Merayakan Sisa Hari Bersama Kopi Sanger dan Tape Bakar

Warung yang menyediakan kopi enak dengan harga murah dan buka hingga larut malam adalah tempat menyenangkan untuk berbagi cerita hingga larut malam. Baik itu bersama kawan, pacar, keluarga, atau pun buku-buku yang kadang belum selesai dibaca karena berbagai kesibukan. Kopi bukan sekadar penahan kantuk, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang makin hari kian bergegas. Meminum kopi boleh jadi medium untuk berhenti sejenak di hari yang acapkali berjalan terlalu cepat.

Malam itu, setelah memutuskan melupakan sejenak tugas-tugas kuliah, saya mampir ke Omah Kuphie Dara Aceh. Ini kali pertama saya mampir ke warung itu. Warung kopi ini terletak di Timur, agak ke Selatan kampus 4 Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dari arah Selatan, warung ini berada di kanan jalan berjejeran dengan toko dan warung lainnya. Tempatnya cukup luas, bersih, nyaman, serta menyediakan wifi gratis. Cocok sekali untuk berdiskusi atau sekadar omong-omong berdua.

Area duduk Omah Kophie
Area duduk Omah Kophie | © Ardhi Setiawan

Menggunakan nama Aceh, saya berencana untuk memesan kopi Gayo, ditubruk tentu saja. Tapi, di daftar menu, tertera Kopi Sanger yang kebetulan saya belum pernah meminumnya. Saya pun memesan kopi sanger hangat dan tape bakar, kebetulan saya belum pernah memakan tape bakar. Harga keduanya tertera di daftar menu, kalau pun ternyata nanti rasanya tidak enak, paling tidak saya hanya kehilangan uang sebesar Rp14 ribu.

Dari meja yang saya tempati, saya dapat melihat barista di meja depan yang tampak bersemangat meracik kopi. Kedua tangannya memegang gelas logam berukuran besar berisi kopi ia pindahkan dari satu gelas ke gelas yang lain, berkali-kali. Kemudian setelah agak lama, cairan kopi dituangkan ke gelas kaca berukuran sedang yang di dalamnya sudah terdapat susu kental manis melalui saringan berukuran besar.

Pesanan saya datang. Kopi berwarna kecoklatan masih menyisakan buih di bagian atas, dengan susu kental manis di dasar gelas. Rasanya tidak begitu pahit, bahkan ringan dan menyenangkan, jika diaduk memang bertambah lebih manis, akan tetapi tidak menghilangkan rasa kopinya. Cocok sekali sebagai kawan berbagi cerita. Kemudian saya mencoba tape bakarnya, baunya harum. Di bagian atas tape terdapat parutan keju dan susu coklat.

Kurang ajar benar, ternyata enak betul rasanya!

Barista Omah Kuphie
Barista Omah Kuphie | Sumber: Instagram
Salah satu menu Omah Kuphie
Salah satu menu Omah Kuphie | © Ardhi Setiawan

Kopi yang tidak begitu ‘keras’ berpadu dengan tape bakar yang tidak begitu manis ternyata merupakan perpaduan ciamik yang membahagiakan. Malam itu benar-benar menyenangkan. Kopi nikmat, tape bakar, dan buku bagus adalah kombinasi yang tidak akan pernah gagal untuk merayakan sisa hari. Saya memesan tape satu porsi lagi, duduk di sana hingga larut dan ternyata warung malah semakin ramai.

Setengah satu malam saya memutuskan untuk pulang. Warung masih ramai, bahkan hingga mencapai halaman depan. Ketika membayar, barista tadi merangkap sebagai kasir rupanya.

“Sendirian saja, Dik?,” tanyanya.

Saya tahu, pertanyaan ini hanya basa-basi agar terlihat akrab seolah sudah langganan, padahal baru pertama kali itu saya mampir. Tapi saya lebih suka mendengarkan basa-basi daripada menyimak ocehan seorang megalomaniak yang berpura-pura mengeluhkan sesuatu padahal hanya ingin pamer semata. Lagipula, barista tadi sudah membuatkan kopi yang sedemikian enak untuk saya. Toh, jika ada kawan menanyakan warung kopi enak dan murah, saya tidak akan ragu mengajak kawan saya ke sini untuk minum kopi sanger dan menyantap tape bakar sambil merayakan sisa hari.

Ardhi Setiawan

Pembelajar di persimpangan jalan.