Merayakan Seabad Otto Djaya

Suasana Pameran 100 Tahun Otto Djaya
Suasana Pameran 100 Tahun Otto Djaya | © Fandy Hutari

Pada 23 Juni 2002, maestro lukis Otto Djaya wafat. 14 tahun kemudian, tepatnya 30 September 2016, Galeri Nasional Indonesia “menghidupkan” kembali sang maestro dalam pameran bertajuk “100 Tahun Otto Djaya”. Pameran yang didedikasikan untuk merayakan ulang tahun pelukis kelahiran Rangkasbitung, 6 Oktober 1916 tersebut menampilkan 200 karyanya. Pameran ini dikuratori oleh Rizki A. Zaelani dan Inge-Marie Hoist.

Dalam pameran itu, mayoritas lukisan Otto menggambarkan tokoh pewayangan, Punakawan. Namun, Otto hanya menggambar Petruk dan Gareng. Bagong sesekali dimunculkan. Semar, tak ada sama sekali dalam lukisannya.

Tokoh Petruk dan Gareng dibuat sangat mirip dengan kehidupan orang-orang dalam keseharian. Semisal, dalam lukisan berjudul “Bersepeda Motor” yang dibuat pada tahun 2000. Lukisan yang digoreskan mantan tentara pada masa revolusi itu bercerita tentang Petruk yang sedang mengendarai motor memboncengi perempuan seksi. Di belakang Petruk, ada Gareng yang juga bersepeda motor memboncengi seorang pria. Di sekitar mereka, ada orang-orang yang juga bersepeda motor.

Ada pula lukisan berjudul “Lomba Tarik Tambang” yang dibuat pada tahun 1997. Dalam lukisan ini, Otto menampilkan Petruk, Gareng, dan seorang dewi─mungkin Shinta, sedang beradu tarik tambang dengan para raksasa─tiga tokoh jahat dalam pewayangan. Sedangkan Bagong menjadi jurinya. Ada pula Gatot Kaca dan beberapa tokoh wayang yang menyaksikannya.

Lukisan yang menghadirkan tokoh Punakawan, yang banyak menyita perhatian adalah “Petruk Jadi Raja”. Lukisan berukuran besar ini menampilkan Petruk di atas singgasana emas, diangkat empat orang dan diiringi rakyat. Terlihat pula Gareng dalam iring-iringan itu.

Lukisan Bersepeda Motor
Lukisan Bersepeda Motor // Otto Djaya | © Fandy Hutari
Petruk Jadi Raja
Lukisan Petruk Jadi Raja // Otto Djaya | © Fandy Hutari

Dalam cerita pewayangan, lakon Petruk Jadi Raja adalah sebuah sindiran: jika sesuatu diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Petruk tak memiliki watak sebagai pemimpin yang baik. Jika ia memimpin, maka terjadi kekacauan dan kehancuran. Selain itu, ada pula lukisan Petruk dan Gareng yang menolong korban banjir, bermain kuda lumping, meminum jamu, dan sebagainya.

Lantas, kenapa Petruk dan Gareng? Otto dikenal sebagai pelukis yang menarik budaya Jawa ke dalam lukisannya. Dalam buku The World of Otto Djaya (1916-2002) yang ditulis Inge-Marie Hoist disebutkan, dalam imajinasi Otto Punakawan adalah dewa-dewa yang turun dari kahyangan. Punakawan, dalam pertunjukan Wayang, kerap muncul sebagai tokoh yang ceplas-ceplos. Mereka sering kali menertawakan dan membuat guyonan yang menyingkap bebalnya lingkungan aristokrat.

Menurut Inge, Otto tak menampilkan Semar karena ia memproyeksikan dirinya sendiri sebagai figur bapak, yakni Semar sendiri. Ada pula informasi yang mengatakan, Otto menginisiasikan dirinya sebagai Petruk dalam lukisannya.

Pelukis yang pada 1947 hingga 1950 tinggal di Belanda itu, mengisahkan Petruk dan Gareng sesuai karakternya. Gareng adalah tokoh Punakawan yang memiliki kecerdasan. Ia rasional dan tak emosional. Sedangkan Petruk merupakan orang yang sembrono, dan jarang menggunakan nalarnya. Keduanya dilukiskan Otto sesuai karakternya. Punakawan ini muncul dalam lukisan Otto pada 1960-an.

Satir dan Jenaka

Tentu bukan sesuatu yang mengherankan jika lukisan Otto sangat beragam dalam hal tema. Otto juga banyak menampilkan lukisan bernuansa religi, seni tradisi, mitos, dan sindiran politik. Lukisan-lukisan bernuansa religi terlihat dalam karya-karyanya yang menghadirkan sosok Dewi Kwam Im. Yang beraroma mitos sangat jelas terlihat di karyanya yang melukiskan Ratu Pantai Selatan. Seni tradisi pun tak kalah kaya. Otto menghadirkan beragam bentuk seni, mulai dari kuda lumping, tari kecak, pencak silat, penari kipas, reog ponorogo, dan penari jaipong ke dalam kanvas.

