Mereka yang Bermain di Kebun Kopi

Anak-anak di Dusun Sumber Candik sedang bermain sekaligus membantu orangtua memanen kopi.
Anak-anak di Dusun Sumber Candik sedang bermain sekaligus membantu orangtua memanen kopi. | © Fawaz

Hari pertama kedatangan Tim Ekspedisi Kopi Miko ke Dusun Sumber Candik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, seluruh tim didampingi sukarelawan Sokola Kaki Gunung dalam melakukan kunjungan ke kebun kopi di sekitar Sumber Candik. Kami menyusuri punggung bukit mulai dari ketinggian 700 hingga 800 mdpl. Sebentar saja meninggalkan rumah tempat kami menginap selama di Sumber Candik, bentangan kebun kopi di lereng bukit sudah terlihat. Beberapa kebun sudah selesai dipanen, lainnya, buah dan bunga kopi masih bertengger di dahan. Aroma bunga kopi yang khas meruak di sepanjang perjalanan kami.

Di tengah jalan beberapa kali kami berpapasan dengan pengendara sepeda motor yang membawa karung hasil panen kopi. Jalan yang sempit menyebabkan kami harus menyingkir memberi jalan. Di lereng bukit beberapa warga sibuk mengarit rumput untuk pakan ternak mereka. Kami juga sempat berpapasan dengan rombongan yang terdiri dari orangtua, remaja dan anak-anak yang baru selesai memanen kopi. Kebanyakan dari mereka perempuan.

Salah seorang dari rombongan itu perempuan berusia sekira 12 tahun. Sembari berjalan turun ia membawa karung berisi buah kopi yang diangkut di atas kepala. Ia tersenyum saat berpapasan dengan kami. Tak sempat menyapa karena harus segera melanjutkan perjalanan pulang. Seorang anak yang lebih kecil menenteng panci dan piring kosong yang dibawa untuk mewadahi bekal makan siang.

Saat saya dan Nody berkunjung ke kebun Pak Riki di hari berikutnya, 3 orang anak dengan rentang usia antara 11 dan 15 tahun melintas bersama ibunya. Mereka pergi menuju hutan mencari rumput agar ternak mereka di rumah tidak kelaparan. Jauh sebelumnya di tempat yang sama, saya berpapasan dengan Ifa (11 tahun) sedang memikul setumpuk kayu bakar di atas kepalanya. Kalau dengan anak usia belasan tahun dengan tumpukan rumput di atas kepalanya, hampir setiap sore saya bertemu mereka.

Usai meletakkan teko berisi kopi panas, Rika bergegas mengambil ember yang diikat dengan selembar kain mengelilingi pinggangnya. Ia baru saja tiba di kebun ketika saya dan Nody asyik mengobrol dengan bapaknya dan Riki, kakaknya. Menyusul ibu, kakek dan nenek, ia memetik buah kopi dari dahan. Menurut Pak Riki, saat libur sekolah atau guru tidak datang mengajar, Rika dan Riki ikut ke kebun memanen kopi.

“Ya kalau mereka mau saja, Mas. Kalau nggak mau ya nggak apa-apa, nggak dipaksa,” ujar Pak Farhan mengenai keterlibatan anak-anak saat panen kopi. Kemudian ia menambahkan, “Kalau nggak mau ke kebun, mereka jaga adiknya di rumah atau main sama teman-temannya. Tapi kalau anak saya seringnya saya ajak ke kebun. Kalau main tidak diawasi takut panjat pohon dan jatuh, bahaya kan itu.”

Keterangan Pak Farhan, mulai usia belasan anak-anak di Dusun Sumber Candik sudah mulai dilibatkan dalam pekerjaan sehari-hari. Mencari rumput, kayu bakar, panen kopi di musim panen, membantu merawat kebun, menjaga adik, dan beberapa pekerjaan lainnya. Semua itu dilakukan secara sukarela di sela kegiatan belajar, mengaji, dan bermain bersama teman-teman.

Saat saya bertanya langsung kepada anak-anak terkait keterlibatan mereka dalam pekerjaan-pekerjaan orangtuanya, jawaban mereka hampir sama. Anak-anak tetap mengaitkan keterlibatan mereka dengan konteks bermain. Mereka memanfaatkan kesempatan membantu orangtua untuk bisa bermain lebih jauh, melihat kebun milik orangtuanya, juga melihat hutan lindung yang terletak cukup jauh di utara kampung.

Anak-anak di Dusun Sumber Candik sedang bermain sekaligus membantu orangtua memanen kopi.
Anak-anak di Dusun Sumber Candik sedang bermain sekaligus membantu orangtua memanen kopi. | © Fawaz
Anak-anak di Dusun Sumber Candik sedang bermain sekaligus membantu orangtua memanen kopi.
Anak-anak di Dusun Sumber Candik sedang bermain sekaligus membantu orangtua memanen kopi. | © Fawaz

Di era modern dengan jargon hak azasi manusia yang kadang sering kebablasan, terkait hak anak, banyak pihak yang menganggap keterlibatan anak-anak dalam pekerjaan berat yang semestinya belum layak mereka lakukan melanggar hak anak. Kegiatan-kegiatan semacam itu merupakan bagian dari perbudakan anak. Seharusnya anak-anak fokus belajar dan bermain, belum bisa dilibatkan dalam pekerjaan-pekerjaan orangtua mereka.

Menanggapi isu perbudakan anak dikaitkan dengan keseharian anak-anak di Sumber Candik, saya meminta tanggapan Kernet dan Tuti, dua orang sukarelawan Sokola Kaki Gunung yang mendampingi anak-anak dan orangtua di Sumber Candik belajar literasi dasar. Menurut mereka, apa yang terjadi di Sumber Candik sama sekali bukan perbudakan anak. Harus dibedakan anak-anak dengan kehidupan perdesaan yang sudah sejak kecil dilibatkan dalam proses kehidupan inti komunitas mereka.

Bekerja di kebun, mencari rumput dan kayu bakar, ikut memanen kopi adalah bagian dari proses belajar anak-anak. Lain kasus di perkotaan, anak-anak bekerja di pabrik, menjadi buruh, dibayar dengan upah yang tak layak, jam belajar dan waktu bermainnya hilang. Atau anak-anak yang dipaksa mengemis oleh orangtua mereka, disewakan kepada orang lain untuk dibawa mengemis. Itu jelas perbudakan anak. Mereka yang aktif mengangkat isu ini, semestinya fokus di sana, bukan malah mengusik kehidupan anak di desa yang bekerja membantu orangtua adalah wadah utama proses belajar mereka menghadapi kehidupan kelak.

Saat saya menanyakan kepada beberapa orangtua apakah anak-anak mereka mendapat bayaran saat ikut panen kopi atau mencari rumput dan kayu bakar, mereka menjawab, tidak. Orangtua sama sekali tak menganggap apa yang anak-anak mereka lakukan itu sebagai sebuah pekerjaan yang harus dibayar. Mereka tidak mempekerjakan anak. Anak-anak diajak, jika mau silakan ikut, jika tidak ya bukan masalah.

“Kalau anak-anak kami dilarang membantu kami, terus nanti kalau mereka sudah besar bagaimana bisa bekerja, Mas? Kan di sekolah nggak ada pelajaran cari rumput, cari kayu bakar, petik kopi, merawat kebun,” tanya Pak Farhan saat saya meneleponnya kemarin tadi, meminta tanggapannya mengenai larangan mempekerjakan anak.

Ekspedisi Kopi Miko

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba