Menyesap Kopi Melawan Bebal

Marx dan kopi
Marx dan kopi | © Muhammad Irkham Abdussalam

Meminjam istilah Syed Hussein Alatas, bebalisme adalah suatu sistem kepercayaan yang fanatik dan cenderung keras terhadap sesuatu yang diyakininya. Bebalisme ada di segala kebudayaan, segala ruang dan waktu, di setiap pemikiran manusia. Orang-orang bebal tidak memiliki daya antisipasi yang baik. Cenderung bereaksi terhadap suatu kejadian. Ibarat payung dan hujan, mereka membuka payung sesudah tubuhnya basah terguyur hujan. Bebalisme memunculkan sikap yang otoriter, tidak reflektif, tidak berdasar eksperimen, dan tidak terbuka pada argumentasi yang tertib dan rasional. Kaum terpelajar, setingkat guru besar, pemuka agama, sampai menteri bisa terjangkiti virus bebalisme.

Hari ini, kita akan dengan mudah mendapati pihak-pihak yang bebal. Pihak-pihak itu percaya pada kebenarannya sendiri tanpa sedikit pun memberi ruang orang lain untuk mengungkapkan kebenarannya. Beberapa waktu lalu, diskusi film dibubarkan paksa karena dianggap berbau komunis. Pentas monolog Tan Malaka sempat mendapatkan intervensi ormas, dan buku-buku berbau kiri dibakar. Ini membuktikan bahwa bebalisme tak memandang seberapa tinggi tingkat pendidikan, jabatan, dan status sosial seseorang. Mereka tetap saja tidak menghargai keterangan logis dan empiris. Hanya karena tidak suka, tanpa tahu alasannya, dijadikan dasar melegitimasi sebuah kebebasan berserikat, berkumpul, dan berpendapat.

Demi melawan bebalisme, kedai ABG didirikan. Bukan sekadar kedai kopi biasa, kedai ABG menawarkan sajian kenikmatan menyesap kopi asli Indonesia, sekaligus membuka pikiran kaum intelektual. Diinisiasi oleh tiga sekawan yang sudah makan asam garam pengalaman, kedai ABG yang berdiri di lingkungan kampus Universitas Negeri Semarang menjadi pembeda dari kebanyakan tempat kongkow di wilayah tersebut. Adalah Achiar M. Permana (editor Tribun Jateng), Babahe (dramawan senior Taman Raden Saleh Semarang), dan Gunawan Budi Susanto (sastrawan Semarang), yang mendirikan kedai kopi dengan menjumput inisial depan dari nama-nama mereka sebagai nama kedai ABG. Kehadiran kedai ABG seperti oase di tengah padang gersang, tempat para mahasiswa menegak sari-sari pengetahuan di luar kelas kuliah.

Hampir setiap hari, selalu ada diskusi beragam tema, kelas menulis, atau menonton film. Banyak sastrawan hadir sebagai pembicara dalam forum diskusi seperti Akasa Dwipa, Eko Tunas, hingga Ahmad Fauzi, penulis buku kontroversial “Tragedi Inces Adam dan Hawa & Nabi Kriminal.”

Kedai ABG tampil dengan nuansa pedesaan. Sajian makanan khas desa, seperti jagung dan kacang rebus, air putih dalam kendi, dan nasi tumpeng menjadikan kedai ini sebuah entitas desa yang kecil di tengah gemuruh pembangunan kota. Kopi Mandailing, kopi Lelet, kopi Boja, kopi Toraja, kopi Aceh, dan kopi asli Indonesia semuanya tersedia di sini. Bahkan rokok lintingan langsung dari petani tembakau pun terkadang juga tersedia. Semuanya dapat dinikmati bersama remang-remang nyala lampu kuning serta dinding-dinding dari rajutan bambu.

Gunawan Budi Susanto, atau akrab dipanggil Kang Putu mengajar kelas menulis cerpen dan puisi gratis kepada para pengunjung setiap hari Senin dan Rabu. Baginya, sastra adalah air jernih yang membasuh jiwa manusia dari terjangan pengetahuan teknokratis-developmentalis. Sastra menjadi penyeimbang pikiran demi menyeleraskan hidup seseorang agar tak sepenuhnya menjadi robot yang tunduk akan perintah atasan, dan tentu saja bebal terhadap realitas.

Kuasa Pengetahuan

Di era Orba, segalanya dikontrol hanya demi melanggengkan kuasa sang “bapak”. Penyimpangan dan politisasi terjadi dalam berbagai hal, seperti jabatan, sastra, kehidupan sosial, hingga sejarah. Sastra dijebak dalam legitimasi estetika kata yang melepas makna dan kaitannya dengan permasalahan sosial. Sedang sejarah dibelokkan menuju mal-praktik.

