemilik wajah kalem ini adalah asisten manajer di Nusantara Resto & Kafe. Tempat nongkrong ini ada di kawasan Nologaten, Jalan Wahid Hasyim No. 77.

Baru setelah saya selesai memperkenalkan diri, ia meninggalkan laptopnya dan mengajak saya duduk di tempat lain. Perbincangan pun dimulai. Ia punya nama Dodik Dwi Krido, lahir di Ponorogo dan menghabiskan masa mudanya Surabaya. Dodik terhitung masih ‘baru’ tinggal di Yogyakarta, seperti tuturnya, baru 1,5 tahun.

Dahulu, Dodik adalah barista Nusantara. Setelah cukup berpengalaman, kebetulan tempatnya bekerja melakukan perombakan. Akhirnya, nyaris sekitar 6 bulan lalu ia menjadi asisten manajer hingga saat ini.

Setelah cukup lama berbincang, saya jadi tahu kalau Dodik adalah orang yang istimewa. Tuturannya yang halus tak mampu menutupi kecakapannya sebagai peracik kopi. Belakangan saya tahu kalau ketika ia masih menjadi barista. Dodik juga menciptakan sebuah menu yang kemudian menjadi salah satu andalan Nusantara.

‘Anak’ itu ia namai Black Avo, yang mempunyai 2 unsur kunci, kopi dan alpukat. “Di pangkal lidah akan terasa campuran kopi dan alpukatnya. Kalau takarannya gak pas, misal kopinya kebanyakan, jadi eneg, mas,” ujar Dodik ketika ditanya bagaimana rasa racikannya itu.

Saya makin penasaran dengan menu ini, dan coba membuktikannya langsung. Sebelum pesanan saya datang, Dodik menjelaskan muasal hidangan ini, “Awalnya tampilannya gak menarik. Warnanya gak menarik. Alpukat hijau, kopi hitam. Karena pake gelas cembung, terus saya kasih coklat. Saya bentuk melingkar di (dinding) gelasnya. Atasnya saya kasih weep cream.“

Dodik lalu tergelak tanpa aba-aba, ia mengingat kembali bagaimana proses ia menemukan menu ini.

“Sampai jadi, lebih dari sebulanan buatnya. Saya sampai dimarahi bos soale ngabisin (karena menghabiskan) alpukat. Kan alpukat larang (mahal), mas. Sekilo lebih habis,” kata Dodik yang dialek Jawa Timurannya tetiba muncul.

Selain Black Avo, Nusantara juga menawarkan kopi dengan nama yang merepresentasikan ‘nusantara’. Ada kopi Siliwangi, Mataram, dan yang paling saya suka bernama Sriwijaya. Meski mayoritas racikan kopinya sama, tiap-tiap nama memiliki sentuhan yang berbeda. Entah pemanis atau campurannya. Untuk Sriwijaya, ada aksen nata de coco di cangkir kopi saya. Bagi saya, ini unik dan khas.

* * *

Kedai Nusantara
Dalam Kesendirian © Eko Susanto

Interior Nusantara sendiri cukup eksotik. Terbagi menjadi 3 ruang besar. Pertama adalah bagian depan kafe, tempat kasir, meja bar sekaligus dapur. Kedua, ruangan besar tempat dereten set-meja disusun menjadi 4 baris. Dimana dua kelompok meja-kursi diapit oleh baris meja lesehan. Sedangkan di dinding paling belakang, terdapat kain putih besar yang biasa digunakan untuk nobar (nonton bareng).

Ruang belakang, langsung diapit oleh sawah sehingga ada angin yang terus mengalir, tetap membuat para pengunjung yang tak begitu suka dengan kepulan asap dari rokok maupun seesha.

Konsep ini dipakai, Dodik menceritakan, awalnya karena Nusantara adalah restoran. Hanya saja, waktu itu sudah dilengkapi menu yang bercorak kafe. Pengunjung pun tak lagi cuma makan, melainkan juga nongkrong.

Sampai sekarang, Nusantara malah lebih lekat dengan tempat nongkrongnya mahasiswa. Satu hal lagi yang menempel dengan Nusantara dan selalu tersembul dari pernyataan Dodik dan orang-orang yang saya temui: Nusantara adalah markas pendukung berat Manchester United. Sebuah tim sepak bola terbesar di dunia.

“Kira-kira setahun yang lalu, kami memang mencari komunitas mana yang bisa diajak bermitra. Akhirnya ketemu sama JUI (Jogja United Indonesia), dan kita klop,” kenangnya.

