Merekam Rindu yang Terselip di Kedai Gib-Gib

Calzone Sajian Khas Kedai Gib-Gib
Calzone Sajian Khas Kedai Gib-Gib | © Yasu

Jogja terasa sepi saat lebaran. Maklum, identitas Jogja sebagai kota pelajar membuat banyak pelajar yang “balik kendang” ke kampung halaman. Nah, saat itulah waktu yang tepat jika kamu ingin berkeliling Jogjakarta.

Seorang kawan pernah mengatakan bahwa sebenarnya jika ingin mengelilingi Jogjakarta cukup dengan waktu tiga jam. Caranya, sungguh mudah! Kamu cukup mengelilingi jalan lingkar atau yang biasa disebut dengan ringroad, maka itu sama saja kamu berkeliling setengah Jogjakarta. Tak percaya? Cobalah!

Bagi saya, Jogjakarta adalah rumah. Tempat semua kenangan, rindu, dan harapan pernah hadir di kota tersebut. Yang berpendapat demikian tak hanya saya, hampir setiap orang yang pernah tinggal di Jogja merasakan hal yang sama. Tak kecuali dengan teman-teman saya semasa sekolah.

Rindu dengan teman-teman boleh dijumpai dengan acara reuni. Acara yang membangkitan gairah dan kenangan lawas. Merekam kesedihan, menertawakan kesengsaraan, meredakan kebahagiaan hingga melantunkan senyuman. Empat hal yang terjadi saat bertemu dengan teman-teman lawas.

Saat itu, kebetulan beberapa teman kecil nan lawas sedang berkumpul di Jogjakarta. Karena hampir lama kami tak bersua, kami ingin menyempatkan diri untuk sekedar tertawa, ngakak bersama. Mengenang masa-masa remaja tanggung yang sering berbuat keonaran.

Seorang teman menyarankan sebuah tempat. Kedai Gib-Gib. Saya sempat mengernyitkan dahi. Apakah itu kedainya mas Gibran anaknya Jokowi? Atau tempat ngopi?. Teman saya hanya bilang, “Kalo mau cari tempat reuni, paling pas ketemuan di Kedai Gib-Gib.”

Saya pun hanya mengiyakan perkataan teman saya. Kemudian saya bergegas untuk segera menuju kedai tersebut. Letaknya di Jalan Wahid Hasyim no 42, Jogjakarta. Pikir saya, ini pasti tempat hits. Karena setahu saya, sepanjang jalan tersebut ada banyak kedai, kafe, atau tempat ngumpul. Mulai dari kafe dengan harga minimalis hingga kafe dengan harga luar biasa.

Dugaan saya tepat. Kedai Gib-Gib bersebelahan dengan Kedai OAK, salah satu kedai yang cukup ngehits di seputaran Jogjakarta. Begitu saya masuk, saya disambut banyak tong dan ban mobil. Oh ternyata kedai Gib-Gib membuat sensasi dengan merasakan duduk di atas ban mobil dengan mejanya berupa tong.

Suasana dalam Kedai Gib-Gib
Suasana dalam Kedai Gib-Gib | © Moddie Alvianto Wicaksono
Bagian dalam Kedai Gib-Gib penuh gambar
Bagian dalam Kedai Gib-Gib penuh gambar | © Moddie Alvianto Wicaksono
Dinding Kedai dipenuhi pigura
Dinding Kedai dipenuhi pigura | © Moddie Alvianto Wicaksono

Kedai Gib-Gib menawarkan aneka macam kudapan roti, calzone, dan juga sandwich. Bagi saya yang penyuka roti, tentu ini tawaran menarik dan menggiurkan. Terlebih kata teman saya, roti yang dihasilkan adalah roti dengan kualitas mumpuni. Tak kalah dengan toko roti yang harga selangit dan memiliki banyak cabang dimana-dimana.

Apalagi calzone. Ini hidangan utama dan andalan di kedai Gib-Gib. “Pastel besar” tersebut kata teman saya itu renyah dan rasanya mak nyuss. Mau rasa apa aja dijamin akan memanjakan lidah dan menyenangkan mata.

Berbekal hasutan tersebut, saya memesan calzone creamy nori. Itu adalah calzone yang berisi keju dan rumput laut. Sedangkan teman saya memesan roti bakar. Saya hanya berharap semoga rasanya sesuai ekspektasi.

