Minum Kopi (di) Papua

Lembah Beanekogom, Tsinga

Seperti sebuah pementasan, hari memasuki babak baru ketika matahari menyingkir dari langit. Rombongan kecil kami yang baru saja datang memeriksa pembangkit listrik di Sungai Beanagogom, Tsinga, kini berkumpul di depan perapian untuk menikmati makan malam dan mengakhirinya dengan beberapa gelas kopi. Beberapa kali aku menawari Pak Yoap Beanal, kepala suku di Tsinga dan Pak Jack Dendegau Kepala Desa Tsinga untuk ikut minum kopi. Tapi mereka selalu hanya menjawab singkat, “Ah, tidak, terima kasih pak.”

Beberapa meter dari tempat kami berkumpul, sekelompok anak muda Tsinga sedang berkumpul di sebuah honai. Di rumah bujang itu, mereka sedang melepas kepergian seorang guru yang akan turun gunung ke Timika.

Berbagai macam sajian khas pegunungan Papua disajikan. Mulai dari betatas (ubi), sayur pakis, teh hangat, dan tembakau gulung. Tidak ada segelas kopi pun yang tersaji di honai. Padahal tidak jauh dari situ, terletak perkebunan kopi skala kecil yang menjadi salah satu tumpuan produksi sebuah merk kopi yang terkenal: Amungme Gold Arabica Coffee.

Pertemuan Pertama dengan Kopi

Paling tidak di Mimika, tempat saya tinggal selama beberapa tahun ini, nampak bahwa minum kopi masih belum sepenuhnya jadi bagian dari budaya kuliner setempat. Di Mimika, orang Kamoro yang tinggal di pesisir pantai mengenal kopi dari pos misionaris di Kaokanao. Pada sekitar tahun 1930an, tempat itu berubah menjadi pos pemerintahan.

Menurut Lodefikus Saklil, pada saat itu kesempatan untuk mencicip barang yang namanya kopi biasanya terjadi di Pastoran. Istilah untuk tempat tinggal para pastor dan bruder. Hal berikutnya yang terjadi sudah bisa diduga. Orang-orang Kamoro yang telanjur suka kopi dan tembakau, banyak yang datang menukar keduanya dengan hasil bumi, seperti sagu atau ikan.

Kopi baru tersedia dalam jumlah yang banyak ketika perusahaan tambang raksasa Freeport McMoran memulai operasinya di Mimika. Pada tahun 1967, industri itu membuka landasan udara perintis dan kamp di Timika Pantai. Demikian pula di Tsinga, tempatku mulai menulis catatan ini, kopi bersama dengan teh dan mie instan baru dikenal masyarakat Amungme pada awal tahun 1990an.

Para misionaris tidak mengajari masyarakat untuk menanam kopi di pesisir Mimika. Alasannya, kondisi geografis daerah pesisir Mimika yang terdiri dari rawa-rawa dan delta sungai.

Catatan paling tua mengenai kopi di Papua adalah dari HW Moll (1959). Ia mengkaji kemungkinan penanaman kopi di area sekitar Danau Wisselmeren (sekarang disebut Danau Tigitane) di dataran tinggi Paniai. Tapi kopi baru dikembangkan oleh misionaris pada tahun 1980. Saat itu, seorang bernama Bruder Jan Sjerps, OFM menanam 1000 pohon kopi jenis Arabica untuk melatih anak-anak SMP dan petani di Moanemani, Paniai, Papua. Selain mengajar cara menanam dan merawat kopi, Bruder Jan juga mengajarkan cara menggoreng biji kopi. Sejak itu Kopi Moanemani mulai terkenal.

Pertemuan dengan Kopi Papua

Bagi saya, menjajal berbagai macam kopi Papua selalu menimbulkan sensasi istimewa. Serupa halnya ketika menjajal berbagai penganan Papua yang sebelumnya asing bagiku seperti tambelo (ulat sagu), pinang, dan papeda.

