Modrockers, Pesta Kebun di Malam Hari

Cuaca Jember sedang dingin. Saya dan suami, yang kebetulan sedang beraktivitas di luar rumah, mencari tempat bercengkrama dengan suasana hangat untuk setidaknya mengusir tubuh yang mengigil. Ditemani lima pemuda dari desa di sekitar rumah —Desa Ajung, Kecamatan Kalisat—kami berangkat ke tempat nongkrong baru di Kota Jember, Modrockers Inc.

Informasi awal mengenai tempat ini kami dapat dari akun Instagram seorang kawan yang juga salah satu pengelola di sana. Modrockers Inc merupakan sebuah tempat nongkrong yang dikonsep secara unik. Keterangan incorporation boleh jadi merupakan penanda patungan modal usaha serta gagasan kolektif. Ketika kami ke sana, kedai yang buka pada 12 Agustus tersebut masih dalam tahap soft launching. Begitu masuk, langsung jelas terlihat ada ragam suasana. Kentara jika Modrockers berupaya untuk menampung banyak ide.

Lokasi yang dipilih pun sengaja sedikit menjauh dari hiruk-pikuk perkembangan tongkrongan yang terpusat di wilayah kampus. Modrockers menempati sebuah rumah berarsitektur kuno di bilangan Jalan Moch. Sroedji, hanya berjarak 2 kilometer dari alun-alun Jember.

Di bagian belakang ada dua pohon beringin yang besar. Ada sebuah pendopo berukuran 4×5 meter yang bisa digunakan untuk pentas musik sederhana atau diskusi. Tempatnya luas dan memanjang ke bagian belakang. Arsitekturnya lekat dengan gaya jadul. Ada pajangan keramik di dinding, mug blurik yang ditata sedemikian rupa serta poster film jadul yang dicetak di atas banner. Perabotannya juga terlihat tua, ada piano dan beberapa kursi gaya lama. Lampu-lampunya juga ditata sedemikian rupa sehingga menciptakan suasana hangat. Seperti pesta kebun di malam hari. Sayang sekali, masih ada beberapa kursi plastik yang sedikit mengganggu pemandangan dan tidak kompak dengan dekorasi.

Ada lima macam gerai dalam naungan Modrockers. Dari pintu masuk kita disambut dengan barbershop yang satu ruangan dengan shop care, tepat di seberangnya ada food supply dengan sajian makanan racikan sendiri. Kemudian Srawung Kopi —yang digawangi oleh Pak Caplin—yang mulai dikenal oleh para pencinta kopi di Jember. Lalu Dustank Art Factory dengan segala kreasi seninya. Kemudian yang terakhir adalah bengkel Kustom Bike.

Begitu mendengar Srawung Kopi pindah di sana, saya sendikit terkejut. Tapi saat melihat sendiri lokasi dan suasananya, saya jadi mengerti kenapa ia bisa duduk ‘anteng’ di tempat ini. Dahulu, ketika Srawung Kopi masih di emperan kaki lima saya susah menemukan konsistensi Pak Caplin dalam membuka warung. Misalkan hari ini buka, lalu seminggu lamanya ia menutup warung. Hehe. Padahal banyak orang yang tertarik untuk cangkruk dan minum kopi di sana. Lama aya tidak mendengar kabarnya. Ketika berkunjung ke Modrockers kami kembali saling bertukar kabar dan berbagi cerita. Ia juga membuatkan kami kopi. Rasanya pun tak berubah, khas sekali.

“Saya tertarik gabung di sini karena masih dalam satu visi dan misi yang sama. Saya suka dengan konsep yang mereka buat. Kebetulan yang mengajak saya adalah anak-anak muda kreatif yang ingin punya usaha namun terbentur keterbatasan modal. Saya selalu suka dengan anak muda yang gairah kreatifitasnya terjaga,” ungkap Pak Caplin ketika saya menanyakan tentang alasan bergabung dengan Modrockers.

