Merayakan Warna dan Perjuangan Advokasi Lingkungan

Infografis Perjuangan WALHI
Lihat Galeri
6 Foto
Para Seniman dalam Pameran Ini
Merayakan Warna dan Perjuangan Advokasi Lingkungan
Para Seniman dalam Pameran Ini

© Aditia Purnomo

Para Pejuang Advokasi Lingkungan
Merayakan Warna dan Perjuangan Advokasi Lingkungan
Para Pejuang Advokasi Lingkungan

© Aditia Purnomo

Pojok Tanah Air yang Menampilkan Kebudayaan Nusantara
Merayakan Warna dan Perjuangan Advokasi Lingkungan
Pojok Tanah Air yang Menampilkan Kebudayaan Nusantara

© Aditia Purnomo

Menolak Pabrik Semen di Rembang
Merayakan Warna dan Perjuangan Advokasi Lingkungan
Menolak Pabrik Semen di Rembang

© Aditia Purnomo

Keroncong Hibrida Menggebrak Galeri WALHI
Merayakan Warna dan Perjuangan Advokasi Lingkungan
Keroncong Hibrida Menggebrak Galeri WALHI

© Aditia Purnomo

Infografis Perjuangan WALHI
Merayakan Warna dan Perjuangan Advokasi Lingkungan
Infografis Perjuangan WALHI

© Aditia Purnomo

Apa hal terbaik yang bisa kita lakukan dalam perayaan ulang tahun? Bisa mengundang teman sebanyak-banyaknya, menyiapkan perayaan yang meriah, atau sekadar memanjatkan doa kepada yang maha esa. Tergantung seberapa besar perayaan yang kita inginkan. Tergantung semampu apa kita membuat perayaannya.

Maka dalam rangka merayakan ulang tahun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia yang ke 36 tahun ini, sebuah perayaan dihelat di markas mereka di kawasan Mampang Prapatan. Menjelang hari jadi yang sebenarnya jatuh pada tanggal 15 Oktober nanti, sebuah pameran terlebih dulu dihelat sebagai pembuka rangkaian acara perayaan HUT mereka.

Pada perayaan ultah kali ini, WALHI tidak hanya mengundang teman sebanyak-banyaknya untuk hadir di perayaan meriah yang mereka gelar. Tapi WALHI juga mencoba mengajak para tamu yang hadir di perayaan mereka untuk melihat kondisi nyata advokasi lingkungan di Indonesia.

Dengan menggandeng Andreas Iswinarto bersama beberapa kawan lainnya, WALHI menggelar sebuah pameran rupa yang menampilkan rupa dan warna perjuangan advokasi lingkungan di Indonesia. Menggunakan tajuk “Perayaan Warna”, pameran ini menampilkan ragam rupa kehidupan dan perjuangan masyarakat kita.

Dalam pameran ini, Andreas benar-benar tidak tampil sendiri. Ia mengajak beberapa kolega, serta beberapa teman muda untuk mengisi pameran ini. Ada beberapa nama yang sudah tidak asing di dunia seni rupa seperti Dolorosa Sinaga, Wijatmika Ika dan Toni Malakian. Juga hadir nama Chairun Nissa, Michelle R Yudhita, serta Efi Sri Handayani yang mewakili anak muda dalam pameran ini. Selain itu ada Galis Agus Sunardi dan Budi Santoso yang turut menyumbangkan karyanya.

Menurut Andreas, pertemuannya dengan beberapa teman muda ini disebabkan aktifitasnya dalam advokasi jaringan masyarakat Kendeng yang menolak keberadaan pabrik semen di sana. Kebetulan, Michelle, Toni, dan Efi juga aktif terlibat dalam gerakan ini. Karena keterlibatan dalam gerakan yang sama serta upaya mereka merekam perjuangan masyarakat Kendeng dalam gambar, mereka kemudian memiliki wacana untuk mengadakan satu pameran tersendiri tentang masyarakat Kendeng. Sayangnya hal tersebut belum mampu terlaksana.

Beruntung, meski pameran itu belum terlaksana mereka punya kesempatan untuk menampilkan karya-karya mereka dalam agenda ini. Ada satu pojok bernama Perayaan Bumi Kendeng yang menampilkan gambar-gambar Efi, Michelle, dan Toni tentang perjuangan masyarakat Kendeng. Selain itu, ada pula pojok dengan tajuk Perayaan Solidaritas yang menampilkan gambar Marsinah.

Andreas sendiri menampilkan karyanya di dua pojok bertajuk Perayaan Kehidupan yang menampilkan permainan warna ala Andreas dan Perayaan Tanah Air yang menggambarkan kehidupan masyarakat adat di Indonesia. Dan terakhir, ada pojok bertajuk Perayaan Keberagaman yang menampilkan karya penuh warna dari Wijatmika Ika.

Pada karya-karya yang terpampang di ruang galeri WALHI ini, saya melihat betapa beratnya perjuangan advokasi lingkungan hidup di Indonesia. Bukan hanya soal perjuangan masyarakat Kendeng, saya kira. Tapi juga pada banyak perlawanan lain seperti penolakan reklamasi di Bali dan Jakarta serta perlawanan terhadap aktifitas tambang lainnya.

Begitu anda memasuki ruang galeri, anda langsung disuguhi gambar-gambar para pejuang lingkungan yang harus tewas karena perjuangannya. Agak tragis memang, mengingat sebagian mereka hanyalah masyarakat yang tak ingin hak hidupnya dirampas korporasi agar lingkungan tempatnya mencari hidup rusak akibat aktifitas tambang.

Selain itu anda juga bisa menyaksikan semacam infografis yang memetakan sejarah WALHI sejak awal berdiri pada tahun 1980. Pada infogafis ini, anda bisa mengetahui perjuangan WALHI dari periode ke periode dalam mengawal advokasi lingkungan di Indonesia.

Pameran dan perayaan ini akan berlangsung sedari tanggal 10 hingga 31 Oktober 2016. Nantinya akan ada agenda workshop dan bincang-bincang kebudayaan di galeri ini masih dalam rangka perayaan ultah WALHI yang ke 36 ini. Pada puncak perayaannya, bakal dilaksanakan jalan santai di kawasan Monumen Nasional serta Workshop WALHI Memanggil sekaligus acara lelang karya lukisan dalam pameran ini.

Pada pembukaan yang dilaksanakan semalam, para pengunjung larut dalam suasana riang dan bahagia. Bukan saja karena mereka dihibur sebuah grup musik pendatang baru bernama Keroncong Hibrida yang digawangi oleh Ibeth Koesrini, Alfa Gumilang, Jibal Windiaz, Ardiansyah Mbe, serta Agnes Gurning. Namun juga karena kabar gembira tentang kemenangan warga Kendeng dalam putusan Mahkamah Agung terkait gugatan terhadap izin Pabrik Semen Indonesia di Rembang.

Kemenangan ini berarti, izin PT Semen Indonesia di pegunungan Kendeng sana telah dibatalkan. Satu kemenangan besar di kala brutalnya pembangunan yang digalakkan negara tanpa memperhatikan nasib hidup orang banyak. Terbayang senyum bahagia para Kartini Kendeng yang terus berjuang mempertahankan hidupnya serta teman-teman lainnya yang ikut berjuang bersama dan bersolidaritas terhadap gerakan ini. Tentunya kemenangan ini menjadi kado indah bagi WALHI pada perayaan ulang tahunnya kali ini.

Aditia Purnomo

Mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung lulus.