Sekalipun kopi bukan barang asing di Jawa, tapi proses mengenali berbagai macam kopi Papua seperti membuka cakrawala baru berpikir saya. Bahwa minum kopi bukan hanya sekedar untuk menyegarkan tubuh dan pikiran, tapi juga untuk memperkaya ikatan kita dengan tanah asal kopi yang kita minum.

Ragam Kopi Papua © Reza Sofyan

Saya benci kopi-kopi bikinan Starbucks. Meski demikian, harus saya akui bahwa salah satu slogannya ternyata cukup benar, geography is a flavour. Bahwa bentangan tanah adalah cita rasa yang menunggu untuk kita nikmati.

Karena itu, saya rajin mencatat dalam benak, kesan-kesan yang saya dapatkan dari pengalaman mencoba kopi-kopi yang dihasilkan bumi Papua. Akan tetapi, sebelumnya harap dimaklumi, catatan ini dibuat oleh seseorang yang belum lama bertobat dari tradisi minum kopi instan.

Kopi Moanemani

Aku mendapatkan Kopi Moanemani dari seorang teman yang berasal dari Paniai. Paniai adalah daerah yang ingin sekali aku kunjungi karena keunikan dan semangat manusianya untuk maju. Kemasan Kopi Moanemani ternyata sangat sederhana, dari plastik biasa dan dengan desain produk yang terkesan asal-asalan.

Rasa kopi Moanemani cukup keras. Bahkan lebih keras dari kopi paling keras yang pernah aku coba, yaitu Kopi Kalosi Toraja. Gilingannya termasuk kasar. Entah karena hasil dari alat penggilingan kopi yang kurang baik atau memang sengaja diracik seperti itu.

Kopi Moanemani dikenal cukup berhasil mengembangkan budaya kopi di kalangan orang Paniai. Selain itu, kopi ini adalah satu dari sedikit jenis kopi berkualitas dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat Papua.

Ada sebuah cerita unik yang aku dengar terkait kopi ini. Cerita ini datang dari seorang teman yang pernah cukup lama tinggal di Nabire dan pedalaman Paniai. Di sana, temanku ini sering mendapati cangkir kopi yang pinggirnya pecah. Konon bibir cangkir itu pecah karena orang-orang Paniai mengikuti kebiasan rohaniwan Belanda yang mendentingkan sendok di bibir cangkir. Tapi bedanya, orang Paniai melakukan hal itu dengan sepenuh hati dan tenaga.

Sayangnya, sepeninggal Bruder Jan lima tahun terakhir ini, Kopi Moanemani mengalami penurunan produksi. Saya sendiri sudah hampir dua tahun ini tidak mendapat kopi Moanemani dari teman saya. Impian Bruder Jan untuk mengikutsertakan orang Papua dalam budaya kopi agaknya akan urung terwujudkan.

Amungme Gold Arabica Coffee

Kopi asal Papua berikutnya yang pernah aku coba adalah kopi Amungme Gold Arabica Coffee. Rasa kopi Amungme Gold cukup keras, sama seperti Moanemani. Tapi jika diracik menjadi Espresso, seperti yang pernah aku coba dari seorang bule penggila kopi Amungme, rasanya sangat luar biasa.

Bedanya dengan Kopi Moanemani, Kopi Amungme Gold Arabica Coffee ditujukan untuk pasar premium. Di Timika, satu bungkus Amungme Gold kemasan 250 gram dibandrol Rp.75.000. Di luar Papua, bisa dipastikan harganya jauh lebih mahal.

Penanaman kopi jenis Arabica ini dimulai oleh PT Freeport Indonesia pada tahun 1998. Lokasi penanamannya di dataran tinggi Kabupaten Mimika. Tepat terletak di beberapa desa suku Amungme seperti Tsinga, Hoeya, dan Aroanop.

Saat ini, pilihan untuk memasarkan kopi Amungme Gold ke pasar premium internasional memang dirasa cukup masuk akal. Karena lahan yang masih terbatas dan produksi kopi di daerah pegunungan tengah Papua menyebabkan hasil yang tergolong sedikit.

Biji-biji kopi Amungme dari Tsinga misalnya, harus diangkut dengan helikopter atau pesawat macam Pilatus atau Cessna ke roaster yang ada di Timika. Belum lagi masalah kurangnya infrastruktur dan pengetahuan para petani kopi di Papua.

Kini kopi Amungme Gold Coffee yang mengandalkan 977 pohon di dataran tinggi Mimika, mengalami peningkatan produksi karena tingginya permintaan. Kopi ini juga telah memiliki pembeli tetap dalam skala cukup besar di Timika.

Pogapa Pone

Orang bilang tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Begitu pula yang terjadi dengan awal pengembangan kopi di Pogapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Alkisah pada suatu hari seorang pace bertemu dengan seorang misionaris yang membawa “sebuah tanaman” yang indah sekali dan belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Karena jatuh suka, maka pace meminta tanaman itu untuk menghiasi pekarangan rumahnya. Sang misionaris yang girang melihat semangat orang Papua untuk menanam kopi. Misionaris itu segera memberikan beberapa bibit kopi yang dia bawa dari Afrika. Dengan gembira, pace membawa tanaman itu. Entah siapa yang memberitahu pace itu bahwa tanaman itu bernama kopi dan bisa dijadikan minuman.

Warung Kopi Pogapa Pone, Timika

Kini, Pogapa Pone dikembangkan dan dipasarkan oleh PT Mineserve dan mulai bisa didapatkan di pasar domestik Papua. Di Timika bahkan kini ada Kedai Kopi Pogapa Pone yang menyajikan beberapa pilihan sajian kopi yang dihasilkan di tanah suku Moni tersebut.

Di kedai kopi itu, selain minum kopi kita bisa mencicipi biji kopi Pogapa secara gratis. Awalnya aku ragu dan bergumam, “Macam luwak saja aku makan biji kopi.” Tapi setelah dicoba ternyata enak juga rasanya. Dibandingkan dengan kopi Amungme Gold, Kopi Pogapa Pone rasanya tidak terlalu keras. Kemasan 250 gram Pogapa Pone dijual di kedai kopi tersebut seharga Rp.50.000.

Kopi “Mehak”

Belum lama berselang, dalam sebuah acara ulang tahun, aku dikejutkan oleh pertemuan dengan masyarakat Fak-Fak yang ternyata memiliki budaya kopi. Di daerah yang berbatasan langsung Kabupaten Mimika ini, masyarakatnya sudah turun temurun membuat dan menjadikan kopi sebagai bagian dari kekayaan kuliner mereka. Bahkan, masyarakat Fak-Fak memiliki nama sendiri untuk menyebut kopi, yaitu “Mehak”.

Di Fak-Fak, Mehak dibuat dari biji kopi yang ditanam dan ditumbuk sendiri. Mehak merupakan sajian kebanggan sang tuan rumah kepada tamu-tamu mereka.

Kopi Mehak

Sebelum menyajikan, temanku yang asli Fak-Fak itu sudah berkali-kali mengingatkan bahwa Mehak yang akan disajikan bukan dari kopi gilingan, Melainkan kopi bubuk merk “Senang” dan Mehak sangat keras. Dia khawatir saya akan mati berdiri.

Sekalipun bukan penikmat kopi yang serius dan hanya berbekal pengalaman beberapa kali minum Espresso, saya berani mengiyakan suguhan Mehak.

Ternyata memang keras benar yang disebut Mehak ini.

Mehak disajikan di sebuah wadah. Semua orang dipersilakan mengambil sendiri kopi sesuai kemampuannya. Kopinya sangat kental diiringi dengan aroma yang kuat. Ketika saya aduk-aduk wadahnya, nyaris tidak ada endapan ampas kopi. Alhasil, sekalipun hanya tiga sendok Mehak yang berpindah dari wadah ke cangkir kopiku, aku tidak mampu menghabiskan seluruhnya.

