Menyoal Americano dan Amerikanisasi

Adegan dalam film pendek Korea Selatan “My Americano was Cold, and Your Vanilla Latte was Sweet”
Adegan dalam film pendek Korea Selatan “My Americano was Cold, and Your Vanilla Latte was Sweet”

Americano bisa jadi solusi muram yang disajikan pada suhu 100 derajat celcius dalam gelas plastik, tulis Umberto Eco, yang lazim tersedia di stasiun kereta api untuk keperluan genosida. Sebab, tulisnya dalam esai How to Use Coffeepot from Hell, kopinya orang Amerika itu bakal menyebabkan palpitasi atau jantung berdebar yang parah, karena satu cangkir mengandung lebih banyak kafein ketimbang empat espreso.

Eco memang sering bermain-main dengan tulisannya. Lebih jauh, bermain-main dengan bentuk lain dari bahasa dan gagasan: simbol. Dalam hal ini, Eco lewat simbol kopi menyindir orang Amerika yang praktis sekaligus pragmatis. Eco sendiri adalah seorang penulis Italia, kritikus sastra, filsuf, ahli semiotika, dan profesor universitas.

Americano, atau kependekan dari Caffè Americano, berasal dari bahasa Italia, disebut sebagai ungkapan ejekan buat orang Amerika yang minta espreso ditambahi air. Ada kepercayaan populer, namun belum terkonfirmasi, yang menyebutkan bahwa namanya bermula dari Perang Dunia II. Tentara-tentara Amerika yang sedang bertugas di Italia menambahkan lagi air pada espreso agar mendekati kopi yang mereka biasa minum. Dengan kata lain, orang Amerika itu cemen. Enggak suka kopi pekat!

Sebelumnya, istilah Americano tercatat dalam novel Somerset Maugham tahun 1928, Ashenden: Or the British Agent. Dalam novel yang didasarkan pada pengalaman penulis sebagai anggota Intelijen Inggris ini, protagonisnya disebutkan memesan dan minum sesuatu yang disebut Americano di Naples. Periodenya saat Perang Dunia I. Namun tidak ada cukup informasi untuk menunjukkan apakah itu minuman yang sama yang hari ini kita sebut Americano.

Starbucks Espresso Beverages
Starbucks Espresso Beverages | © Starbucks

Americano adalah gaya kopi yang disiapkan lewat menyeduh espreso dengan menambahkan air panas, memberikannya kekuatan yang sama, namun berbeda dengan rasa dari kopi yang dibikin lewat drip. Kekuatan Americano bervariasi dengan rasio jumlah espreso dan jumlah air yang ditambahkan.

Soal Americano sendiri pertama saya kenal justru karena melihat tayangan televisi Korea Selatan, dari drama dan variety show. “Americano satu, ya,” pinta seorang idol, dan adegan semacam ini sering. Seperti yang diutarakan Eco, Americano tadi dituangkan ke dalam gelas plastik dan biasanya mereka pesan di stasiun kereta.

Salah satu drama Korea bahkan ada yang secara khusus mengangkat soal perkopian. Serial tahun 2007 yang dibintangi: Gong Yoo dan Yoon Eunhye berjudul Coffee Prince. Di drama tersebut, Americano sering dipesan. Atau biasanya variasi Americano dingin yang ditambahkan es.

Bahkan untuk Americano sendiri sudah dibikin lagunya dari band rock indie 10cm. Salah satu band rock asal Korea Selatan. Berikut penggalan liriknya: “Saat kamu sedang merokok dan minum teh bersama seorang gadis cantik/Bila menunya begitu rumit sehingga kamu tidak bisa memutuskannya/Setelah bayar menu dan kamu tidak punya uang untuk tambah nasi/Makan jajangmyun dan untuk hidangan penutupnya…/Ame Ame Ame Ame Ame/Ame Ame Ame Ame /Americano, aku suka, aku suka, aku suka/Americano, begitu mendalam, begitu mendalam, begitu mendalam”

Seperti dalam lirik lagu di atas, Americano bisa jadi solusi bagi kamu yang baru pertama ke kedai kopi. Sebagai yang terbiasa nyeruput kopi hideung Kapal Api, memesan Americano adalah pilihan tepat. Meski memang, karena ini saya sering disebut antek-antek Korea.

Dengan telaah ala-ala Eco, jika menjadikan Americano yang disesap di berbagai dunia sebagai simbol budaya, maka ini bermakna globalisasi. Atau lebih tepatnya Amerikanisasi. Sebagai negara adikuasa, Amerika menjadi tolok ukur kemajuan. Contoh nyatanya Korea Selatan tadi, yang merdeka sama-sama pada bulanAgustus 1945, hari ini kedudukannya bisa disejajarkan dengan negara maju, berawal dari proses Amerikanisasi.

Ketika Amerika Serikat tiba-tiba muncul sebagai kekuatan global pada periode pascaperang, dunia dengan senang hati mereka ulang dirinya dalam citra Amerika. Peter Conrad menjelaskan hal ini dalam bukunya How the World Was Won: The Americanization of Everywhere. Amerika mempesona, dan terkadang mengintimidasi, lebih tua, bulukan, dan sebenarnya kurang inovatif.

Kemakmuran Amerika yang dipajang di layar adalah sesuatu yang diimpikan oleh sebagian besar negara lain, dan fantasi inilah yang membantu Amerika memenangkan Perang Dingin. Conrad menceritakan bagaimana, setelah 1945, Amerika memang mendominasi, melayani peran ganda: pelindung sekaligus penghibur. Dari politik dan perang, hingga jeans dan sepatu kets, juga Americano dan Starbucks, pengaruh Amerika terhadap dunia begitu intens.

Bagaimanapun, kita begitu ingin jadi orang Amerika. Padahal yang sebenarnya kita memang sudah Amerika, tegas Conrad. Dia mengutip Lars von Trier, sutradara film asal Denmark. Von Trier membuat film-film yang berlokasi di Amerika Serikat, di Washington, Colorado dan Alabama, namun dia dengan tegas menolak untuk memasuki negara itu. Namun, pada tahun 2005, dia mengakui bahwa protesnya hanya membuang-buang waktu. “Enam puluh persen hal yang kualami dalam hidupku begitu Amerika,” yang menyebabkan seorang anti-Amerika gigih ini akhirnya menyimpulkan dengan penyesalan: “Aku orang Amerika.”

Minum Americano tentu bukan dosa, dan tidak lantas mengkonversi kita jadi seorang kafir Amerika. Namun selagi kita masyuk menyesap Americano, bahaya laten Amerikanisasi terus mengudara. “Seluruh dunia sialan ini akan 100% Amerika,” tulis Henry Miller. “Ini penyakit.”

Arif Abdurahman

Bermukim di Bandung dan bergiat di Komunitas Aleut. Menulis dan menerjemahkan jurnal, esai, serta cerpen di yeaharip.com dan beragam media.