Menyusuri Jejak George Orwell

Mengingat George Orwell, saya kerap membayangkan generasi yang lahir di awal abad 20: generasi yang lahir dalam situasi ketika perlawanan terhadap kolonialisme tumbuh subur di mana-mana, dengan ide dan visinya yang radikal mampu menembus zaman. Bayangan ini semakin tidak terhindarkan jika membaca ulang 1984, novel yang ditulis Orwell. Hampir berusia tujuh puluh tahun sejak diterbitkan, banyak hal yang masih serupa—dan semakin relevan—dengan apa yang disampaikan Orwell. Inilah era alternative facts, ketika misinformasi merajelala, pikiran dicurigai, dan fakta-fakta begitu mudah diabaikan.

Saya mengingat kembali 1984 ketika kemarin mencoba menyusuri serpihan jejak George Orwell di London (6/9). Ada beberapa komunitas yang menawarkan Orwell Walking Tour sambil di tengah perjalanan membaca penggalan karya Orwell. Namun karena waktunya tidak cocok, saya memutuskan berjalan sendiri. Tentu saja sebelumnya saya googling terlebih dulu situs-situs apa dan di mana saja yang harus dikunjungi untuk sebuah Orwell Walking Tour. Ada banyak sekali ternyata, dan saya memutuskan mengunjungi beberapa saja yang praktis dijangkau dengan berjalan kaki. Beberapa jam berjalan kaki saya rasa tidak masalah.

Saya turun di stasiun Great Portland Street. Keluar dari pintu stasiun, angin lumayan kencang, matahari kelihatan sinarnya. Saya lihat aplikasi cuaca di telepon genggam, 18° celcius. Google map menyarankan saya berjalan ke arah kiri menuju Great Portland Street kemudian Portland Place. Ini akan jadi tujuan pertama saya dalam menyusuri jejak Orwell. Di Portland Place ada Broadcasting House yang jadi kantor pusat BBC. Gedungnya dibangun tahun 1928. Dalam novel 1984, gedung ini menjadi salah satu inspirasi dan lokasi Ministry of Truth, tempat Winston Smith bekerja.

Untuk mencapai Brodcasting House dari stasiun Great Portland Street, saya hanya butuh waktu sekitar 5-6 menit. Sepanjang perjalanan saya melihat kedutaan besar China, kedutaan besar Polandia, Konsulat Jenderal Kolombia, dan Konsulat Jenderal Portugal. Sampai di depan Broadcasting House, saya berhenti beberapa menit.

Senate House. Inspirasi Orwell bikin Ministry of Truth di 1984
Senate House. Inspirasi Orwell bikin Ministry of Truth di 1984. | © Wisnu Prasetya

Dalam 1984, peran Ministry of Truth begitu sentral. Salah satu kerjanya adalah melakukan propaganda di media. Namanya propaganda, ia akan mengeliminir berbagai hal yang merugikan kekuasaan. Yang muncul di media kemudian adalah berita-berita yang sudah melalui serangkaian sensor dan diijinkan oleh kekuasaan. Media kemudian kehilangan daya kritisnya karena sudah dibonsai sejak awal. Kedengaran familiar?

Di kawasan Portland Place juga terdapat tempat yang kemudian diabadikan sebagai ruangan 101 di 1984, tempat penyiksaan di mana orang harus melalui tahapan re-edukasi dan menghadapi ketakutan terbesarnya. Winston Smith dalam 1984 harus menghadapi tikus di ruangan ini.

Dari Broadcasting House saya melanjutkan berjalan kaki. Tujuan selanjutnya adalah Oxford Street. Di jalan ini terdapat bekas kantor BBC India Service di mana Orwell pernah bekerja di tempat tersebut dalam kurun waktu 1941 – 1943. Oxford Street penuh sekali dengan orang. Beberapa orang membawa koper besar. Banyak yang memegang gelas kopi Starbuck. Di dekat pintu menuju stasiun Oxford Circus, dua orang berteriak menawarkan koran sayap kanan London Evening Standard. Koran ini dipimpin bekas menteri keuangan UK George Osborne. Salah satu halaman depannya yang saya ingat ketika Sadiq Khan terpilih sebagai walikota muslim pertama yang memimpin London, Standard memberikan judul “London Has Fallen.”

Suasana di Oxford Street
Suasana di Oxford Street | © Aghnia Adzkia

Di dekat pintu stasiun tersebut ada adegan yang bikin saya deja vu, mengingat tulisan Orwell di Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London. Seseorang mengulungkan makanan kepada pengemis yang duduk di pinggir jalan. Si pengemis mengucapkan terima kasih berkali-kali. Orang yang memberi makan berlalu dengan cepat.