Kopi Senang

Awalnya saya kira Kopi Senang adalah kopi “impor” dari Jawa seperti halnya banyak barang-barang di Timika. Tapi setelah sekian lama mengkonsumsi kopi ini, terutama ketika sedang berkunjung ke pedalaman, saya jadi penasaran. Jawabannya ada di bagian belakang bungkus kopi, yakni produksi sebuah perusahaan di Sorong, Papua Barat.

Rasanya mirip dengan kopi bubuk ABC dan tidak terlalu “berkarakter” jika dibandingkan dengan kopi Moanemani, Pogapa, atau Amungme Gold. Tidak heran jika ada beberapa teman yang mengira bahwa kopi ini bukanlah hasil racikan kopi yang tumbuh Papua, melainkan kopi yang didatangkan dari luar Papua.

Kopi ini cukup populer dan bisa dibeli hampir di semua warung yang ada di Timika. Di daerah pesisir, kehadiran kopi Senang selalu diikuti dengan tembakau cap Lilin atau Kupu-kupu.

Akhirnya…

Obrolan malam itu kemudian berakhir ketika ceret kopi sudah benar-benar dingin. Pak Yoap sang kepala suku pamit pulang ke rumahnya.

“Amole, Pak, kami pulang dulu, he,” ujar Pak Yoap melayangkan salam. Sambil berkemas karena besok helikopter sudah siap menjemput, suara tawa Pak Yoap dan Pak Jack yang bercampur dengan deru sungai Beanekogom membuatku yakin akan satu hal. Bahwa rasa semua kopi Papua akan selalu bercampur dengan kenangan akan tanah Papua yang kaya dan manusia-manusianya yang penuh semangat hidup.

Amolongo! Nimaowitimi! Koyao!

Referensi:

Romo Fe (2012), Bruder Jan Sjerps OFM: Di Balik Kopi Papua, Website: www.hidupkatolik.com, Diakses: 10 Desember 2012.

Social Outreach & Local Development PT. Freeport Indonesia Annual Review 2010, PT. Freeport Indonesia: Timika.

Van Baal, J. Et al (1984), West Irian: A Bibliography, Foris Publications: Dordrecht.

Onny Wiranda

Onny Wiranda adalah konsultan pendamping di Biro Pendidikan LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme & Kamoro). Tinggal di Timika. Bisa dikunjungi di http://infoniev2.wordpress.com

  • eko susanto

    edyaaan tenan mehak kuwi, bos. jadi penasaran…

  • Saya pernah ngerasain Amungme Gold. Luar biasa.

  • Setiyawan

    saya pernah singgah di Pogapa Pone, belakang gelael Timika milik bang Bosco

  • @Kang Eko: Mwantab bener kang. Cucok kalo utk ngopi sore2. Hehe.
    @Tukangkopi: Beli di Timika?
    @Setiyawan: Bang Bosco yg punya warung Papeda itu kah?

  • Setiyawan

    Bang Bosco yang punya Pogapa Pone,Kedai Kopi yang di Belakang Gelael, Timika

  • Andi

    Wuihhh… Kapan bisa cobain mas?

  • Andi

    Jadi ingat Kang Bob Marley – One Cup A Coffee… Hmmm…
    Amole…

  • Halo Pecinta Kopi,

    Kopi Papua sekarang bisa dibeli secara online melalui situs ini 
    http://timikaunique.com/product-tag/kopi/

    Barang dijamin masih bagus dan ready stock.

    Salam,

  • jsaluett02

    di daerah sorong ada ga yang jual kopi Moanemani, Pogapa, dan Amungme Gold….? pengen buat oleh2.

    thx
    regards

  • Halo. Salam kenal.

    Di Sorong setahu saya agak susah cari Amungme Gold atau Pogapa Pone. Kalau Moanemani mgkn ada.

  • Sekedar Info: Amungme Gold itu green beans-nya ialah Kopi Wamena.

  • sempat 3 bulan tinggal di sorong. sayang tak sempat mengelanai tempat ngopi 🙁 malah beberapa waktu kemarin dapet kiriman kopi “senang” dan entah kenapa ga kuat. robusta kayanya..

  • Sudah pernah rasa kopi anggi dari wilayah arfak manokwari papua barat?