Menyicip Laksa Khas Tangerang

Kawasan Kuliner Laksa Tangerang di Jalan Moh. Yamin, Kota Tangerang.
Kawasan Kuliner Laksa Tangerang di Jalan Moh. Yamin, Kota Tangerang. © Aditia Purnomo

“Makanya jangan main di Yogya melulu,” ujar seorang kawan menjelang pertandingan Chelsea melawan Manchester United. Malam itu kami berniat menyaksikan pertandingan yang tidak penting-penting amat. Pertarungan antara tim papan bawah melawan tim yang membosankan. Tapi apa daya, tawaran taruhan tidak bisa ditolak. Maka berangkatlah kami keluar dari kamar kos yang begitu nyaman.

Pertandingan dimulai jam 11 malam, kami keluar selepas azan Isya berkumandang. Masih ada 3 jam lebih menjelang pertandingan, makan pun menjadi pilihan. Setelah berputar-putar di kawasan pasar lama, tempat jajanan terbaik di kota Tangerang, kami tidak menemukan lapak makan yang menarik hati. Setidaknya, teman saya sedang malas makan di sana.

Perjalanan dilanjutkan ke arah Cikokol, tempat kedai kopi langganan kami berada. Rencananya, kami akan nonton bareng di sana. Perkara makan, saya serahkan kepada Anton, kawan saya yang kampusnya berlokasi di kawasan ini. Ia bilang cari makan di sana saja, biar dekat lokasi nobar. Saya hanya mengiyakan.

“Coy, kita makan laksa aja lah,” ujar Anton.

“Laksa apa?” jawab saya bodoh. Mulailah kawan saya berceramah.

Menyajikan laksa.
Menyajikan laksa. © Aditia Purnomo

Sebagai warga negara dengan KTP Tangerang, saya terbilang tidak mengenal kota ini. Kalau cuma jalan-jalan kota, mungkin saya tahu. Tapi seluk-belukya, jangan ditanya. Tentu saja saya tidak tahu. Semenjak kuliah 6 tahun lalu, hubungan saya dengan kota ini hampir terputus. Kalau bukan karena urusan pulang ke rumah dan meyetor muka ke orangtua, mungkin saya hampir tidak pernah ke Tangerang.

Soal laksa pun, saya baru tahu kalau ada kawasan khusus yang menjual makanan ini di daerah Cikokol. Tepatnya di Jalan Moh. Yamin, Kec. Tangerang, Kota Tangerang, di dekat Pom Bensin Pertamina Cikokol. Kalau sekadar tahu, saya paham ada makanan dengan nama laksa. Tapi untuk urusan menyicipnya dan melihatnya, baru kali ini saya melakukannya.

Berdasar kuliah singkat dari Anton, laksa dikenal sebagai salah satu makanan khas Tangerang. Memang di Bogor atau Jakarta ada makanan sejenis, namun ‘laksa tangerang’ memiliki ciri khas yang berbeda. “Kalau di tempat lain biasanya pakai bihun, di sini (Tangerang) pakai mi dari tepung beras,” celoteh Anton tepat sebelum motor berhenti di Pusat Kuliner Laksa Tangerang.

Di tempat ini ada beberapa warung yang menjual Laksa, tapi teman saya memilih untuk singgah di warung Bang Brewok. “Udah biasa di sini coy, selera aja sih,” ujarnya singkat. Sembari duduk, saya melihat menu. Ada beberapa macam menu makanan, utamanya laksa namun bisa ditambah toping seperti telur atau ayam.

Dengan tegas, Anton memilih ayam sebagai lauk. Sedang saya, dengan agak ragu, memesan telur. Mengingat uang di dompet sudah terkuras untuk bayar kos, saya harus berhitung agar bisa bertahan hidup hingga akhir bulan.

Sekilas, makanan ini mirip dengan lontong sayur. Hanya menggunakan mi dari tepung beras sebagai sajian utamanya. Mi yang disajikan di piring lantas diguyur kuah santan serta ditambah telur, tapi tidak diberi kerupuk. Jika Anda tidak bisa makan tanpa kerupuk, di meja sudah tersedia bungkusan kerupuk kulit sebagai sajian tambahan.

Laksa tangerang dengan toping telur.
Laksa tangerang dengan toping telur. © Aditia Purnomo
Rame-rame makan laksa.
Rame-rame makan laksa. © Aditia Purnomo

Teman saya makan dengan lahap. Ia mencabik ayam kampung dengan ganas, sementara saya hanya bisa membelah telur bulat sebagai toping laksa di piring saya. Sejenak, saya berpikir akan rugi jika tidak menyicipi ayam kampung sebagai lauk laksa ini. Lantas, melupakan isi dompet, saya memesan sepotong ayam untuk ditambah di piring saya. Daripada penasaran, pikir saya.

Sembari makan, saya mengajak penjual laksa ini berbincang. Madsuro, pemilik Warung Laksa Bang Brewok, mengatakan kalau laksa di Tagerang memang agak berbeda dengan laksa dari daerah lain. Kalau laksa di Bogor atau Betawi biasanya menggunakan bihun, maka di Tangerang Laksanya terbuat dari tepung beras. “Malah ada yang menggunakan lotong,” ujarya. Persis seperti kuliah Anton saat perjalanan tadi.

Untuk kuahnya sendiri, kuah santan laksa tangerang sedikit lebih gelap dan berminyak. Dicampur dengan kacang hijau dan gilingan bumbu lain, laksa tangerang pun menambahkan potongan kentang seukuran dadu di dalam kuahnya. Seluruh toping seperti telur dan ayam juga telah dimasak bersama kuah, jadi tidak perlu meragukan bumbu yang tidak meresap pada toping laksa anda.

Sambil menikmati laksa di hadapan saya, pengunjung demi pengunjung mulai datang memenuhi pusat jajanan ini. Banyak yang datang bersama keluarga, pun beberapa ada yang datang bersama kekasih. Sialnya, hanya saya yang datang bersama teman, lelaki pula. Selesai menikmati laksa, saya melarang teman yang hendak membakar kreteknya. “Nanti saja, sekalian jalan,” kata saya.

Berhubung pengunjung semakin ramai, meja dan kursi tampak penuh, saya memutuskan untuk segera membayar dan pergi ke kedai. Untuk hidangan laksa dengan toping ayam ditambah, Anton mengeluarkan uang Rp18 ribu. Sementara saya membayar Rp21 ribu untuk seporsi laksa beserta toping ayam dan telur. Tidak terlalu mahal.

Waktu itu jam di ponsel saya sudah menunjukkan pukul 21.15, kurang lebih masih ada 90 menit menuju kick off. Masih ada waktu yang cukup bayak. Karenanya saya membawa motor dengan perlahan, sambil menikmati sisa-sisa rasa kuah laksa tadi. Sembari menyulut rokok, Anton berkata iseng kepada saya, “besok-besok bisa ajak pacar ke sana, Dit, tapi kalau sudah punya ya.”

Aditia Purnomo

Mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung lulus.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com