Saat saya amati, setidaknya saya menemukan 4 buah spanduk yang mengitari ruang belakang. Kesemuanya ditempelkan oleh JUI. Kebetulan pula, seperti yang saya baca dari spanduk-spanduk itu, beberapa waktu yang lalu mereka baru saja mengadakan acara ulang tahun yang kelima.

Hadirnya JUI, membawa angin segar bagi Nusantara. Setiap akan ada big match, pertempuran Manchester United dan tim-tim raksasa lain, JUI akan melakukan pembahasan pre-match di Nusantara. Pembahasan menjelang big match paling tidak dilakukan sebulan sekali. Belum lagi jika JUI melakukan rapat-rapat rutin internal, Nusantara juga hampir dipastikan akan terisi penuh. Sedangkan bagi JUI, Nusantara sudah merupakan base camp. Jadi, Nusantara dan JUI seperti dua mata koin yang tidak terpisah.

Kedai Nusantara
Van Persie © Eko Susanto

Pertarungan dua raksasa bola tak hanya ditunggu oleh para penggila bola. Nusantara pun menantikan, terutama laga yang dilakoni Manchester United. Karena setiap akan diadakan nobar (nonton bareng), Nusantara akan menjual tiket menonton pertandingan.

Untuk tiket nobar pertandingan sebelum jam 24.00, tiket dihargai Rp 10.000,- untuk yang tidak memiliki kartu anggota JUI. Bagi yang memiliki, cukup membayar Rp 7.000,-. Sedangkan nobar setelah jam 24.00, baik member JUI atau bukan, cukup membayar Rp 5.000,- saja. Semua pemilik tiket akan mendapat minuman ringan untuk menemani menonton pertandingan.

“Rekor itu kemarin, mas. Ketika laga Chelsea vs Manchester United (28/10/2012). Pengunjung sampai 400an orang. Sampai penuh, gak ada tempat di sini,” kata Dodik. “Lho biasanya berapa mas yang datang?” tanya saya. “Biasanya 200 orang, jadi semua duduk, dapat tempat, tapi kemarin itu banyak yang berdiri,” lanjutnya.

Laga heroik yang dimenangkan oleh Manchester United dengan skor 3-2 tersebut menjadi patokan bagi Dodik dan manajemen. Mereka ingin pengunjung tetap Nusantara di hari biasa seperti ketika big match.

Sampai saat ini, Dodik memperkirakan, kalau rerata pengunjung mereka di hari-hari biasa adalah 70-80an orang. Itupun jika tidak hujan. Jika akhir pekan, tak perlu ditanya, selalu penuh.

Lekatnya JUI dan Nusantara membuat JUI melakukan segala proses admininstratif mereka di Nusantara. Selain rapat seperti yang sudah disebutkan, pendaftaran anggota juga dilakukan di sini. Para pengunjung yang tertarik untuk menjadi anggota bisa menghubungi waiter atau kasir Nusantara untuk kemudian dihubungkan kepada pengurus JUI. Singkatnya, kedua pihak ini saling melengkapi dan sama-sama memetik keuntungan.

* * *

Gabungan Black Avo dan corak Manchester United di Nusantara membuat malam saya menjadi berbeda. Saya kemudian berputar ke sisi belakang Nusantara, meninggalkan Dodik setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih dan pamit. Saya melihat berbagai macam merchandise dengan warna merah dan putih, sesuai warna seragam Manchester United.

Saat akan keluar, saya sempat menoleh ke arah salah satu spanduk di dekat giant screen. Saya sepakat dengan isinya: “We Proud To The Greatest Thing in Earth: Manchester United.”

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Arys Aditya

Penerjemah lepas dan sampai sekarang bergelut di Kelompok Belajar Tikungan Jember, Jawa Timur.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Je

    Tulisan ini membuat saya ingin segera balik ke Jogja dan mengunjungi Kenus, begitu saya menyebut Kedai Nusantara.
    Sekedar berbagi pengalaman, saya pernah beberapa kali mengunjungi Kenus saat ingin menikmati kopi khasnya, terutama ya itu, saat ada pertandingan MU.
    Bisa dibilang saya salah satu fans (karbitan) MU dan saya senang dengan adanya Kenus sebagai fan base nya.
    Tempatnya yang cozy, juga pelayanannya yang ramah dan cepat, dengan sajian kopi yang beragam dan fasilitas wifi, membuat saya betah berlama-lama nongkrong di sini.

    Tulisan yang bagus, Mas Adit. Ditunggu tulisan lainnya tentang kedai Kopi nya, sebagai referensi untuk saya kunjungi suatu saat.
    Terima kasih.