MUI, Starbucks, dan Sertifikasi Halal

Beberapa waktu lalu seorang kawan mengajak ngobrol tentang sertifikat halal yang dikeluarkan MUI. Kemudian saya teringat jika sertifikat halal baru saya diberikan oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) kepada Starbucks Coffee Indonesia.

Penyerahan sertifikat halal ini dilakukan di outlet Starbucks Botani Square Bogor, Jawa Barat, akhir Oktober tahun lalu. Sebanyak 176 gerai Starbucks yang tersebar di Indonesia akan diberikan label halal. Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim, seperti dikutip beberapa media mengatakan jika sebelumnya sempat beredar pesan berantai yang mengatakan beberapa merek bakery dan Starbucks yang diragukan kehalalannya.

“Mulai hari ini umat Islam tidak perlu khawatir lagi dengan menu-menu yang disajikan Starbucks karena halal,” kata Lukman.

Masih banyak kedai kopi yang belum disertifikasi halal. Semoga setelah Starbucks meraih sertifikat halal ini akan diikuti kedai-kedai kopi lainnya.

Saya bertanya-bertanya, adakah sertifikasi halal yang diberikan MUI kemudian benar-benar menjamin semua produk yang terjual di sana menjadi halal? Saka kira tidak juga. Bisa jadi produk Starbucks menjadi haram bilamana mereka tidak membayar petani dengan harga yang layak atau ada unsur penipuan dalam transaksi jual beli kopi.

Dalam agama Islam, kebenaran hukum tidak ada yang tahu pasti selain Tuhan. Manusia hanya bisa menafsir, mempertimbangkan berdasarkan pakem metodologis dan syar’i. Selebihnya, hanya Tuhan yang tahu, bahkan MUI tidak bisa masuk ke wilayah ini.

Kopi
Kenikmatan kopi bukan hanya diperoleh dari kualitas kopi yang prima, tapi juga dari proses dagang yang saling menguntungkan bagi petani. © Nody Arizona

Dan apakah saat saya minum kopi di kedai kopi di pinggir jalan ataupun di pinggir sawah di sebuah desa yang entah apa, yang sangat mustahil mendaftar dan dapat sertifikasi halal dari MUI kemudian saya ragu-ragu meminum kopi? Jawabnya, tidak juga. Saya akan tetap menikmati kopi dengan tu’maninah di manapun itu. Perlahan-lahan menyeruput kopi sembari mengisap kretek. Dua hal yang bagi saya, tidak bisa terpisahkan.

Biar saja Starbucks yang mengantongi sertifikat halal dari MUI. Kedai kopi lainnya tidak perlu ambil pusing dengan sertifikat semacam itu. Toh penikmat kopi, seperti saya, cenderung memesan kopi gayo, java, kalosi, papua, dan semacamnya, bukan kopi bersertifikat halal.

Menurut saya, ada kebutuhan yang lebih mendesak, juga lebih bermanfaat bagi para pemilik kedai kopi, daripada mendapat sertifikasi halal dari MUI. Para pemilik kedai meluangkan sedikit waktu dan tenaga untuk datang ke kebun kopi, ke petani, memberikan pengetahuan mengenai cara budidaya kopi yang baik, spesifikasi kopi yang berkualitas prima, dan kemudian membangun sistem transaksi di mana kedua pihak sama-sama menguntungkan.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.