Munajat Perjalanan dan Kehidupan yang Dibangun Dari Nada

Membayangkan datang berdua ke pagelaran musik pasti menyenangkan. Malam itu, Kamis 28 April 2016 impian saya terkabul. Menyaksikan Resital Musik yang bertajuk ‘Munajat Perjalanan’ di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember (UJ). Sayangnya saya datang ke Resital Musik tersebut bersama seorang lelaki, Ary Yanuar Hidayat namanya.

Saya dan Ary sudah sampai di depan gedung PKM pukul 18.40 WIB. Ternyata pintu masuk belum dibuka dan penonton harus menunggu di luar gedung PKM untuk beberapa saat. Saya sempat lupa jika belum membeli tiket. Tapi Tuhan memang Maha Asik. Saya bertemu dengan salah seorang kawan yang menjadi kru panggung dalam acara tersebut. Dia memberi dua tiket secara cuma-cuma untuk saya dan Ary.

Resital Musik Munajat Perjalanan adalah pagelaran musik yang diinisiasi oleh beberapa musisi dari Jember dan Situbondo. Saya datang dengan keyakinan bahwa acara kali ini menawarkan pengalaman musik yang baru bagi diri saya. Walaupun saya belum tahu persis apa yang akan mereka mainkan meski sebelumnya sempat mencuri-curi dengar ketika para musisi itu sedang latihan.

Sepertinya acara tersebut sedikit molor karena sudah lebih dari jam 19.00 WIB, pintu gedung belum juga dibuka. Saya mulai menyalakan rokok sembari menunggu.

“Cuy, pintunya sudah dibuka.” Saya dikagetkan oleh suara Ary.

Kami berdua pun berjalan menuju pintu masuk.

“Tiketnya distempel dulu ya mas.” Langkah saya dihentikan oleh resepsionis.

“Ini tiketnya hanya untuk satu hari ya, mbak?”

“Iya mas, kalau besok mau lihat lagi bisa beli langsung di sini.”

Resital Musik ini memang diadakan selama dua hari mulai tanggal 28 – 29 april 2016 yang juga akan diisi oleh workshop musik ilustrasi pada siang hari, tanggal 29 .

Saya dan Ary pun masuk ke dalam gedung PKM. Gelap menyapa kami, hanya ada beberapa lampu yang menyorot ke arah panggung. Konsep acara Resital Musik tersebut sungguh sederhana. Penonton duduk lesehan di lantai. Saya dan Ary memilih tempat duduk paling depan, tepat di depan panggung. Langsung saja mata saya menelanjangi panggung: ada kendang, piano, lemari dengan beberapa buku yang tak tertata rapi, sapek alat musik petik dari Suku Dayak. Juga ada saxophone dan guci besar berisi bermacam-macam jenis seruling. Panggung bagian belakang dihiasi ornamen yang berbentuk layaknya sebuah perahu dengan suara ricik air yang tak putus-putus.

Saya melamun dan menebak-nebak musik seperti apa yang akan dimainkan oleh para musisi itu dengan alat musik tradisional Indonesia dan alat musik dari luar negeri tersebut. Tapi tiba-tiba lamunan saya buyar ketika pembawa acara masuk ke panggung. Astaga, salah satu dari dua orang pembawa acara itu adalah mantan pacar saya, yang beberapa minggu yang lalu mengalami kecelakaan dan saya belum sempat menjenguknya. Saya merinding, malam itu dia terlihat lebih manis dari biasanya. Ah, mungkin karena efek lampu.

Pembawa acara membuka acara Resital Musik Munajat Perjalanan
Pembawa acara membuka acara Resital Musik Munajat Perjalanan © Mohammad Sadam Husaen
Lahindra memainkan piano klasik sebagai penampilan pembuka
Lahindra memainkan piano klasik sebagai penampilan pembuka © Mohammad Sadam Husaen

Acara dibuka dengan permainan piano klasik. Lahindra dan Aying, begitu pembawa acara memangil namanya. Mereka adalah dua remaja yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas di Situbondo. Kedua remaja tersebut adalah anak didik dari salah satu musisi yang akan tampil malam itu, yaitu Panaka Jaya, seorang pemain piano klasik dari Situbondo.

Lahindra dan Aying bergantian memainkan piano klasik. Aying mendapatkan giliran pertama dengan membawakan Moonlight Sonata milik Beethoven. Jari-jari Aying yang menindih tuts piano terlihat jelas dari tempat duduk saya. Dia begitu cekatan memainkan instrumen yang dibuat Beethoven untuk muridnya yang bernama Countess Giulietta Guicciardi. Beethoven membuat komposisi itu pada tahun 1801 sebagai wujud cintanya pada Giulietta yang tak bisa bertahan, karena status sosial mereka berdua. Beethoven seorang rakyat biasa, sedangkan Giulietta anak seorang bangsawan.

