Meruwat Ingatan di Kopi Aroma Prapatan

Kopi Aroma Prapatan
Kopi Aroma Prapatan | © Caesar Giovanni Simatupang

Berbagai jenis toko berjajar di sepanjang jalan Jelambar, Jakarta Barat. Jalanan riuh dengan kendaraan dan sibuk oleh orang-orang yang mondar-mandir dengan tujuan masing-masing. Untuk kesekian kalinya, perjalanan akan tersendat karena sebuah persimpangan yang betul riuh dan arogan, khas Jakarta. Lomba serobot, adu laga, merasa menang saat mendapat jalan.

Diam-diam, sebuah toko kopi berdiri tak jauh dari persimpangan itu, dan menamai dirinya Toko Kopi Bubuk Aroma Prapatan.

Begitulah aroma yang tercium di prapatan itu, seakan api dan bensin kian melaju dan siap beradu lalu meledak. Jikalau Anda hendak mencari masalah datanglah ke sana dan semua siap melayani dengan penuh antusias. Kota panas dan padat, segambar dengan suasana hati para penghuninya yang panas dan padat. Siap sulut, siap sambar, siap meledak. Toko kopi yang sudah berdiri sejak 30 tahun lalu ini sudah menjadi saksi bisu pahitnya aroma ibu kota.

Di kios yang kira-kira berukuran 3 x 3 meter itu berjubel banyak kaleng kotak, mirip dengan kotak wafer lebaran, berisi kopi. Karat menyebar pada kaleng kopi itu. Tak hanya kaleng tua, ada pula mesin penggiling klasik dengan kesan telah mati dan hidup berkali-kali. Tak mewah, tidak juga megah, toko kopi yang telah hidup tiga dekade ini menjual beberapa varian kopi Toraja, Aceh, Lampung dan beberapa campuran robusta.

Kopi Aroma Prapatan
Kopi Aroma Prapatan | © Caesar Giovanni Simatupang

Bentuk dan warna biji kopi yang dijual mungkin tidak seseragam kopi yang dijual di kedai kopi modern sekarang ini. Namun jujur, rasanya tak kalah mantap dan nikmat untuk disantap di rumah. Karena disangrai hingga gelap dengan metode Vietnam drip, ditambah dengan susu kental manis atau krimer, biji kopi robusta Lampung toko Kopi Aroma Prapatan sangat nikmat dengan body-nya yang tebal dan rasa coklat yang menyisa di mulut. Cocok untuk ‘ngopi’ sambil bercengkrama bersama teman-teman di rumah. Harganya relatif murah, sekitar 15 ribu rupiah hingga 25 ribu per 250 gram.

Kopi Aroma Prapatan memiliki satu bentuk kenangan akan sejarah, yakni kopi campur jagung. Mungkin ada dari kita yang tahu, bahwa Indonesia memiliki satu jenis kopi bersejarah dengan aroma kolonial selain kopi luwak, yakni kopi campur jagung. Konon, karena dulu tak banyak biji kopi yang tersisa untuk rakyat Indonesia, demi komposisi yang cukup saat menyeduh kopi dan rasa yang tidak berubah, jagung ditambahkan pada biji-biji kopi yang disangrai. Kopi campur jagung ini dijual di toko kopi ini dengan harga 15 ribu Rupiah untuk 250 Gram, sebut saja kopi robusta blend saat hendak membeli. Tak disangka, rasanya dan aromanya hampir sama kuat dengan robusta Lampung yang tanpa jagung. Layak dicoba, sambil mengenang para leluhur yang tidak kebagian banyak kopi di jaman dahulu.

Dilihat dari segi kemasan pun, kopi ini tampak sangat sederhana. Diciduk dengan piring besi dari kaleng berkarat yang kedap udara, kopi lalu dimasukkan ke plastik bersablon satu warna gambar logo kopi Aroma Prapatan. Plastik yang membungkus tak sekedap kaleng di toko, aroma kopi nikmat semerbak menyeruak ke hidung.

Percayalah, tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk membuktikan kualitas rasa kopi yang khas. Kini, persaingan semakin ketat, ekonomi semakin berat, toko kopi ini kian bersaing dengan kopi instan saset dan toko kopi yang menjamur, seperti yang diungkapkan oleh ibu penjaga toko ini. Namun, persaingan ekonomi selalu ada, kopi semakin mudah, tapi pelanggan setia selalu datang demi rasa yang dirindukan.

Datanglah, belilah dan cicipilah, toko Kopi Aroma Prapatan, toko kopi di jalan padat Jelambar yang takkan pernah mati, malah menghidupi dan menghidupkan.

Caesar Giovanni Simatupang

Peminum segala kopi yang percaya bahwa rasa tergantung pada kondisi, konteks dan konsekuensi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405