Dalam memoarnya itu, Orwell menulis pengalamannya yang tetap miskin usai pindah ke London. Ia bahkan beberapa hari sempat tinggal di rumah penampungan bagi orang-orang yang tidak punya rumah (homeless). Yang saya ingat, Orwell bilang bahwa orang-orang yang kelaparan sama saja dengan binatang: dalam kondisi lapar, orang tidak akan sempat memikirkan apa-apa lagi kecuali cara untuk mengisi perutnya. Saya hanyut dalam kerumunan orang-orang yang berjalan cepat.

Saya buka google map lagi, di mana Oxford Street nomor 200 yang dulu bekas kantor BBC itu. Tolah-toleh tidak ketemu, saya memutuskan duduk di bangku dekat halte bus. Saya makan bekal sandwich dan buah peach yang saya bawa dari rumah. Enak dan kenyang. Orang-orang berlalu-lalang. Sambil googling saya baru tahu bahwa tempat yang dimaksud sudah tidak ada. Dulu sempat berganti jadi pusat perbelanjaan Peter Robinson dan sekarang sudah berganti lagi. Ya sudah. Pindah ke lokasi selanjutnya.

Newman Arms. Pub kaum proletar di 1984
Newman Arms. Pub kaum proletar di 1984. | © Wisnu Prasetya

Dari Oxford Street saya coba menyusuri beberapa restoran yang jadi kesukaan George Orwell. Salah satunya Newman Arms di Rathbone Street nomor 23. Dari Oxford Street, saya butuh sekitar 10 menit untuk mencapai tempat ini. Kabarnya ini adalah pub tempat Orwell sering minum-minum dan jadi model pub bagi kaum proles (protelariat) di 1984. Di kaca jendela paling atas terdapat gambar seorang perempuan mengenakan baju warna putih. Newman Arms sudah berganti pemilik dan tutup permanen.

Dari Newman Arms saya ke Charlotte Street yang berjarak beberapa blok. Di jalan ini ada Bertorelli, warung makan Italia pertama di London yang jadi salah satu langganan Orwell. Di sini Orwell beberapa kali berjumpa dengan banyak penulis. Kebiasaan Orwell makan di restoran ini sempat dicibir beberapa orang, salah satu alasannya karena Orwell sendiri ketika masih miskin pernah berkata bahwa ia tidak akan pernah makan lagi di restoran mahal.

Sampai di Charlotte Street, saya cari dan telusuri dari ujung jalan tidak ketemu juga nama ini. Di ujung jalan yang berjumpa dengan Tottenham Street banyak restoran Italia. Tapi tidak ada nama itu. Ya sudah. Saya foto saja jalannya.

Ujung Charlotte Street, tempat restoran Bertorelli kesukaan Orwell
Ujung Charlotte Street, tempat restoran Bertorelli kesukaan Orwell. | © Aghnia Adzkia

Saya kemudian menuju ke Senate House yang terletak di Malet Street, di lingkungan kampus University of London. Selain Broadcasting House yang saya tulis di awal, Senate House juga menjadi rujukan Orwell ketika menulis Ministry of Truth. Gedung Senate House terdiri dari 19 lantai dan tingginya mencapai 64 meter, pernah menjadi gedung tertinggi di Inggris.

Gambaran Senate House persis seperti ketika Orwell mendeskripsikan gedung Ministry of Truth: gedung tinggi dengan struktur piramida, dengan semen putih, menjulang tiga ratus meter di udara. Istri Orwell sendiri pernah bekerja di tempat tersebut. Waktu sudah sore ketika saya sampai di Senate House, hawa dingin London mulai menusuk tulang. Masih ada satu tempat lagi yang harus saya tuju, University College Hospital. Untungnya hanya butuh kurang dari 10 menit dari Senate House. Di rumah sakit ini, pada 21 Januari 1950 Orwell meninggal. Kurang dari setahun sebelumnya, 1984 terbit.

Saya menutup perjalanan di depan rumah sakit tersebut. Usai matahari terbenam saya bertemu dengan Nia, teman baik yang sedang magang di The Guardian, dan makan pizza di daerah Charlotte Street. Saya belum membaca sebagian besar karya Orwell, baru Animal Farm, 1984, dan sebagian Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London. Usai perjalanan ini, saya berjanji akan lebih tekun membaca karya-karya Orwell.

Wisnu Prasetya Utomo

Peneliti media di Remotivi. Saat ini sedang melanjutkan kuliah di Inggris.