Mlosok, Ngopi, Ngangeni

Gamblong bakar dan kopi robusta dan arabica sirap
Gamblong bakar dan kopi robusta dan arabica sirap. | © Agil Widiatmoko

Gunung Kelir yang terletak di Jambu, Kabupaten Semarang memiliki beberapa potensi. Salah satu potensi yang mulai dikembangkan oleh masyarakat yang bermukim di lereng gunung Kelir adalah kopi. Budidaya kopi yang sudah menjadi produk dari lereng kelir mulai dikembangkan menjadi sebuah wisata yang menggabungkan antara perkebunan kopi dan juga kafe yang diberi nama “Doesoen Kopi Sirap”.

Sudah sejak satu bulan yang lalu kawasan ini dibuka. Jika di beberapa daerah menggunakan nama kampung kopi, maka masyarakat menggunakan nama Doesoen Kopi Sirap agar terlihat berbeda dengan yang lainnya. Sirap sendiri merupakan nama sebuah dusun yang terletak di lereng gunung Kelir.

Menuju ke Doesoen Kopi Sirap memang terbilang pelosok. Sampai-sampai slogan yang dikembangkan adalah “Mlosok, Ngopi, Ngangeni”. Tidak dapat dimungkiri, jika pengunjung yang belum terbiasa dengan medan ekstrim berupa tanjakan-tanjakan, akan cukup terkejut dengan jalanan yang dilalui. Namun, pengunjung juga akan di manjakan oleh pemandangan alam berupa hijaunya pohon-pohon, maupun perkebunan kopi milik warga disepanjang jalan menuju Doesoen Kopi Sirap.

Pemandangan tampak atas Doesoen Kopi Sirap
Pemandangan tampak atas Doesoen Kopi Sirap | © Agil Widiatmoko

Doesoen Kopi Sirap menyediakan kopi yang langsung dihasilkan dari kelompok tani di sekitar wilayah tersebut, mulai dari kopi arabika sirap dan juga kopi robusta sirap. Bahkan kelompok tani yang bernama Kelompok Tani Rahayu IV menjadi penggerak berdirinya Doesoen Kopi Sirap. Komoditi kopi robusta memang menjadi yang paling banyak di sini, lantaran kondisi geografis yang mendukung yaitu di ketinggian 800 mdpl.

Cukup membayar Rp10.000 kita bisa menikmati Kopi Sirap Robusta/Arabika ditambah ada camilan pelengkap berupa gamblong bakar/panggang atau bisa memilih telo badheg/bakar. Tidak hanya itu saja, sepanjang mata memandang dari tempat kita memesan kopi tersebut, kita juga bakal disuguhkan hamparan perkebunan kopi.

Saya tertarik untuk memesan keduanya, kopi robusta sirap dan kopi arabika sirap. Aroma mocca akan terasa menggoda tatkala mengirup aroma yang keluar dari secangkir kopi robusta sirap. Kopi robusta sirap, memang di kenal memberikan aroma mocca yang kuat. Aroma mocca sudah menjadi karakteristik yang melekat ke dalam kopi robusta sirap. Sebagai pelengkap saya memesan gamblong bakar. Gamblong yang berbahan dasar ketela dibuat oleh masyarakat sekitar.

Kebun kopi
Kebun kopi | © Agil Widiatmoko
Jembatan bambu di tengah kebun
Jembatan bambu di tengah kebun | © Agil Widiatmoko

Selesai menikmati secangkir kopi, saya tak langsung beranjak pulang. Tapi mencoba berkeliling di perkebunan kopi. Ada beberapa titik yang membuat mata tertarik untuk menuju tempat itu. Yang pertama adalah jembatan bambu di atas jalan. Melihat dari bawah, ada beberapa pengunjung lain, yang berdiri di atas jembatan itu. Mereka berfoto ria untuk mengabadikan momen dengan latar belakang perkebunan kopi.

Spot yang kedua adalah gardu pandang. Pengunjung yang akan menikmati pemandangan dari gardu pandang harus memanjat tangga dengan kemiringan hampir 90 derajat. Bisa dibayangkan, betapa adrenalin kita terpacu untuk bisa melewati tangga agar sampai ke gardu pandang tersebut. Dari atas gardu pandang, kita bisa melihat Doesoen Kopi Sirap secara menyeluruh. Mulai dari cafe, kebun kopi, sampai kalau beruntung bisa menikmati senja dari gardu pandang tersebut.

Para pengunjung tidak hanya di manjakan dengan secangkir kopi dan juga pemandangan kebun kopi. Doesoen Kopi Sirap juga menyediakan fasilitas edukasi kepada pengunjung yang berniat belajar tentang kopi. Proses edukasi yang ditawarkan mulai dari pembibitan, budidaya, paska panen, dan penyeduhan.

Agil Widiatmoko

Penulis yang masih berproses di GMNI Komisariat UNY