Mie Ayam Wonogiri dan Ajakan Ngesde Enem

Wonogiri bagi saya terdiri dari tiga hal; rindu, pulang, dan mie ayam. Ketika masih bersekolah di Jogja, tiap kali ngobrol dengan penduduk lokal dan memperkenalkan diri bahwa saya berasal dari Wonogiri, hampir pasti selalu disusul dengan pertanyaan:

“Oalah, Mie Ayam dan Bakso ta, Mas?”

Bukan. Bukan Wonogiri adalah nama lain dari Mie Ayam dan Bakso, akan tetapi baru saya ketahui ternyata hagemoni mie ayam dan juga bakso Wonogiri sudah sampai atau bahkan menjelajah lebih jauh daripada anak-anak muda perantau dari Wonogiri. Bahkan di Jalan Bantul sudah banyak berjajar warung mie ayam bakso Wonogiri. Di Jogja, salah satu mie ayam Wonogiri yang paling terkenal mungkin Mie Ayam Bakso Pak Wiyono yang terletak di Sendowo, sebelah barat Sekolah Vokasi UGM.

Sebagai anak yang tumbuh dan dibesarkan di Wonogiri, menyantap hidangan mie ayam dan bakso enak bagi saya adalah hal yang biasa. Menurut cerita dari mulut ke mulut, konon banyaknya penjual mie ayam dan bakso dari Wonogiri karena dahulu kebanyakan wanita di Wonogiri berprofesi sebagai penjual jamu atau buruh pabrik jamu, sedangkan lelakinya menjadi penjual mie ayam bakso.

Saya belum mengetahui dokumen resmi yang menyatakan kebenaran cerita ini, tapi memang kebanyakan penjual mie ayam atau orang yang memiliki resep rahasia masing-masing warung mie ayam adalah para lelaki. Sedangkan untuk penjual jamu, semuanya kebanyakan perempuan. Oh iya, di Wonogiri juga berdiri dua pabrik jamu, yaitu Air Mancur dan Deltomed.

Seporsi Mie Ayam
Seporsi Mie Ayam | © Ardhi Setiawan

Pakem memasak mie ayam adalah dengan merebus mie mentah berbentuk bongkahan selama sekitar tiga menit bersama sawi. Makin lengkap jika ditambah bongkahan bakso urat. Kuahnya kuning kental dengan buih-buih lemak di permukaannya. Menurut saya ini adalah tanda mie ayam yang enak. Mie kemudian diberi suwiran daging ayam kecap dan disajikan dalam mangkok ayam jago. Entah secara sugestif atau bagaimana, mie ayam bakso paling enak dinikmati di siang bolong dalam warung yang ramai oleh berbagai macam jenis-jenis manusia dari berbagai belantara waktu yang berbeda.

Mie ayam tidak mengenal kelas. Ia biasa dinikmati buruh yang baru istirahat dari tempat kerjanya, juragan warung kelontong, pegawai negeri, pedagang pasar, maupun anak-anak sekolah yang kesemuanya duduk berjajar dalam warung mie ayam tanpa begitu mempedulikan hawa panas di siang bolong demi semangkuk mie ayam berkuah kental yang kenikmatannya lebih dari sekedar rasa sedap di mulut.

Seperti lazimnya jika berkunjung di suatu daerah, maka pertanyaan yang paling gampang muncul adalah pertanyaan mengenai lokasi tempat makan yang enak. Sebenarnya yang juga menjadi ikon Wonogiri adalah Waduk Gajah Mungkur dan warung makan masakan ikan yang berjajar di sekitarnya. Tapi karena tulisan ini membahas mie ayam bakso, ijinkan saya menyarankan Mie Ayam Bakso SD Enem.

Gerobak Mie Ayam SD 6
Gerobak Mie Ayam SD 6 | © Ardhi Setiawan

Sebenarnya nama asli warungnya adalah Mie Ayam Es Asem, tapi karena lokasinya yang terletak di depan SD 6 Wonogiri, maka orang-orang menyebutnya dengan nama yang lebih singkat, yaitu Mie Ayam SD 6. Bahkan ajakan “Ayo ngesde enem” yang terdengar seperti mengajak bersekolah itu menjadi ungkapan yang artinya “Ayo makan mie ayam di depan SD 6 Wonogiri.” Tidak kurang, tidak lebih.

Mie ayam bakso SD 6 memenuhi segala aspek sesuai kriteria sebagai mie ayam bakso enak seperti yang saya siratkan di atas. Nilai tambah mie ayam ini adalah mienya yang lebih kenyal dan bentuknya berbeda dari mie ayam Wonogiri lainnya. Kata pemilik warung, mienya dibuat sendiri mulai dari pembuataan adonan hingga mie siap disajikan.

Tidak seperti mie lain yang kebanyakan dibuat di satu tempat kemudian para penjual mie tinggal membelinya dalam bentuk jadi. Tambah lagi ada Es Asem berkolaborasi dengan mie ayam yang kelezatannya menghadirkan lebih dari sekadar rasa sedap di mulut dengan harga total jendral 10.000 rupiah saja. Ya, mie ayam bakso seperti ini tidak lagi hanya sebuah masakan pengganjal perut, ia adalah romansa dan perwujudan rindu menggebu-gebu pada sebuah kota kecil di selatan Solo yang bernama Wonogiri.

Ardhi Setiawan

Pembelajar di persimpangan jalan.