Mimbar Pertunjukan Sastra Nusantara: Satu dalam Kebhinekaan

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengirim undangan bertajuk “Mimbar Pertunjukan Sastra Nusantara”. Tanpa membuat janji dengan siapa pun, saya terlalu percaya diri pasti ada teman untuk diajak datang. Tiba hari Sabtu, 17 September 2016, ternyata beberapa teman yang saya ajak tidak mau berangkat dengan alasan beragam. Sial betul.

Mager (males gerak) sudah menguasai, sebelum pesan masuk dari lelaki berkacamata. Sebut saja namanya Ari (nama sebenarnya), yang akhirnya tawar-menawar untuk datang ke acara tersebut.

Ari tiba lebih dulu dan menunggu saya di pintu masuk pendapa Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta─tempat berlangsungnya acara. Barisan kursi sudah penuh terisi, bahkan beberapa penonton berdiri. Saya sempat mencuri dengar obrolan, yang sayangnya tidak saya pahami─karena mereka berbicara dengan bahasa daerah.

Acara dibuka oleh dua pembawa acara. Mereka menjelaskan sekilas tentang kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY tersebut.

Mimbar Pertunjukan Sastra Nusantara merupakan bentuk apresiasi terhadap nilai luhur yang terkandung dalam khazanah sastra Nusantara. Kegiatan ini penting, mengingat peran sastra sebagai sebuah dunia reflektif. Dalam karya tersebut tersimpan kearifan yang menjadi penuntun tata nilai di masyarakat. Nilai-nilai yang selama ini hidup sebagai sebuah local wisdom atau kearifan lokal, mencoba dihadirkan kembali dalam dunia modern ini.

Kegiatan yang dikuratori oleh S. Arimba dan Anes Prabu Sadjarwo tersebut menampilkan perwakilan lima provinsi, yakni Papua Barat, Kalimantan Selatan, Aceh, Bangka Belitung, dan DIY. Masing-masing menampilkan dan mengangkat sastra lokalnya yang dikemas dalam bentuk pertunjukan sastra.

Tarian Mambri dan Yosimpancar dari Provinsi Papua Barat
Tarian Mambri dan Yosimpancar dari Provinsi Papua Barat | © Chandra
Bujang Maluala yang ditampilkan oleh Sanggar Pangeran Samudera Kalimantan Selatan
“Bujang Maluala” yang ditampilkan oleh Sanggar Pangeran Samudera Kalimantan Selatan | © Chandra

Penampil pertama dalam pertunjukan malam itu berasal dari provinsi Papua Barat. Terdiri atas delapan penari dan tujuh pemusik, mereka menampilkan tarian Mambri dan Yosimpancar. “Mambri” adalah panglima-panglima perang Suku Biak yang berada di pesisir pantai pulau Papua, yang dahulu kalah mengusir musuh. Sementara itu, Yosimpancar adalah tarian pergaulan pemuda-pemudi Papua yang hingga saat ini digunakan dalam segala bentuk acara.

Provinsi Kalimantan Selatan menjadi penampil kedua. Pemain dan pemusik terdiri atas delapan orang yang berasal dari sanggar Pangeran Samudera Kalimantan Selatan. Mereka mengangkat cerita berjudul “Bujang Maluala”. Cerita ini dibawakan dengan dua cara, yakni dengan syair dan narasi cerita yang diiringi irama musik.

Bujang Maluala adalah lelaki yang sudah menginjak dewasa dan melakukan petualangan bersama tiga temannya. Dalam perjalanan, kapal mereka karam karena diterjang badai dan ombak ganas. Namun, mereka selamat dan terdampar di negeri Cina. Di sana, Bujang Maluala mendengar bahwa raja mempunyai seorang putri. Seketika itulah ia ingin mempersunting putri tersebut.

Jingga Gemilang membacakan Ureung Inong dari Lampadang, Aceh
Jingga Gemilang membacakan “Ureung Inong dari Lampadang”, Aceh | © Chandra
Putri Sulung merancanakan kejahatan untuk Dewi Urai Emas dalam cerita “Batu Karang Seribu” yang ditampilkan Provinsi Bangka Belitung
Putri Sulung merancanakan kejahatan untuk Dewi Urai Emas dalam cerita “Batu Karang Seribu” yang ditampilkan Provinsi Bangka Belitung | © Chandra

Penampilan ketiga berasal dari Aceh. “Ureung Inong dari Lampadang”, itulah yang ditampilkan. Sajak ini berjudul asli “Wanita dari lampadang” karya LK. Ara, seorang penyair sekaligus seniman besar dari Aceh. Jingga Gemilang menerjemahkan sajak tersebut dan membacakan dengan diiringi musik Rapa’i.

Sajak ini dianggap penting karena menceritakan tentang sosok heroik Cut Nyak Dien. Ia memiliki kewibawaan dan kepandaian, bahkan keberanian besar sejak berusia remaja. Sebagai seorang wanita Aceh, ia tidak pernah ragu mempertaruhkan jiwa raganya dalam mempertahankan kebangsaan dan keagamaan.

Provinsi Bangka Belitung adalah penampil selanjutnya. Melalui cerita berjudul “Batu Karang Seribu”, mereka dengan apik memadukan antara sandiwara, musik, dan tari. Batu Karang Seribu bercerita tentang kegetiran cinta antara Bujang Semayong dengan Dewi Urai Emas. Cinta mereka ternoda oleh kebusukan kakak kandung Dewi Urai Emas yang bernama Putri Sulung. Cerita ini tidak kalah menyedihkan dibanding dengan Layla-Majnun, Rama-Shinta, atau Romeo-Juliet.

Menurut salah satu pemain, yakni Iqbal H. Saputra, penampilan mereka menggabungkan unsur Toonel dan Dul Mulok (sejenis teater tradisional). Naskah diambil dari cerita rakyat Bangka, Desa Kundi, Kecamatan Muntok, Bangka Belitung.

“Kami melakukan latihan sepuluh kali. Tahapannya adalah pemilihan naskah, menentukan konsep, memilih aktor, menciptakan tari, baru kemudian diselaraskan dengan musik. Alasan memilih naskah ini, selain mengangkat cerita yang mulai dilupakan, juga sebagai contoh sikap menghargai orang lain, percintaan yang dilatarbelakangi urbanisasi sehingga menciptakan multikultural, dan tentu saja yang terpenting adalah tentang kesetiaan,” ucap Iqbal.

Provinsi DIY yang menampilkan “Lelakonan”, yakni adaptasi naskah berjudul “Pulung Gantung”
Provinsi DIY yang menampilkan “Lelakonan”, yakni adaptasi naskah berjudul “Pulung Gantung” | © Chandra

Penampilan pamungkas berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka terdiri atas tiga pemain, dua penggurit, dan sepuluh pengrawit. Cerita yang diangkat adalah “Lelakonan”, yakni adaptasi naskah “Pulung Gantung” karya Gandhol Sumargiono.

Mimbar Pertunjukan Sastra Nusantara malam itu sukses menampilkan tema besar “Satu dalam Kebhinekaan”. Nilai lokal yang diangkat memang berbeda-beda, tetapi dalam bingkai kesatuan bangsa, hal itu dapat disajikan dan dinikmati dalam satu panggung. Dengan semangat ini, semboyan Bhineka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, tetapi sebuah wujud nyata yang hadir di tengah kita semua. Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kebudayaan, juga sebagai daerah yang istimewa, menjadi jembatan penghubung tempat bertemunya ide tersebut, yakni menyatukan keanekaragaman dalam kesatuan melalui seni dan budaya.

Malam telah larut. Barisan kursi mulai kosong ditinggal oleh penonton yang pulang dengan tawa bahagia. Pertunjukan malam itu semacam “menengok” kampung halaman. Meskipun tidak seluruhnya, ada rindu yang telah terobati.

Utami Pratiwi

Editor buku, fangirl (pengepul cowok korea).