Saya kagum dengan lentiknya jari jemari Aying, juga pada Beethoven yang membuat dan menghadiahkan sebuah komposisi pada wanita yang dicintainya walaupun dia sudah mulai beranjak tuli. Saya melamun, mencoba menikmati Aying yang sedang memainkan piano sembari memejamkan matanya. Moonlight Sonata pun berakhir dan dilanjutkan dengan Claudine, karya Maksim Mrvica. Jemari Aying kembali melompat-lompat di atas tuts piano. Saya dibuat tenggelam oleh permainan remaja berbakat tersebut.

Setelah selesai memainkan Claudin dan sukses membuat saya tenggelam, Aying berdiri lantas membungkukkan badan ke arah penonton dan berlalu ke belakang panggung. Giliran Lahindra bermain. Sonatina in C Major Op. 36 No. 3 milik Clementi adalah komposisi pertama yang dibawakan Lahindra.

Lalu Fur Elise milik Beethoven menjadi komposisi kedua yang dibawakan oleh Lahindra. Perasaan saya mulai diaduk-aduk. Setelah mendengarkan Sonatina No. 3 yang ceria, saya dibawa Lahindra menuju Beethoven yang kehidupannya selalu tragis dan mengenaskan. Fur Elise adalah salah satu komposisi yang diciptakan Beethoven atas dasar cinta yang gagal. Malam itu perasaan saya benar-benar dipermainkan. Fur Elise dan mantan pacar yang jadi pembawa acara, nikmat tuhan mana lagi yang saya dustakan malam itu.

Nocturne In E Flat Major Op. 9 No. 2 milik Frederic Chopin dimainkan Lahindra untuk menutup penampilan pembuka dari dua orang pianis muda yang berhasil membawa saya tenggelam malam itu.

“Tiba saatnya kita masuk pada acara utama, penampilan dari lima musisi dari Jember dan Situbondo yang akan membawakan 7 repertoar musik dalam Munajat Perjalanan.”

Pembawa acara kembali masuk ke panggung.

“Oke, mari kita panggil satu per satu kelima musisi tersebut.”

Ali Gardy, musisi asal Situbondo adalah yang pertama dipanggil dan masuk ke panggung dengan membawa botol plastik besar berisi air. Dia kemudian duduk di tempat yang berdekatan dengan sapek dan saxophone. Selanjutnya adalah Panaka Jaya yang memasuki panggung membawa teko keramik serta gelas kecil dan langsung duduk di depan piano.

Kemudian Dani Al Pratam atau akrab dipanggil Kakak Bangga, dia adalah vokalis band etnik fushion asal Jember, yaitu Sansekerta. Tawa memenuhi gedung PKM ketika Dani memasuki panggung. Handuk melingkar di lehernya, satu tangan memegang ember sedang tangannya yang lain memegang gelas plastik berisi kopi. Lalu selanjutnya giliran Taufiq Mubaroqi alias Polem, begitu dia akrab dipanggil. Polem juga salah satu personil dari Sansekerta. Dia masuk panggung membawa guci keramik dan langsung duduk menghadap kendang.

Dan yang terakhir memasuki panggung adalah Ghuiral Hilanda. Ketika namanya dipanggil sorak sorai penonton begitu riuh. Ghuiral adalah salah satu Mahasiswa Fakultas Sastra UJ dan Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Dewan Kesenian Kampus. Saya hanya bisa tertawa ketika melihat Ghuiral, karena setelan pakaian putih dan sorban yang melilit kepalanya terlihat kurang cocok dia pakai. Ghuiral pun duduk di tempat yang berdekatan dengan guci besar yang berisi bermacam-macam seruling.

“Marilah kita saksikan, Resital Musik Munajat Perjalanan.” Pembawa acara pun meninggalkan panggung setelah kelima musisi menempati tempatnya masing-masing.

Ali kemudian mengambil alih microphone, dan mengatakan bahwa hidup adalah sebuah repetisi musikal. Setiap kehidupan penuh dengan bebunyian yang diulang-ulang setiap harinya. Kelima musisi itu pun mulai memainkan repertoar pertama, yaitu Munajat Perjalanan.

Panaka Jaya mulai menekan tuts pianonya. Ali terlihat sedang mempersiapkan flute, sedangkan Ghuiral mulai memainkan Saluang, seruling tradisional dari Minangkabau. Perpaduan bunyi piano dan saluang pun mengalun dengan merdu. Bunyi flute menyusul dengan irama yang mirip dengan seruling Sunda. Ini adalah pengalaman pertama saya menonton serta mendengar perpaduan alat musik tradisional Indonesia dan alat musik dari barat. Dani mulai menyanyikan lagu Tanah Air karya Ibu Sud dan dilanjutkan dengan mengajak penonton untuk bermunajat bersama.

“Mari kita bermunajat, mari kita bermunajat…” Munajat perjalanan pun diakhiri dengan lengkingan saluang dari Ghuiral.

Memainkan repertoar Desah Sepertiga Malam dengan instrumen suara dari plastik dan botol
Memainkan repertoar Desah Sepertiga Malam dengan instrumen suara dari plastik dan botol © Mohammad Sadam Husaen
Ali Gardi dan Ghuiral Hilanda sedang memainkan alat musik tradisional Indonesia
Ali Gardi dan Ghuiral Hilanda sedang memainkan alat musik tradisional Indonesia © Mohammad Sadam Husaen

“Selanjutnya adalah Desah sepertiga Malam, sebuah komposisi musik yang berada pada frekuensi terendah pendengaran manusia.” Ali memberi pengantar sebelum mereka memainkan Desah Sepertiga Malam.

Satu persatu dari kelima musisi tersebut meninggalkan tempatnya masing-masing, mereka maju ke depan lalu duduk bersila di dekat penonton. Penonton senyap, suara ricik air terdengar makin nyaring. Panaka jaya menuangkan air ke gelas kecil dari teko keramik yang dibawanya, kemudian meminumnya. Polem menenggak air yang ada di dalam guci keramik. Dani menyeruput kopi yang dia bawa. Ali meremas botol plastik, kemudian meminum air yang ada di dalamnya, sedangkan Iral entah dia mendapatkan gelas darimana tapi tiba-tiba dia sudah mengangkat gelas dan meminum air yang ada dalam gelas tersebut.

Kemudian mereka berlima mengeluarkan plastik dari saku masing-masing. Saya bingung sebenarnya, komposisi apa yang sedang mereka mainkan. Mereka mulai memaikan plastik tersebut “kresek…kresek…kresek…” Suara plastik diremas terdengar semakin cepat, tangan mereka berlima diangkat bersamaan dan sejurus kemudian mereka menepukkan tangan dan berhenti memainkan plastik secara bersamaan.

“Itulah tadi Desah Sepertiga Malam, komposisi musik dalam frekuensi terendah pendengaran manusia yang menggambarkan suasana pada sepertiga malam.” Ali berbicara setelah mereka berlima kembali ke tempat masing-masing. Saya hanya bisa mlongo kala itu. Tapi hal tersebut tak berlangsung lama, karena repertoar selanjutnya akan segera dimainkan.

Repertoar ketiga yang berjudul Fragmen adalah komposisi milik Jaya Suprana yang diaransemen ulang oleh kelima musisi tersebut. Mereka menambahkan instrumen kendang dan genggong, alat musik tradisional dari Bali yang mirip dengan karinding. Getaran genggong yang dimainkan Ghuiral menghasil suara sengau mengawali Fragmen, kemudian Panaka Jaya mulai menekan tuts pianonya bersamaan dengan tabuhan kendang dari Polem. Fragmen berubah menjadi musik yang enerjik dengan iringan dentuan kendang.

Fragmen berakhir dan dilanjut dengan Sunda Aeropa. Ali kembali menjelaskan kepada penonton tentang komposisi yang akan mereka mainkan.

“Sunda Aeropa adalah sebuah perpaduan antara musik Sunda dan Eropa. Karena musik akan selalu dipengaruhi oleh letak geografisnya. Maka kami mencoba memadukannya.”

Saxophone mulai dipersiapkan oleh Ali sedangkan Ghuiral sedang sibuk membenahkan mulutnya pada lubang seruling. Sunda Aeropa pun dimulai. Suara kendang, piano, saxophone dan seruling beradu menjadi sebuah komposisi musik yang menyenangkan. Sekali lagi ini pertama kalinya saya mendengarkan musik yang dihasilkan dari pertemuan budaya etnik dan budaya modern.

Sunda Aeropa selesai dan Dani mulai menyalakan rokoknya, tenyata ember yang dia bawa difungsikan sebagai asbak. Asik betul memang konsep acara malam itu. Kali ini Kembang Moljhe yang akan dibawakan oleh mereka. Kembang Moljhe adalah bahasa Madura dari bunga mulia. Ali mengatakan bahwa ada banyak sekali bunga dengan berbagai nama, tapi setiap bunga punya sifat masing-masing, begitupun juga dengan manusia. Kali ini Ali mengambil sapek yang berada di sampingnya. Tapi ada yang aneh, sapek itu tidak diposisikan di pangkuannya layaknya alat musik petik. Sapek dipegang dengan posisi berdiri, kemudian Ali mengambil alat penggesek biola dan mulai menggesek sapeknya. Suara melengking muncul memenuhi gedung.