Pak Caplin sendiri saya kenal sebagai pribadi yang unik. Bagi saya, hanya orang hebat yang bisa mengajak Pak Caplin untuk buka lapak bersama. Sebab, ia seorang pencinta kopi yang punya visi berbeda, berpandangan jauh ke depan sekaligus humanis dan seringkali mencari inspirasi dari masa lalu. Setidaknya, Modrockers mampu menampung ide dan berjalan beriringan dengannya.

Modrockers Inc
Dustank Art Factory © Zuhanna Priit
Modrockers Inc
Barbershop. Anda bisa sekalian potong rambut. © Zuhanna Priit

Obolan menjadi semakin hangat ketika Ivan Aditya —Public Relation sekaligus Marketing Modrockers—turut bergabung bersama kami. Modrockers ini digawangi oleh tiga orang yang mencita-citakan tempat nongkrong cerdas dan kreatif. Mereka adalah Ivan Aditya, Ayik dan Dimas. Mereka bertiga meracik sedemikian rupa konsep yang diinginkan hingga menjadi seperti sekarang. Semuanya dibangun secara kolektif karena memang ada keterbatasan dana untuk merangkai banyak keinginan. Mulai dari tataletak dan perabotan dikerjakan sama-sama dengan gembira.

“Sekarang ini banyak tempat nongkrong mewah, asyik dan enak. Tapi yang cerdas, bisa dihitung dengan jari. Karena itu, tempat ini kami cita-citakan ke arah sana. Memang sengaja tidak pasang Wi-fi. Ini kan tempat ngobrol. Ya ngobrol secara nyata dong, masak lewat hape! Ini juga kami buat seperti ini, agar sesama pengunjung bisa guyup dan rukun. Sama halnya dengan gagasan kolektif, di sini semuanya setara tak ada bos tak ada jongos. Untuk menu, semua yang ada di sini taste of handmade. Kita mencoba memproduksinya sendiri dari tangan kita,” Jelas Ivan.

Modrockers Inc
Pak Caplin, duduk paling kiri, di kedai barunya © Zuhanna Priit

Ada beberapa menu yang menarik untuk dicoba di sini. Srawung Kopi sendiri menyediakan aneka varian kopi yang diracik Pak Caplin. Jika tidak kuat dengan aneka varian kopi yang disajikan, kopi tubruk Srawung Kopi juga punya karakter khas yang layak dicoba. Sedangkan di bagian food supply saya belum pernah mencoba makanannya.

Tapi ada satu minuman yang menarik. Beer pletok. Ya, minuman ini lekat dengan masyarakat Betawi. Dahulu disajikan sebagai bentuk protes terhadap pestapora yang dilakukan oleh penjajah Belanda. Setiap berpesta para bangsawan Belanda selalu meminum berbotol-botol wine. Masyarakat Betawi yang pada masa tersebut rata-rata muslim menganggap kebiasaan itu sangat bertolakbelakang dengan syariat agama. Karena itu, mereka memproduksi sendiri minuman yang warnanya sejenis dengan wine. Dibuat dengan aneka rempah-rempah yang tentu saja tidak memabukkan tapi malah menyehatkan. Sampai saat ini, beer pletok selalu disajikan di hari-hari istimewa orang Betawi.

Menjadi sangat menarik ketika Modrockers menghadirkan minuman tersebut di wilayah Jember yang hanya punya riwayat perihal penjajahan. Beer pletok Modrockers ini diproduksi sendiri mulai dari botol sampai label dan desain kemasan.

Jika kebetulan singgah atau berencana mengunjungi Jember, tidak ada salahnya bila sejenak melepaskan lelah di tempat ini. Melihat orang-orang berjiwa muda, berani, mandiri, dan kreatif menuangkan gagasannya dalam aneka ragam selera.

Oiya, bukanya dari jam 18.00 sampai 24.00 WIB.

Tabik.

Zuhana AZ

Pendengar dan penulis kisah. Rakyat biasa, mencintai suami, kopi dan senja.