Merayakan Jeda Musim Bertani dengan Bermain Gasing

Filosofi gasing adalah keseimbangan gerak. Dengan begitu, proporsi ukuran (bentuk, lingkar, tinggi, berat, presisi letak poros) menjadi penting. Penyimpangan atas poin-poin tadi tak bisa berarti lain selain mati. Bagi komune masyarakat agraris yang bermukim di empat desa pegunungan Bali Utara yakni desa Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umejero (lebih dikenal dengan sebutan Catur Desa atau Adat Dalem Tamblingan), gasing adalah ekspresi budaya yang kontekstual, punya nyawa dan menyejarah.

Tak berlebihan rasanya kalau keempat desa pertanian tadi disebut sebagai barometer yang tepat setiap kali orang bicara tentang gasing Bali. Selain tanah subur dan lanskapnya yang menawan, tradisi gasing boleh jadi merupakan bonus. Perangkat diplomasi tambahan bagi warga Catur Desa untuk lebih dikenal oleh dunia luar. Gasing dimainkan di kala senggang pada jeda musim bertani. Umumnya oleh kelompok laki-laki dari berbagai strata umur, tentu selain beragam ekspresi budaya sebangun yang masih dalam konteks bermain semisal kitiran atau adu layangan.

Arena adu gasing, tempat para seniman, bebotoh dan penggemar gangsing bertemu.
Arena adu gasing, tempat para seniman, bebotoh dan penggemar gangsing bertemu. | © Komang Armada

Kendati gasing sudah dikenal sejak lama dan dimainkan turun temurun, titimangsa kelahirannya sampai saat ini belum terlacak. Hal itu dapat dimaklumi mengingat kultur khas masyarakat pedesaan yang sebagaimana umumnya petani, mereka tidak akurat soal data dan buta budaya dokumentasi.

Di luar semangat yang merepresentasikan sisi riang kanak-kanak, gasing tergolong permainan lintas usia. Maksud saya, kita leluasa memilih tipikal gasing sesuai dengan seberapa terampil dan seberapa besar energi yang kita punya sewaktu memainkannya.

Gasing menyediakan berbagai besaran lingkar dan berat. Mulai lingkar 25 cm seberat 0,25 kg, lingkar 45 cm, 55 cm, 66 cm, dan seterusnya, hingga yang termutakhir, gasing seberat 400 kg bergaris lingkar 790 cm yang dijuluki Jro Tridatu. Jro bermakna terhormat, sementara Tridatu adalah tiga warna utama (merah, hitam, putih) dalam kosmologi kepercayaan masyarakat Hindu-Bali.

Gasing Jro Tridatu digagas oleh Endi Aras, pria kelahiran Blora yang dikenal sebagai pelestari aneka permaianan tradisional khas Indonesia yang gigih. Pengerjaannya dilakukan selama dua pekan di desa Munduk, oleh seniman-seniman gasing setempat dengan digawangi Jro Putu Ardana, klian Desa Pakraman Munduk sekaligus tokoh yang selama ini konsisten merawat eksistensi gasing Bali.

Yang istimewa, selain disertakan dalam ajang Tafisa 2016 lalu di Ancol, gasing raksasa tersebut juga dinobatkan sebagai gasing dengan berat serta ukuran terbesar di dunia.

Klian Adat desa Munduk, Putu Ardana, berpose di sebelah gangsing 'Jro Tridatu'
Klian Adat desa Munduk, Putu Ardana, berpose di sebelah gangsing ‘Jro Tridatu’ | © Komang Armada

Kayu Manut Sesorah Orang Tua

Sebagai instumen permaianan berbahan dasar kayu, gasing pernah dihadapkan pada tahun-tahun kelam manakala permainan ini dicap sebagai ‘ekspresi budaya tak ramah lingkungan’. Argumen justifikasi itu sederhana : karena gasing berbahan kayu, maka tiap proses pembuatannya (otomatis) didahului aktivitas penebangan kayu.

Itu pernyataan mengada-ada. Yang tidak banyak diketahui, tidak semua jenis kayu cocok digunakan sebagai bahan gasing. Sesuai lisan sejarah panjang keberadaan seni gasing, kayu yang dianggap paling sesuai sebagai jujugan bahan dasar adalah kayu limau dan jeruk. Diduga, faktor kerapatan serat, fleksibilitas terhadap cuaca dan keidealan berat kayu menjadi pertimbangan utama pemilihan kedua jenis bahan tadi.

Bahwa belakangan ada beberapa gasing dibuat dengan menggunakan kayu jenis lain seperti kesambi, kemuning, sawo, kelengkeng atau sonokeling, itu tidak lebih dari upaya eksperimen alias coba-coba mengingat populasi tanaman jeruk — dan terutama limau — jumlahnya amat terbatas.

Kebanyakan seniman gasing tetap berpegang teguh kepada sejenis paugeran yang disebut aji-ajian taru, sesorah orang-orang tua yang menyebut bahwa limau dan jeruk merupakan kayu terbaik yang mutlak harus disertakan dalam proses pembuatan sebuah gasing. Entah sebagai kayu utama atau sekadar sematan kecil pada salah satu bagiannya.