Sembari menunggu pesanan tiba, saya berbincang dengan salah satu teman saya yang secara kebetulan pemilik dari Kedai Gib-Gib. Namanya Yasa. Ia bukan sekadar pemilik tunggal. Ada Singgih dan Satria. Saya penasaran kenapa namanya Gib-Gib. Kok bukan diberi nama Calzone Jogja atau Calzone cepat saji. Menurut Yasa, Gib-Gib adalah nama panggilan anak dari salah satu pemilik. Tidak mau diberi nama lain karena dulunya pernah jualan dengan memakai nama tersebut saat masih berkonsep gerobakan. Daripada diberi nama susah dan njlimet lebih baik mempertahankan nama lama.

Roti Kedai Gib-Gib
Roti Kedai Gib-Gib | © Yasu

Yasa juga menjelaskan bahwa kedai Gib-Gib awalnya adalah tempat pembuatan roti. Pemasarannya tak hanya rentetan kedai-kedai besar di Jogjakarta melain mencakup ke luar Jogjakarta. Karena salah satu pemilik pandai membuat calzone, maka dibuatlah kedai yang menyajikan roti dan calzone.

Cukup 15 menit saya menunggu, pesanan telah tiba. Mata saya berbinar-binar melihat empat potongan pizza tersaji di meja. Ditambah dengan aroma roti bakar yang cukup menggoda mulut saya. Rasanya saya ingin menyumpal kedua makanan tersebut ke dalam mulut saya. Tak peduli masih panas, saya mencoba mengangkat salah satu pizza.

Ada mozzarella yang lumer ketika saya meraihnya. Aduh, ini menambah gairah saya untuk segera menghabiskan pizza ini. Hanya butuh tiga tiupan, maka tandas pizza yang berada di tangan kanan saya. Sungguh, pernyataan teman saya benar adanya. Terbaik. Bintang sembilan.

Berikutnya roti bakar. Ukuran yang cukup besar membuat mata saya sedikit terbelalak. Bentuknya persegi empat dipotong menjadi dua bagian. Sekali lagi, tak butuh waktu lama. Roti segera diraih dan dalam waktu sekejap hilang ditelan oleh mulut saya. Terbaik. Bintang sembilan.

Tak heran, banyak kedai maupun toko roti ternama banyak yang memesan roti dari kedai Gib-Gib. Saya berani jamin. Itu roti terenak yang pernah saya coba di Jogjakarta. Saya pikir kamu atau teman-teman kamu harus mencoba. Cobalah. Rasakan sensasinya. Pasti ketagihan. Jika saya salah, kamu pasti hanya menyanggah.

Tampak Depan Kedai Gib-Gib, Saya bersama dua pemiliknya
Tampak Depan Kedai Gib-Gib, Saya bersama dua pemiliknya | © Moddie Alvianto Wicaksono

Kedai Gib-Gib telah beroperasi sejak Maret 2017. Menurut teman saya, dari hari ke hari pelanggannya makin bertambah. Tak terkecuali bagi pelanggan yang memesan lewat ojek online. Saya hitung sejak saya duduk memesan makanan hingga menandaskan senua kudapan, ada 11 sampai 12 ojek online yang wara-wiri di kedai tersebut.

“Calon pengusaha sukses” ujar saya kepada Yasu. Yang dipuji hanya tersenyum sembari menundukkan kepala dan mengucap kata: Amin.

Tak terasa, sembari makan dan ngobrol ngalor-ngidul berbagai hal, malam semakin larut. Kami harus mengakhiri obrolan panjang sebelum jam 00.00. Kedai tersebut tutup tepat dini hari. Obrolan yang menyenangkan disambut dengan kudapan yang membahagiakan. Paduan yang pas untuk mengisi super reuni saat Lebaran.

Gib-Gib adalah salah satu contoh kedai yang merangkak dari usaha gerobak hingga menjadi sebuah kedai. Suatu usaha yang harus diapresiasi. Tak mudah bagi seorang pengusaha untuk jatuh kemudian bangkit kembali secara simultan. Butuh tekad dan mental yang kuat. Pilihan berbisnis dan cita rasa yang disajikan adalah kunci untuk mempertahankan sebuah bisnis makanan. Dan Kedai Gib-Gib telah mengajarkan kepada saya sebuah hal. “Jangan pernah ragu untuk berbisnis.”

Moddie Alvianto Wicaksono

Pemain Futsal Amatir