Kelas cerpen Kang Putu
Kelas cerpen Kang Putu | © Muhammad Irkham Abdussalam
Bedah buku puisi Rima-rima tiga jiwa
Bedah buku puisi Rima-rima tiga jiwa | © Muhammad Irkham Abdussalam

Kuasa pengetahuan selama Orba berdiri ditanamkan ke setiap batok kepala anak-anak penerus bangsa. Selama 32 tahun berkuasa, pengetahuan Orba mengontruksi suatu sistem kehidupan yang kaku, konvergen, individual, dan rakus.

Pemikiran-pemikiran yang dianggap kiri diberangus. Stigma diberikan kepada pihak-pihak yang dianggap berbahaya, sekaligus membatasi akses mereka atas mimbar-mimbar publik. Hari ini, kita menyaksikan bagaimana nalar Orba masih kokoh berdiri meski pemerintahan Orba telah jatuh bertahun-tahun lalu. Sistem pemikiran Orba masih terus diwariskan hingga saat ini, dan menyebabkan banyak orang bebal dan buta pada realita dan ilmu pengetahuan empiris.

Jauh-jauh hari, Foucault berkata bahwa tidak ada ilmu pengetahuan yang netral. Pengetahuan (di)muncul(kan) untuk kepentingan subjek tertentu. Subjek yang memiliki otoritas atas pengetahuan memilki akses untuk menentukan mana pengetahuan yang dipublikasikan dan mana pengetahuan yang disimpan. Lebih buruk lagi, subjek juga dapat melakukan pengaburan kebenaran atas pengetahuan yang dikuasainya.

Rezim pengetahuan semasa Orba masih diwarisi hingga hari ini, dan usaha perlawanan pemikiran itu masih terganjal beragam tindak bebal beberapa pihak. Usaha pemutaran film tentang peristiwa 1965 tak semulus yang dikira, meski kita telah hidup di zaman reformasi. Buku-buku masih terancam dibakar, meski kita hidup di era kebebasan yang dijamin undang-undang.

Di kedai ABG, kedai kecil yang hanya muat 40-an orang, semua yang bebal itu dilawan dengan menonton film sejarah, berdiskusi, cipta dan baca puisi, bedah buku, obrolan sastra, dan menulis. Tentunya, di setiap kegiatan intelektual itu, kopi dari ujung Barat sampai Timur Indonesia siap menemani untuk disesap.

Kopi dan suguhan jagung dan ketela rebus gratis
Kopi dan suguhan jagung dan ketela rebus gratis | © Muhammad Irkham Abdussalam

Perlawanan

Di tengah gemuruh liberalisme yang menyandarkan bahunya pada eksploitasi alam demi pembangunan fisik, harus ada sebentuk perlawanan melalui jalan intelektual. Liberalisme telah memicu pertumbuhan pesat industrialisasi di beragam tempat. Kerusakan lingkungan tidak bisa terhindarkan karena dasar pertimbangan pembangunan fisik hanya berorientasi pada kekuasaan dan kekayaan uang. Pemerintah pun seakan tutup mata, jika tidak bisa dikata memberi jalan berlangsungnya proses industrialisasi tersebut. Dalam perencanaan, baik kerusakan lingkungan juga kerusakan sosial tidak masuk hitungan. Di sini, rakyat mesti bergerak sendiri bersama kaum intelektual melakukan perlawanan.

Pada kasus Kendeng misalnya, kedai ABG menjadi salah satu pusat kajian untuk membedah dan mengkritisi nalar pembangunan pemerintah dan korporasi. Kehidupan petani yang bersinergi dengan alam dan lingkungan demi masa depan anak cucu digadaikan demi kepentingan beberapa pihak saja. Petani yang membumi, memberikan pasokan pangan kepada rakyat negara justru berusaha disingkirkan demi ambisi korporasi.

Usaha penolakan dan perlawanan didahului pencerdasan kepada khalayak. Mahasiswa diundang dalam berbagai diskusi untuk membuka pikiran demi melawan kebebalan pemerintah. Hasilnya, kasus Kendeng bisa dimenangkan, meski tidak keseluruhan. Melalui kedai kecil ini, kaum intelektual dan para petani bergandeng tangan berjuang dengan segenap apa yang mereka bisa. Kedai kopi ABG menjadi jembatan agar kaum intelektual lebih terbuka pada penderitaan rakyat kecil.

Kehadiran kedai ABG telah menunjukkan terang bagi banyak pihak, terutama mahasiswa dalam memandang permasalahan. Di sini, mahasiswa yang mendominasi daftar pengunjung, diajak bertamasya menziarahi berbagai pemikiran dan realita agar tak sekadar melek nilai tapi juga melek permasalahan, agar tak sekadar belajar baca tulis tapi juga memaknai arti belajar. Semuanya demi melawan kebebalan, karena bebal bisa menjangkiti setiap orang. Tak peduli seberapa tinggi jabatannya, seberapa panjang gelar pendidikannya, seberapa hebat kekuatan militernya.

Muhammad Irkham Abdussalam

Pembaca buku soliter yang menanti kesempatan untuk mengobrol tentang Pierre Bourdieu dan Erik H. Erickson bersama Gita Gutawa.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405