Lukisan Otto Djaya bertema seni tradisi
Lukisan-lukisan Otto Djaya bertema seni tradisi | © Fandy Hutari
Lukisan Perang terhadap Korupsi
Lukisan Perang terhadap Korupsi | © Fandy Hutari

Tokoh pewayangan lain yang dihadirkan Otto adalah Arjuna. Misalnya saja lukisan berjudul “Arjuna dan Tujuh Bidadari”, “Arjuna Tapa”, dan “Arjuna Bertapa”. Soekarno yang lantang berpidato disaksikan rakyat juga tak lepas dari tangan dingin Otto. Pada awal terbentuknya republik ini, disebutkan dalam buku Inge, Otto memang rajin mengikuti Bung Karno yang berpidato keliling Indonesia. Salah satu karyanya berjudul “Pidato Presiden Soekarno” yang ia buat pada 1963.

Yang menarik untuk diamati adalah, ada pula lukisan Otto yang menelanjangi, kalau tidak mau dibilang mengolok-olok, dengan sinis situasi politik dan sosial negeri ini dalam lukisannya. Tengoklah lukisan Otto berjudul “Dialog di dalam Kamar” yang dibuat pada 1998. Di situ, Otto menggambar seorang pria berjas dan berdasi, tak lupa peci di kepalanya, sedang berduaan dengan perempuan seksi berkutang merah muda dan berkain merah di atas ranjang. Perempuan itu tidur miring, sedangkan pria duduk manis sembari memelototi wajah perempuan. Saya melihat, ini semacam sindiran Otto terhadap kelakuan pejabat atau pengusaha kita yang doyan “mojok”.

Tengok pula lukisan Otto berjudul “Bos dan Sekretaris” yang ia buat di tahun yang sama. Di sana, Otto melukis seorang pria berdasi yang duduk di atas kursi mengisap cerutu, sembari asyik-masyuk memangku seorang perempuan seksi. Di sebelahnya, ada dua perempuan lain. Apakah ini sindiran untuk para bos perusahaan? Hanya Otto yang tahu persis.

Gejolak politik masa reformasi juga tak lepas dari tangan brilian sang maestro. Dalam lukisannya berjudul “Perang terhadap Korupsi” yang dibuat pada 1999, Otto menggambarkan rakyat yang membawa senjata tajam, mengejar orang-orang berwajah tikus. Di dalam rombongan rakyat itu, ada Petruk di barisan paling depan.

Saya melihat, Otto sangat muak dengan situasi politik pada 1998 hingga 1999. Karya-karyanya, saya amati, banyak mengisahkan sindiran politik dan sosial negeri kita. Meski begitu, bagi siapapun yang melihat langsung lukisannya, kita dibuat marah, sekaligus tertawa. Sindiran cerdas ala Otto. Selain lukisan, ada artikel-artikel yang memuat soal Otto di media massa.

Nuansa Indonesia pun dihadirkan Otto dalam karya-karyanya. Ia menggoreskan warna hijau dan biru sebagai warna yang dominan. Pelukis mantan anggota Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia (Persagi) ini pun kerap menggambarkan gunung, pelangi, air, dan sawah sebagai latar belakang lukisan-lukisannya. Tampaknya, dari sini Otto terlihat terpengaruh gaya lukisan Mooi Indie (Hindia Molek) yang digadang-gadang para pelukis Belanda zaman kolonial. Meski begitu, ia tak pernah menyerapnya begitu saja. Ia sering mengadaptasinya, dan menciptakannya dengan yang baru. Tak menjiplak.

Lukisan-lukisan Otto Djaya 2
Lukisan-lukisan Otto Djaya | © Fandy Hutari
Lukisan-lukisan Otto Djaya 1
Lukisan-lukisan Otto Djaya | © Fandy Hutari
Aneka arsip menyoal Otto Djaya di media massa
Aneka arsip menyoal Otto Djaya di media massa | © Fandy Hutari

Otto melewati rentang lebih dari 60 tahun berkarya. Menurut Inge, Otto merupakan seniman nonkonformis. Ia tak pernah mengikuti arus tren seni manapun dan memiliki gaya estetika dan reflektifnya sendiri. Banyak yang bilang, Otto bukan hanya pelukis, tapi ia juga seorang pendongeng.

Inspirasinya dalam melukis didapat dari membaca koran, menonton televisi, dan kehidupan yang dilihat serta dialaminya sehari-hari. Maya dan Asoka, dua anak Otto, mengatakan ayah mereka pasti ikut pergi ke pasar setiap kali ada kesempatan. Mereka juga mengatakan, saat inspirasi tak datang, Otto akan menggalinya dari apa saja yang terkenang di memorinya.

Pameran ini akan berlangsung dari 30 September hingga 9 Oktober 2016 mendatang. Jadi, mari rayakan hari jadi sang maestro dengan karya-karyanya yang membuat kita tertawa, marah, dan terpesona.

Fandy Hutari

Penulis dan peneliti sejarah. Berminat pada kajian sejarah hiburan, terutama film dan teater masa kolonial.