Minggu Pagi di Kebun Kopi Pak Riki

Pak Riki di kebun kopi miliknya
Pak Riki di kebun kopi miliknya | © Fawaz

Riki sedang bermain bersama Rika dan Rita di halaman rumah saat Saya dan Nody tiba. Hari masih pagi, mendung menyelimuti Dusun Sumber Candik. Malam sebelumnya, Riki sudah berjanji mengantar kami ke kebun kopi milik bapaknya. Tanpa menunggu lama kami segera berangkat.

Riki memandu kami di depan, menyusuri jalan setapak di lereng bukit. Sesekali jalan yang kami lalui cukup landai, selebihnya menanjak. Di sebelah kanan kami bukit terjal terbentang, di sebelah kiri lembah curam, masyarakat memanfaatkan lahan di antara keduanya dengan menanam berbagai jenis komoditas pertanian. Pohon sengon, jagung, pinang, pisang, dan kopi. Jauh ke bawah, pemandangan kota Jember samar terlihat.

Saat Riki menunjuk hamparan kebun kopi milik bapaknya, sudah sekira 30 menit kami berjalan. Pak Riki sedang memotong dahan kopi tua yang sudah tidak produktif. Ia menghentikan pekerjaannya, menyambut kami dengan senyum sumringah. Lalu kami berbincang-bincang di bawah naungan pohon kopi. Sedangkan dua pemetik kopi yang bekerja untuk kebunnya, suami-istri yang masih berkerabat dengan istrinya, melanjutkan pekerjaan.

Pemetik kopi. Dia adalah bibi dari istri Pak Riki yang membantu proses panen.
Pemetik kopi. Dia adalah bibi dari istri Pak Riki yang membantu proses panen. | © Fawaz

Ini hari terakhir panen kopi di kebun Pak Riki. Pada musim panen kopi kali ini, kebun kopi miliknya sudah menghasilkan 1,6 ton buah kopi. Ditambah hasil panen hari ini, ia memperkirakan total hasil panen sebanyak 1,8 ton.

Panenan tahun ini jauh berkurang dari hasil tahun. Separonya saja tak sampai. Dari kebun yang sama hasil panen kopi tahun lalu mencapai 4 ton. Pak Riki memperkirakan ada dua penyebab yang menyebabkan hasil panen tak sebagus tahun kemarin. Yang pertama karena abu vulkanik dari letusan Gunung Raung sesaat sebelum musim panen tahun lalu. Abu vukanik merusak sebagian besar daun, suhu abu vulkanik yang panas menyebabkan daun mengering. Kemudian saat pohon kopi mulai berbunga, hujan dengan intensitas yang tinggi terus menerus turun, hal ini menyebabkan banyak bunga kopi yang rontok.

Memiliki nama lahir Supriyadi, Pak Riki berusia 33 tahun. Bapaknya berasal dari Tumpang, Kabupaten Malang, bekerja sebagai mandor Perhutani dan ditugaskan di Dusun Sumber Candik. Sedangkan ibunya penduduk asli Sumber Candik. Sempat menghabiskan beberapa tahun usia remajanya di Tumpang, Pak Riki kembali ke Sumber Candik, menikah di usia yang relatif muda (18 tahun) kemudian memulai berkebun kopi di tahun 2003.

Pernikahannya dengan Bu Riki melahirkan 3 orang anak, Muhammad Riki (13 tahun), Rika Maulida (11 tahun) dan Rita Anjani (5 tahun). Riki dan Rika sekolah di SDN Panduman 3, Riki kelas 6 dan Rika kelas 4. Rita belum sekolah di sekolah formal, ia belajar bersama Bu Guru Tuti di sekolah alternatif Sokola Kaki Gunung sejak April 2016. Saat ditanya tentang kelanjutan pendidikan Riki yang sebentar lagi lulus SD, Pak Riki masih bingung antara mengirim anaknya ke pondok pesantren atau sekolah di SMP. “Saya takut kalau sekolah negeri lagi sama kayak di SD, gurunya jarang datang. Tapi kalau di pondok, saya maunya Riki belajar di pondok yang sekalian ada SMP-nya.”

Saat sedang asyik berbincang, Bu Riki, Rika dan Rita tiba di kebun. Mereka mengantarkan bekal makan siang untuk disantap di kebun dan sebuah teko berisi kopi panas. Kopi panas segera disajikan untuk kami. Kemudian Bu Riki dan Rika bergegas memanen kopi, Rita bergabung bersama kami, bermain-main dengan gergaji kecil milik bapaknya memotong ranting pohon yang ia temukan. Saat ditegur oleh Pak Riki karena mainannya bisa membahayakan, Rita menyeringai sembari terus melanjutkan permainannya. Kami semua tertawa.

Ketiga anak Pak Riki dan istrinya turut ke kebun kopi
Ketiga anak Pak Riki dan istrinya turut ke kebun kopi | © Fawaz

Di musim panen kopi seperti ini, banyak terjadi pencurian. Malam hari para pencuri menggasak buah kopi yang siap dipanen. Banyak petani kopi Sumber Candik yang tidur di kebun menjaga buah kopi mereka dari ulah para pencuri. Tapi Pak Riki tidak pernah melakukan itu. Ia lebih memilih tidur di rumah bersama keluarga. Terkait ancaman kehilangan hasil panen, ia pasrah, menyerahkan semuanya pada Tuhan saja. Sejauh ini, belum pernah sekalipun kebun kopinya didatangi pencuri.

Pak Riki menunjukkan batang kopi yang berhasil disambungnya. Ia dan petani di Sumber Candik belajar menyetek batang dari para petani kopi di Glenmore, Banyuwangi. Melihat hasil setekan batang kopi miliknya, ia optimis. Ia percaya hasil kopi dari kebunnya ke depan akan meningkat pesat. “Tahun depan panen naik lagi, Mas. Mungkin bisa lebih banyak dari tahun lalu. Tahun ini memang panen sedikit, memang harus begini, biar petani tidak sombong. Kalau panen bagus terus, gampang sombong, jadi lupa Tuhan. Kalau beginikan bikin kita jadi sering nyebut.”

Mendung yang terus menyelimuti Sumber Candik membuat kami tak sadar jika hari sudah semakin siang. Perut mulai lapar. Kami pamit undur diri. Menyudahi kunjungan ke kebun kopi yang dinaungi pohon mahoni milik Perhutani.

Ekspedisi Kopi Miko

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba