Minum Kopi dan Kerja Literasi

Kedai Kopi di Cafebaca
Kedai Kopi di Cafebaca | © Joko Priyono

Di salah satu sudut Kota Surakarta Hadiningrat, malam itu saya berkesempatan berkunjung ke salah satu warung kopi. Tempatnya tak jauh dari kampus Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, berada di Jalan Kartika, Gang Sejahtera 1 No. 3, Kampung Gulon, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Cafebaca namanya. Selain sebagai menjadi tempat nongkrong, warung kopi ini menawarkan konsep ruang untuk membangun dan mengembangkan budaya literasi.

Setelah mendapat tempat duduk bersama beberapa kawan, salah seorang pramusaji menghampiri kami. Pembawaannya ramah dan santun. Ia kemudian menyodorkan kertas menu, “Silakan untuk memilih pesanannya!” ujarnya. Kami mengucapkan terimakasih, lalu memilih beberapa menu pada lembar kertas daftar menu yang ia sodorkan.

Malam itu, bersama tiga kawan, saya akhirnya memilih empat cangkir kopi hitam. Kami mulai berbaur dan saling sapa dengan para pengunjung lainnya. Ada salah satu topik yang kami bincangkan malam itu, seputar keberadaan warung kopi, terutama di daerah Soloraya, atau meliputi kawasan Solo, Boyolali, Karanganyar, Klaten, Sragen dan Sukoharjo.

Lebih lanjut, keberadaan warung kopi itu kami korelasikan dengan realitas sosial yang sedang ramai belakangan. Iya, misalnya kini dengan banyak pemilik warung kopi yang sadar akan pentingnya literasi, banyak warung kopi didesain sedemikian rupa dengan mengangkat konsep literasi. Tentu, ini menjadi salah satu jawaban terhadap tantangan literasi di Indonesia.

Dunia literasi yang meliputi minat membaca maupun menulis, menjadi permasalahan serius bagi bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, beberapa lembaga, baik yang terdiri dari pemerintahan maupun non pemerintahan memberikan hasil penelitiannya tentang kondisi riil budaya literasi di Indonesia. Berdasarkan data UNESCO, pada 2012 minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen yang artinya di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 25.000 yang punya minat baca. Menurut sumber yang sama, pada 2014 tercatat, anak-anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam setiap tahun. Programme for International Assesment (PISA), OECD menyatakan kompetensi membaca belum meningkat signifikan, dari 396 poin (2012) menjadi 397 poin (2015).

Kajian Perpustakaan Nasional dengan mengambil sampel 12 provinsi dan 28 kabupaten/kota di Indonesia, menyatakan minat baca masyarakat termasuk kategori rendah yakni dengan angka sebesar 25,1. Kemudian, data terakhir yang berhasil dihimpun di tahun 2016 dari World’s Most Literate Nations, Central Connecticut Satet University (penelitian dilakukan pada tahun 2003-2014) menyatakan bahwa literasi Indonesia berada di peringkat ke-60, posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti.

Kerja Literasi

Melalui konsep ruang berbasis literasi, Cafebaca mencoba menawarkan beberapa ragam jenis kopi dan menyajikan beberapa buku yang dipajang pada sebuah rak. Buku-buku tersebut merupakan karangan dari beberapa penulis yang karyanya diterbitkan oleh CV Kekata Group, penerbit yang menaungi warung kopi Cafebaca.

Buku Manifesto Cinta hasil keikutsertaan dalam Gerakan Menulis Buku Indonesia (GMBI)
Buku Manifesto Cinta hasil keikutsertaan dalam Gerakan Menulis Buku Indonesia (GMBI) | © Joko Priyono

Memang benar, warung kopi Cafebaca bukan semata-mata tempat untuk minum kopi, melainkan ada sebuah daya tarik tersendiri yang menjadikannya tempat tersebut layak disambangi. Berbagai kegiatan literasi sering diadakan di Cafebaca. Mulai dari diskusi, bedah buku, pembacaan puisi, latihan kepenulisan, hingga konsultasi mengenai penerbitan buku.

Selain beberapa agenda itu, ada juga program GMBI atau Gerakan Menulis Buku Indonesia. GMBI merupakan salah satu program jangka panjang yang ditujukan untuk menjawab berbagai persoalan mengenai tantangan literasi, yang meliputi membaca maupun menulis. Dengan slogan, “membaca adalah melawan. Menulis adalah menciptakan perubahan,” hingga kini, program itu mencoba untuk terus menyelenggarakan agenda literasi.

Salah satu agenda literasi yang digeluti adalah program menulis yang ditujukan kepada mahasiswa, dosen, guru bahkan siswa sekalipun. Di mana, melalui program ini, GMBI membuka peluang untuk masing-masing kalangan dalam keinginannya untuk menerbitkan buku hasil karyanya.

Pada Oktober 2016 lalu, saya mencoba mengirim naskah saya untuk diikutkan dalam program ini. Dan setelah melewati berapa tahap, pada akhirnya buku berjudul Manifesto Cinta terbit pada bulan Maret 2017 ini. Selain mewujudkan mimpi para penulis pemula dalam menerbitkan naskahnya, program ini juga membantu penyaluran bantuan bahan bacaan kapada mereka yang berada di daerah terpencil dan masih kekurangan bahan bacaan. Tentu ini menjadi salah satu langkah awal yang harapannya terus mendorong banyak orang agar sadar mengenai kebutuhan literasi. Literasi bukanlah menjadi tanggung jawab hanya aku, kamu, maupun dia, melainkan menjadi tangung jawab kita bersama. Jadi, mulai sekarang mari berusaha untuk terus menciptakan perubahan!

Joko Priyono

https://twitter.com/jokoprii

Mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Penulis buku Manifesto Cinta.