Minum Kopi di Waroenk Batok

Waroenk Batok
Waroenk Batok © Yuni Kusuma Wardani

Menyukai akan sesuatu hal tanpa alasan yang jelas terkadang menjadi pertanyaan banyak orang. Orang lain yang selalu kepo sering kali penasaran dengan motif yang berada dibalik kecintaan kita terhadap sesuatu. Hal ini pernah terjadi pada saya pribadi, suatu hari saya pernah pergi bersama teman teman. Usia saya kala itu masih 14 tahun, teman saya yang rata-rata sudah duduk di bangku SMA mengajak saya ke kafe. Malam itu banyak menu makanan dan minuman yang disajikan di kafe tersebut, tapi saya memilih memesan kopi tubruk.

Selang beberapa menit setelah memesan minuman, kopi saya pun datang, dan salah seorang teman berkata, “Kopine sopo iki?” // “Kopiku, mas.” // “Kecil-kecil kok minum kopi,”katanya sambil meneguk minuman rasa-rasa yang baru saja dipesannya. “Emang kenapa mas, toh sama-sama minuman. Aku emang seneng minum kopi,” jawab saya membela diri. Tak puas dengan jawaban saya dia bertanya lagi, “kenapa suka minum kopi?” // “Hmmm… y gapopo, enak ae rasane.” // “Oalah nang kafe mbok yo pesen sing liyo.”

Sebenarnya kecintaan saya pada kopi bukan tanpa alasan, secangkir kopi selalu mengingatkan saya pada bapak di rumah. Saya sudah merantau sejak SMP, dan setiap kali saya pulang libur sekolah bapak selalu minta dibikinkan kopi oleh anak wedok-nya ini. “Nduuuuk, anak wedok, bapake gawekno kopi nduk! mumpung genduke ono ning omah,” kata bapak.Kurang lebih seperti itu kalau bapak lagi merayu minta dibikinkan kopi.

Dengan semangat saya bergegas membuatkan kopi untuk bapak, tak lupa saya cicipi dulu gimana rasanya. Biasanya bapak langsung minum kopi bikinan saya walaupun masih panas mongah-mongah, disisakannya setengah cangkir kopi bikinan saya dan ditinggalkannya untuk pergi ke ladang. Sisa kopi bapak itulah yang selalu saya minum kalau di rumah, sedikit dingin tapi enak. Mungkin dari situ saya menyukai kopi.

Malam ini, saya tetaplah anak bapak yang masih hidup di perantauan. Sebenarnya kemarin sudah sempat pulang dan sejatinya juga sudah musim liburan, hanya saja saya masih memilih untuk tinggal di Pare untuk belajar bahasa Inggris. Kehidupan di Pare yang serba murah dari perantauan yang sebelumnya (Bandung) membuat saya lapar mata dan sering membeli aneka makanan dan jajanan pada malam hari. Namun karena sudah bosan akhirnya mencoba pergi keluar untuk mencari tempat makan baru.

Walhasil saya bertemu sama tempat makan namanya Waroenk Batok. Tempatnya yang bernuansa bambu dan dilengkapi dengan tanaman daun sirih yang menjalar membuat suasana nyaman dan asri.

Warung ini merupakan warung makan prasmanan yang juga menyediakan berbagai minuman termasuk kopi. Tak terlalu lama setelah memesan, kopi saya pun datang, saya tunggu kopi saya sampai ampasnya mengendap, saya minum sedikit demi sedikit.

Waroenk Batok
Sebagian besar bahan bagunan di Waroenk Batok terbuat dari Bambu. Nyaman dan asri. © Yuni Kusuma Wardani
Waroenk Batok
Kopi tubruk dan kopi susu di Waroenk Batok. © Yuni Kusuma Wardani

Bagi saya minum kopi itu mempunyai arti tersendiri selain pengingat saya kepada bapak tercinta, pertama mencium bau kopi tubruk itu seperti memberikan relaksasi dan hidup butuh itu untuk merilekskan diri dari kepenatan. Selanjutnya minum kopi tak ubahnya seperti hidup yang saya jalani, rasa manis dan pahit menandakan bahwa hidup tak selamanya bahagia.

Ada kalanya pahit juga menghiasi perjalanan hidup ini, namun manusia tak akan pernah bisa menuju ke arah lebih baik kalau tidak pernah menjalani hidup yang pahit, pahit hanyalah sebuah proses yang harus dilewati manusia menuju kehidupan yang lebih manis (semoga seperti itu).

Terkadang kita terburu-buru dalam meminum kopi, sehingga kopi yang baru diaduk dan belum mengendap langsung saja kita teguk. Pastinya akan ada ampas kopi yang akan tersisa di dalam mulut kita, bagi saya proses ini adalah tentang kesabaran, untuk menikmati kopi yang jernih kita juga harus menunggu sampai benar benar mengendap tanpa sisa. Menikmati kopi secara perlahan menurut saya menandakan pribadi yang selow tidak grusa-grusu. Tapi ini hanya sekadar pendapat saya saja.

Sambil berbincang dengan teman-teman saya, kembali saya teguk kopi tubruk Waroenk Batok ini.

Waroenk Batok
Kopi disajikan dengan batok kelapa. © Yuni Kusuma Wardani

Kebetulan beberapa hari yang lalu saya membeli buku tentang Filosofi Kopi karya penulis best seller yang dikenal lewat novel serialnya Supernova, Dewi Lestari. Dalam buku ini banyak sekali filosofi tentang kopi mulai dari cafe latte, cappuccino dan masih banyak lagi.

Namun yang saya hiraukan adalah filosofi kopi tubruk, seseorang yang menyukai kopi tubruk adalah pribadi lugu, sederhana, tapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam. “Kopi tubruk tidak peduli penampilan, kasar, membuatnya pun sangat cepat. Seolah olah tidak membutuhkan skill khusus. Tapi, tunggu sampai anda mencium aromanya,” begitulah seru Ben dalam cerita tersebut.

Ada baiknya kalian yang sedang di kampung Inggris Pare mencoba mampir untuk menikmati suasana ngopi malam hari, di warung ini. Lokasinya di sekitar Jl. Brawijaya (kalau tidak salah). Walaupun dekat jalan raya tempat ini tetap terasa damai dan tenang. Posisi favorit saya di lantai 2, terasa lebih private terutama bagi yang suka kesunyian. Tapi tenang kalian yang nanti ke sini nggak usah khawatir karena banyak kriteria tempat duduk yang bisa kalian pilih.

Akhirnya kopi yang saya pesan pun habis, pertanda bahwa semua yang nikmat pasti akan berakhir juga. Jangan lupa buat yang di Pare untuk singgah di Waroenk Batok untuk menikmati sensasi minum kopi dengan cangkir ala-ala.

Yuni Kusuma Wardani

Mahasiswi yang merindu akhir pekan.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405