Gaya musik ambient pun disuguhkan lewat Kembang Muljhe. Efek digital dipakai Ali untuk merekam gesekan sapeknya, kemudian sapek dipetik dan kembali direkam. Suara sengau dari mulut para musisi muncul menciptakan suasana yang tenang dan cenderung membuat saya mengantuk. Sampai Kembang Muljhe selesai tak ada instrumen lain yang dimainkan kecuali sapek, efek digital dan beberapa kali suara karinding dan genggong.

Tim Munajat Perjalanan ketika memainkan repertoar Kembang Moljhe
Tim Munajat Perjalanan ketika memainkan repertoar Kembang Moljhe © Mohammad Sadam Husaen
Tim Munajat Perjalanan ketika memainkan repertoar Kembang Moljhe
Tim Munajat Perjalanan ketika memainkan repertoar Kembang Moljhe © Mohammad Sadam Husaen

Lalu repertoar selanjutnya adalah Motherise. Kali ini kelima orang yang ada di panggung memainkan alat musik. Ali memainkan sapek, Ghuiral memaikan seruling, Dani memainkan alat musik mirip karinding tapi berbahan logam, Panaka Jaya memainkan piano dan Polem memainkan kendangnya.

“Mirip soundtracknya Uttaran cuy.” Ary berbisik pada saya.

Saya bingung seketika, karena saya sama sekali tak pernah mendengarkan soundtrack Uttaran. Tapi bebunyian yang muncul saat Motherise dimainkan adalah bebunyian yang membuat saya merasa tenang. Suara seruling yang melantun dengan tempo pelan, diiringi dengan petikan sapek dan disahuti oleh pukulan kendang yang halus serta piano yang membuat musik yang muncul terdengar mewah.

Ghuiral selaku komposer dari Motherise mengungkapkan bahwa Motherise adalah sebuah konsep dalam psikologi yang mengungkapkan tentang komunikasi verbal seorang ibu dengan bayinya. Selain itu komposisi dalam Motherise juga diinspirasi dari kronologi kelahiran seorang bayi dan bagaimana gelap terang proses awal kehidupan.

Lalu Ali mengambil alih lagi microphone. Ali mengungkapkan bahwa kebudayaan Indonesia dilihat semakin kesini semakin miris karena tidak begitu dihargai. Lalu dia juga mengungkapkan misinya untuk mengkampanyekan keragaman budaya Indonesia lewat musik agar kebudayaan di Indonesia bisa bersinergi.

“Saya yang berdarah asli Madura, malam ini dan di sini memainkan sapek dari Dayak. Kebudayaan tak perlu terkotak-kotak, karena Indonesia sangat kaya akan kebudayaan.”

Ali memberikan gambaran tentang banyaknya perbedaan yang tak perlu dijadikan akar permasalahan. Bahkan perbedaan tersebut bisa melandasi kehidupan yang harmonis. Seperti musik, banyak instrumen yang dimainkan tapi bisa menyatu dan menjadi nada-nada yang indah. Mungkin begitulah demokrasi seharusnya dipahami. Sebelum memainkan reportoar terakhir yang berjudul MeNyatu, Ali mengajak para penonton untuk bisa menghargai perbedaan dan bisa menyatukan berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia.

Ghuiral dan Ali pun memainkan seruling bersamaan, lalu suara piano dan kendang menyusul.

“Semoga semua penonton dan semua budaya di Indonesia bisa menyatu dan semakin berkembang.” Dani mengawali MeNyatu dengan harapan yang indah dan disambut tepuk tangan meriah dari penonton.

MeNyatu dimainkan, suara seruling yang dimainkan Ghuiral dan Ali bersahut-sahutan. Polem memukul kendang dengan penuh semangat. Panaka Jaya memainkan pianonya dan Dani melantunkan nada-nada tinggi. Resital Musik Munajat Perjalanan pun ditutup dengan penampilan yang sempurna oleh mereka berlima. Selain itu apa yang menjadi tujuan utama saya melihat Resital Musik itu pun tercapai, yaitu mendapatkan pengalaman musik yang baru. Bahwa perjalanan hidup adalah lantunan musik yang tak pernah saya sadari.

Resital Musik Munajat Perjalanan pun usai dan pembawa acara menutup acara serta mengingatkan bahwa masih ada penampilan kedua untuk para penonton yang ingin menikmati ulang. Setelah selesai lampu gedung PKM pun dinyalakan dan semua musisi berbaur dengan penonton, bersalaman, berpelukan dan berfoto bersama. Malam itu begitu indah, tapi sayangnya teman nonton saya adalah seorang lelaki.

Mohammad Sadam Husaen

Salah satu pengelola siksakampus.com yang bercita-citanya menjadi pokemon trainer.