Miniatur Kopi Indonesia

Omah Kopi
Omah Kopi © Danu Saputra

Omah Kopi, Omah S’dulur (Rumah Kopi, Rumah Saudara). Ah, betapa beraninya kedai ini menggunakan nama omah kopi. Kalau berani menggunakan label rumah kopi, maka setidaknya mampu memberikan gambaran dari aneka jenis kopi yang ada di Indonesia, atau bisa pula menyediakan rajikan kopi yang istimewa. Maka saya pun hendak membuktikannya. Malam, 29 Oktober 2012, saya datang berkunjung ke Omah Kopi, Omah S’dulur.

Lelaki paruh baya, berpostur tubuh agak kurus dan berkaca mata berdiri di belakang etalase tempat di mana kopi diramu. Ini dia orang yang punya nyali besar menggunakan nama omah kopi untuk kedainya. Lelaki itu adalah pelayan, cleanning service, penjaga malam, barista, sekaligus pemilik kedai yang teletak di Jalan Prof. Sarjito 8 A, Yogyakarta.

Dia adalah Sasongko Pitoyo. Ia memutuskan berwirausaha awalnya agar dekat dengan dua buah hatinya yang sedang menjalani masa-masa emas pertumbuhannya. Jika sebelumnya dia kerja sambil berkelana, maka dia hendak berwirausaha sendiri. Tujuan utamanya agar tidak jauh dari keluarga. Sasongko mencintai kopi sejak lama. Di kala mahasiswa di tahun 80-an, kopi selalu menjadi teman di malam-malam mengerjakan tugas kuliah atau belajar. Kecintaannya ini mengantarkan ide membuka kedai kopi di rumahnya yang sederhana.

Telah ada banyak kedai kopi saat Omah Kopi, Omah S’dulur hendak didirikan. Kenyataan ini membuat lelaki lulusan Manajemen, Universitas Atmajaya, ini harus meletakkan kedai kopinya di pasar yang tepat. Ia ingin bisa menjual kopi yang bisa dijangkau semua kalangan. Ia tak ingin main-main dalam memakai istilah “rumah kopi”.

Ada 24 varian kopi specialty lokal Indonesia di sana. Saya tercengang. Sumatra menyumbang 7 varian jenis kopi, 10 varian kopi dari Jawa, 2 varian kopi Sulawesi, 1 Kalimantan, 1 dari Flores, 1 dari Papua, dan dua kopi blend yang diramu Omah Kopi, Omah S’dulur. Itu saja belum cukup, karena ada 6 kopi dari luar negeri. 2 varian kopi dari Peru, 1 varian kopi dari Costarika, dan 3 varian kopi dari Jamaika.

Omah Kopi
Berbagai bubuk kopi dari Indonesia © Danu Saputra

Sebagian besar pengunjung kedai ini penggila kopi. Dan, memang benar, seorang yang benar-benar mencintai kopi akan merasa dimanjakan apabila hadir di Omah Kopi, Omah S’dulur. Dari ujung Sumatra hingga Papua tersedia varian kopi yang dapat dinikmati. Memang ada yang mempertanyakan kedainya yang diberi nama omah kopi seperti yang saya lakukan, tapi setelah mengetahui sebagian besar dari mereka mengatakan “Baiklah,” atau “Ok, tidak masalah.”

“Kopi yang banyak dipesan hari ini, kopi jenis apa?” Kata seseorang yang memesan kopi sebelum saya. Sasongko menjawab, Wamena. Orang itu kemudian memesan kopi Wamena. Saya memesan kopi Lanang. Sasongko kemudian mengambil kopi dari toples di sebelahnya, tempat dia memajang aneka varian kopi sekaligus daftar menu kopi di kedainya. Kopi terhidang di gelas berwarna putih di depan saya. Gula disajikan tersendiri. “Agar pengunjung bisa menakar paduan gula sesuai selera,” jelas Sasangko.

Omah Kopi, Omah S’dulur menyediakan pula kopi impor. Tapi jenis kopi ini dibandrol dengan harga yang terjangkau. Ia memang punya tips sendiri untuk mendatangkan kopi impor. Kebetulan dia punya kawan yang memasok kopi impor padanya. Jadi, meskipun kopi impor ia pun tetap dapat menjual dengan harga tak lebih mahal dari sebungkus rokok.

Ada distributor kopi luwak yang menawarinya dengan harga yang jauh lebih murah. “Semurah-murahnya kopi luwak itu masih jauh lebih mahal dari kopi yang ada di sini,” katanya. Ia memang menerima, tapi supaya tidak menimbulkan kesenjangan di antara peminum kopi di kedainya ia hanya menjual kopi luwak dalam bentuk kemasan saja. Pengunjung yang hendak membelinya bisa meramunya sendiri di rumah.

Ia mengaku mendapatkan sedulur (persaudaraan) dari kedai kopi. Sebaliknya, ia mendapatkan tambahan varian kopi dari persaudaraan yang terbangun dari kedai kopi. Tak mungkin baginya membeli kopi seperti membeli kucing dalam karung. Dari jalinan itu ia mendapatkan rekomendasi kopi istimewa dari wilayah Indonesia yang kaya akan variasi kopi. Ini salah satu kiatnya untuk menjamin rasa kopi benar-benar istimewa.

Omah Kopi
Sasongko, ingin mengenalkan berbagai varian kopi Indonesia © Danu Saputra

Bila tak bisa ia dapatkan bubuk kopi yang terjamin kualitasnya, maka ia akan memilih mendapatkan biji kopi, dan dari biji kopi ini ia akan mengelola sendiri. Ini resep agar kualitas kopi tetap terjaga. “Belajar caranya mengelola kopi secara otodidak, awalnya menyangrai sempat gosong,” katanya.

Manajemen persediaan ia pergunakan untuk menjamin pula rasa kopi tetap fresh. Karenanya, ia tidak memesan kopi dalam jumlah besar meskipun harganya bisa ditekan. Harganya bisa jadi lebih murah, tapi aneka varian kopi yang dihadirkan di sini cukup banyak. Tidak mungkin satu jenis kopi bisa terjual dalam waktu singkat. Ia memesan kopi secukupnya saja, dan apabila persediaan kopi sudah hampir habis maka ia minta untuk dikirim kembali dari pemasok.

Sebuah televisi di sudut kedai dinyalakan pengunjung. Saluran berita ditayangkan. Saya mulai memperhatikan sekeliling. Di samping televisi ada keterangan perbedaan tekstur kopi arabica dan robusta. Saya keterangan yang unik di atasnya terdapat yang seringkali dijadikan filosofi orang Jawa. “Urip mung mampir ngombe… becikke yen ngopi wae”.

Saat saya lebih perhatian lagi di sekiling terlihat benda-benda yang terbilang kuno. Ada mesin ketik yang terbuat dari besi diletakkan di atas almari kayu jati, di atasnya ada seruan Soekarno pada pemuda yang dibingkai dan terlapisi plastik. Terdapat beberapa gambar karikatur yang telah suram termakan usia tergantung di dinding. “Benda-benda itu merupakan koleksinya sendiri dari kedua orang tua atau kakek-neneknya yang masih tersimpan baik,” jelasnya. Sebenarnya masih terdapat koleksi lain seperti beberapa radio kuno dan buku-buku yang terjaga dari ayah dan kakeknya yang kebetulan bekerja sebagai wartawan. Tetapi belum bisa terpajang karena ruangannya terlalu sempit.

Kopi adalah menu utama di sini. Tetapi, Sasongko masih mempertimbangkan apabila ada pengunjung tak suka kopi, atau pengunjung yang sedang membawa kekasihnya untuk datang kekedainya. “Tak mungkin kan orang-orang ini mesti minum air putih karena tidak bisa menikmati kopi?” katanya. Ia sediakan menu pilihan lain bagi yang tidak suka kopi yakni teh dan coklat panas.

Omah Kopi
Meracik Kopi © Danu Saputra

Hari makin larut. Kopi saya telah tandas. Begitu pun dengan kopi milik seseorang yang memesan kopi Wamena. Tetapi obrolan dengan Sasongko masih menarik untuk dilewatkan begitu saja. Saya memesan kopi lagi. Kali ini saya memesan kopi rempah yang dipadu sendiri oleh Sasongko.

Seorang pengunjung datang lagi, meskipun sebenarnya waktu normal bagi Omah Kopi, Omah S’dulur telah selesai. Ini jam tambahan. Sasongko menyediakan waktu tambahan apabila ada pengunjung yang tampak sedang asyik. Jam buka normal kedainya dibatasi sampai 24.00 WIB, dan dibuka saat selepas Maghrib.

Pernah pula ada pengunjung yang datang di saat dia berencana untuk menutup kedainya, karena meski kenduri di rumah tetangga yang sedang selamatan. Tetapi, di depan kedainya ada 7 orang berada di depan kedainya menunggu Sasongko membuka kedai. Dia pun membuka kedainya, meskipun saat itu sudah jam 20.30. Pengunjung terlanjur mengenal apabila di hari Minggu kedainya tidak buka.

Sasongko menyapa tamunya seperti cara militer. Tangannya memberi hormat pada pengunjung satu ini. Aziz Setyawijaya pengunjung malam itu, ia bukan anggota militer tetapi sama-sama pengusaha kedai kopi. Tapi beginilah gaya Sasongko dalam menyapa pengujungnya. Ia menganggap pengunjungnya sebagai kawan lama yang datang berkunjung di rumahnya.

Aziz menuturkan bahwa dia membuka kedai kopi juga mendapatkan bantuan dari Sasangko. Ia sudah menganggap Sasangko sebagai guru. Menurut laporan Aziz ada penguji citarasa kopi, yang diam-diam berkunjung ke Omah Kopi, Omah S’dulur untuk mencicipi kopi.

Suasana tradisional yang terjaga menjadi daya tarik tersendiri dari kedai ini. Tidak ada musik yang terdengar hinggar bingar seperti kedai-kedai modern. Tidak ada pula wifi yang membuat pengunjung terhubung dengan dunia di luar kedai. Mereka yang datang ke kedai ini akan memesan kopi dan bisa dengan leluasa berbincang dengan sesama peminum kopi. “Banyak pengunjung yang menghendaki tetap seperti ini,” kata Sasongko. Ia pun tidak mengkehendaki untuk mengubah suasana. “Biarlah pengunjung menikmati kopi seperti suasana minum kopi di daerah asal mereka.”

Di tengah persaingan pelayanan jasa penyedia tempat minum kopi semakin ketat. Sasongko mengaku tak pernah sekalipun beranggapan kedai kopi lain sebagai saingan. Oleh karenanya, ia tetap membantu apabila ada pemilik kedai yang membutuhkan informasi tentang kopi.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.