Mitos Mistis Kedasih

Tidak ada yang sepenuhnya percaya pada mitos. Beberapa menyebutnya sebagai takhayul. Beberapa juga menyebutnya sebagai kearifan lokal. Terlepas dari anggapan itu semua, kisah mistis ini bernilai.

Unggas mungil bersuara merdu: Kedasih (Cingcuing) memiliki kisah mistis yang melegenda. Ini tidak jauh beda dengan kisah burung gagak, atau risiko setelah menabrak seekor kucing yang melintas di jalanan.

“Suara burung itu tidak akan pernah dianggap wajar. Jika burungnya berkidung dalam kesunyian dari sebelah utara, maka bersiaplah mendengar kabar kematian dari sebelah selatan. Begitu pula sebaliknya. Kau tidak akan pernah merasa damai dengan suara magis itu.”

“Tapi, sudah pernah kejadian?”

“Selalu seperti itu. Jika ada yang menjual unggas terkutuk itu di pasar, saya berani bayar dua kali lipat! Tidak ada yang mau memperjual-belikan unggas mistis itu bahkan jika ada yang ingin membelinya dengan harga selangit. Itu sama saja kau menjual nyawa. Jika kau mendengarnya sebelum adzan maghrib, maka bersiaplah ada keluarga yang berduka-lara di malam harinya.”

Bulu kuduk saya bergidik mendengar cerita anyar ini. Setahu saya, burung pembawa kabar duka hanyalah gagak. Itupun tidak selalu erat kaitannya dengan sebuah berita duka. Boleh jadi itu hanya suara alam seekor unggas yang memang ingin bersorak tanpa memberi isyarat apapun. Cukup sampai di situ.

“Bagaimana dengan orang yang tidak percaya? Ini kan hanya mitos!” Saya menuangkan kopi tubruk dari teko untuk yang kedua kalinya. Aroma mendamaikan sejenak sambil menunggu ampas surga itu turun perlahan ke dasar gelas. Asapnya tidak terkalahkan oleh hawa pagi yang dingin.

“Boleh saja kau bilang itu mitos. Tapi, tidak ada lagi yang berani melanggarnya. Pernah ada sebuah kejadian ketika tetangga saya yang masih segar bugar di sore harinya, lalu malamnya dia sudah dikabarkan meninggal dunia dengan kematian yang tidak wajar. Wajahnya membiru.” Panjul melanjutkan.

“Beberapa hari setelahnya, istrinya juga meninggal akibat serangan jantung. Kata warga, mereka kualat. Tidak mau mendengarkan perintah orang terdahulu.”

“Mereka menjualnya?!” Saya terbelalak.

“Mereka memeliharanya. Beberapa orang sudah melarang tapi tidak dihiraukan.” Panjul berhenti sejenak dan menyulut rokoknya.

“Sebelumnya, burung Kedasih atau Cingcuing itu berkicau setelah subuh. Dua jam kemudian, tiap surau perkampungan ini sudah mengumumkan berita kematian. Seorang remaja meninggal akibat jatuh dari pohon  jambu biji. Beberapa hari setelahnya, ada yang mati tertabrak becak.”

“Tapi itu kan wajar. Becaknya bisa saja melaju dengan kencang.”

“Di perkampungan ini tidak ada becak sejak tahun 1998 pasca kerusuhan.”

“Lalu itu becak siapa?”

“Tidak ada yang tahu penabrak atau pemilik becak itu. Kejadiannya sudah larut malam. Beberapa mengatakan ini akibat dari piaraan tetangga saya.”

“Tidak ada yang berusaha mengusir mereka? Toh jika di sini percaya akan cerita itu dan merasa terancam oleh kehadiran Cingcuing, harusnya diusir.”

Panjul tersenyum masam namun tatapan matanya mengiba.

Burung Kedasih
Burung Kedasih | Sumber: Wikipedia

“Dik, semua punya takdir masing-masing. Jika mereka memelihara Cingcuing dan mereka kualat, ya itu sudah keputusan Tuhan. Ingatlah Dik, semuanya sudah diatur. Termasuk jika Cingcuing yang menyebabkan dua kematian warga kami secara tidak wajar.”

“Berarti Cingcuing hanyalah burung biasa! Tidak ada mistis-mistisnya. Perkara macam apa yang ada hubungannya antara kematian seseorang dengan seekor burung biasa!”

Tangan saya berkeringat. Matahari perlahan naik dari ufuk timur pertanda sebentar lagi akan banyak petani yang berlalu-lalang melewati jalanan kecil di samping kanan vila kami di bawah kaki gunung Cikuray-Garut.

Panjul terkekeh. “Rupanya kau belum paham juga, Dik. Mertua saya pernah mencuri dan membuang Cingcuing itu beserta kandangnya ke hutan.”

“Kemudian?” Mata saya menyipit.

“Esok paginya burung sialan beserta kandangnya masih utuh di tempat semula dan bersuara makin melengking. Mereka terikat janji.”

“Janji? Janji apa? Pesugihan? Aneh!”

Panjul terkekeh kembali. Kali ini wajahnya memerah. Ada hal yang ingin diungkapkan namun tertahan.

Hening.

“Kalau saya memeliharanya?”

“Silakan saja. Untuk zaman sekarang ini, mitos hanya dianggap sebagai bualan  atau omong kosong belaka. Sisanya, kau tanggung sendiri akibatnya.”

Saya hampir tersedak kopi yang diminum. Terdengar kidung itu melengking pelan di kejauhan.

“Berarti sebentar lagi akan ada kabar duka?”

“Iya. Bersiaplah!”

Tika Abdul Aziz

Penikmat gravitasi, kopi, malam, dan kamu. Tulisan yang lain di www.aziztimur.id.