Proses pengerjaan gasing 'Jro Tridatu'
Proses pengerjaan gasing ‘Jro Tridatu’ | © Komang Armada

Gasing tergolong permainan yang dinamis. Dalam artian, meski aturan mainnya relatif sama dari waktu ke waktu, namun bentuk, cara memainkan dan teknologi pembuatannya terus berkembang. Salah satunya dengan mengadopsi pakem-pakem dari jenis olahraga lain. Sistem penghitungan poin, misalnya, atau pembatasan jumlah sekaa, atau ketentuan durasi waktu bermain.

Dari sisi teknologi, pembuatan gasing tidak sedikit mengalami pembaharuan di sana-sini. Ketersediaan material dasar menjadi alasan utama. Siasat penghematan terus diupayakan. Kalau dulu harus menggunakan bahan dasar kayu utuh, sekarang, berkat adanya lem khusus (epoxi campuran resin dengan hardener) gasing sudah dimungkinkan dibuat dari serpihan, bahkan limbah kayu.

Aspek aerodinamisnya pun tak ketinggalan memperoleh sentuhan khusus. Para seniman gasing tiba-tiba fasih dengan angka-angka dan kegiatan berhitung. Jari-jari, derajat kemiringan ‘bahu’ gangsing, besaran lingkaran, hingga bilangan pi.

Bak teknisi, mereka menganalisis tinggi rendah ukuran gangsing. Berat terkonsentrasi di pinggir atau sebaliknya terfokus sepenuhnya pada poros (paksi). Kesemua hal tadi ujung-ujungnya berkorelasi terhadap daya tangkal angin, gaya gravitasi, juga terhadap lama putar.

Kalau sebelum era 80-an sebuah gasing rata-rata hanya berputar selama 5 menit di atas tanah berkondisi normal, sekarang sudah dimungkinkan dibuat gasing yang sanggup berputar di kisaran 20 sampai 25 menit.

Sebagai Simbol Pengikat Relasi Vertikal

Sebagai permainan, gasing kerap berfungsi sebagai penyambung tali kekerabatan masyarakat Catur Desa. Di arena adu gangsing mudah dijumpai luapan antusiasme orang-orang ketika tiba-tiba, misalnya, bertemu kerabat atau kawan lama yang selama sekian tahun kehilangan kontak atau ‘rimba’ masing-masing.

Setelah bertukar sapa standar seperti “Apa Kabar?”, “Ke mana saja?”, percakapan selanjutnya dapat dipastikan beralih ke ‘tema besar’ : gasing berikut serba-serbinya. Apa pun itu. Yang dibahas umumnya ‘liukan tari’ gasing-gasing yang tengah mentas, yang beradu-pukul dan berpusing di lapangan.

Memperkirakan kealotan bahannya, mendiskusikan komposisinya, ‘tinjauan’ estetikanya, kesesuaiannya terhadap karakteristik tanah (lempung atau berpasir), menebak-nebak seniman mana yang mengerjakannya, dan seterusnya. Itu momen ketika arena adu gasing menjelma klangenan tempat saling menularkan rasa kagum.

Seniman-seniman gasing desa Munduk
Seniman-seniman gasing desa Munduk | © Komang Armada

Selain terkategori seni profan, unsur kesakralan gasing mustahil diabaikan. Laku-laku seperti memilih hari baik pada saat mempersiapkan bahan, menentukan warna, hingga prosedur melakukan persembahyangan sebelum permainan berlangsung wajib dilakukan. Yang seru, selalu ada kemungkinan menghubung-hubungkan tiap kejadian di lapangan dengan entitas yang berbau niskala, metapisik, dan kadang-kadang klenik.

Warisan Genetis

Di lingkar kekerabatan Catur Desa, regenerasi seniman dan pemain gasing tidak pernah putus. Maka andaikata ada telaah serius dari perspektif etnografi, gasing rasanya pantas digolongkan sebagai warisan yang kuat beralur genetis.

Pewarisan tadi tidak mesti didahului kaidah-kaidah kepelatihan tertentu sebagaimana lazimnya olahraga modern. Semua berlangsung alamiah. Pada musim gasing, lumrah kita saksikan pemandangan anak kecil lima tahunan yang kalis membebatkan tali gasing, menarik-ulur kemudian secara akrobatik melecut-lecutkannya hingga meninggalkan bunyi berdesing di udara.

Ketut Rama, salah satu seniman besar gasing desa Munduk
Ketut Rama, salah satu seniman besar gasing desa Munduk | © Komang Armada

Kecakapan ‘endemik’ jenis itu tidak aneh. Lihat saja anak-anak Bajo yang sejak kanak-kanak sudah akrab dengan laut. Orang-orang Madura yang menganggap karapan sapi sebagai kultur. Atau bagaimana warga Maluku yang secara naluriah terampil dalam permaianan Bambu Gila.

Secara sosial, permainan gasing tak disangkal turut menjadi tameng positif yang menghindarkan anak-anak muda dari perilaku-perilaku tidak berkenan seperti kebut-kebutan motor atau kebiasaan menenggak minuman keras. Yang juga patut disebut, gasing mengasah sikap rendah hati. Bagaimana nilai-nilai sportivitas dipupuk seraya tetap menyimpan hormat kepada pihak lawan — menang atau kalah.

Akhirnya gasing adalah teks yang didaktif. Medium penghubung tiga karakter sekaligus : manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan rahasia-rahasia di sekitarnya.

Komang Armada

Petani, penikmat kopi dan sepakbola.