Menyesap Buku Membaca Kopi

Yang lebih berbahaya dari menurunnya minat membaca adalah meningkatnya minat berkomentar.

Aktivitas saat sedang ngopi biasanya adalah mengobrol. Dalam secangkir kopi, hanyut beragam cerita yang dituturkan. Alunan musik sesekali terdengar sayup menyekat bait-bait cerita dua insan dalam satu meja. Ngobrol dan ngopi bak keping mata uang: dua sisi dalam satu wajah.

Yang kemudian jadi persoalan adalah, apa yang diobrolkan? Berapa banyak obrolan sambil ngopi mengarah pada rekonstruksi perluasan daya berpikir? Atau, aktivitas ngopi sekadar jadi semacam tambatan pelengkap dari obrolan-obrolan yang sama sekali tak meninggalkan kesan dan makna. Di era banjir informasi seperti sekarang, lebih banyak kebusukan informasi yang beredar, disebarkan, dan diterima oleh banyak orang tanpa proses penyaringan. Beragam aktivitas bersanding bersama obrolan kosong, tak terkecuali ngopi yang bisa jadi dijejali oleh obrolan yang bernada gosip dan menyesatkan.

Barangkali, itu menjadi salah satu sebab mengapa Deqiko menaruh rak-rak buku di depan meja-meja tempat ngopi. Rak-rak buku yang menyerupai sarang tawon berisi ratusan buku beragam jenis. Buku seolah menatap langsung meja-meja pengunjung. Buku-buku merapal doa semoga ia disentuh, diambil, dan dibaca bersama aktivitas ngopi. Di antara berjubel makanan dan kopi di atas meja, buku di seberang pengunjung seakan berkata: “Bacalah diriku, dan mulailah mengobrol tentang diriku.”

Televisi mati, buku-buku hidup
Televisi mati, buku-buku hidup | © Mia
Seorang mahasiswa membaca buku dengan santai
Seorang mahasiswa membaca buku dengan santai | © Mia

Deqiko, kafe yang lebih identik dengan buku daripada makanan atau kopi. Di kafe ini, buku adalah wajah utama lebih dari sekadar kopi atau makanan yang disajikan. Deqiko tidak menyebut dirinya “kafe kopi” sebagaimana lainnya. Ia bangga menggunakan nama “Kafe Buku Deqiko”. Kafe terletak di Jl. Tusam Timur Raya 24, Banyumanik, Semarang, jaraknya cukup dekat dengan kampus besar di Semarang, Universitas Diponegoro Tembalang.

Kafe memadukan suasana asri dengan taman-taman yang tertata apik dengan perpustakaan yang mendominasi hampir setengah ruangan indoor. Koleksi bukunya cukup banyak. Dari beragam disiplin ilmu, seperti filsafat, sosial humaniora, hingga sastra. Kafe jadi representasi perpustakaan yang menyandingkan aktivitas ngopi dan santai bersama buku-buku, menjadi pembeda di tengah kakunya perpustakaan beberapa kampus di Semarang.

Makanan dan minuman dibanderol harga miring khas mahasiswa. Untuk makanan berat, seperti nasi goreng, mie susu, steak, spaghetti, sop, salad dihargai antara Rp.8.500 sampai Rp.30.000. Sedang minuman kopi, susu, squash, dan jus dihargai Rp.7.000 sampai Rp.12.000. Cukup murah!

Membaca

Membaca masih belum jadi kebiasaan yang menarik banyak pihak. Kultur membaca masih dimaknai sebagai sesuatu yang berat, serius, dan eksklusif. Lebih populer menggosip atau berswafoto. Bahkan, kita seringkali mendapat sindiran saat buku-buku lebih banyak menyita mata kita daripada film-film Korea. “Eh, kutu buku. Sok serius amat sih.” Orang membaca dipandang selevel dengan kutu. Duh!

Saat media arus utama mempublikasikan hasil penelitian terbaru tentang peringkat literasi Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) geragapan. Posisi kedua terbawah dari 61 negara, hanya unggul dari Bostwana—negara miskin di Afrika—sungguh bukan berita yang baik. Data penelitian World’s Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Conecticut State University tersebut dipublikasikan Maret 2016. Menyikapi hal itu, Mendikbud langsung tancap gas dengan mencanangkan program-program, seperti kebiasaan membaca 15 menit sebelum pelajaran di sekolah dimulai. Selain itu, budaya membaca juga diharapkan terbentuk dengan mengangkat Najwa Shihab beserta popularitasnya sebagai Duta Baca Indonesia 2016-2021.

Institusi pendidikan tak mau kalah. Lomba-lomba diselenggarakan demi meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam membaca dan mengakrabi buku. Namun, sayang sejuta sayang, cara yang ditempuh menunjukkan karakter panitia yang juga asing terhadap buku. Salah satu universitas negeri eks keguruan di Semarang mengadakan lomba swafoto saat peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei. Dikiranya, mahasiswa yang sudah berfoto memegang buku dengan latar rak buku perpustakaan sudah bisa dianggap membudayakan cinta buku. Literasi dimaknai sebatas foto, bukan membaca. Hasilnya, saya cukup yakin, yang berkembang bukan ritus giat mahasiswa membaca buku, tapi membiakkan budaya swafoto mahasiswa bersama buku. Foto saja, membacanya tidak!

Republik Jancuker bersama Donat dan Jus
Republik Jancuker bersama Donat dan Jus | © Mia
Filosofi Kopi Dee Lestari
Filosofi Kopi Dee Lestari | © Mia

Daniel Lerner, melalui karyanya The Passing of Traditional Society: Modernizing The Middle East (1978), berasumsi bahwa perbedaan antara masyarakat tradisional, masyarakat transisional, dan masyarakat modern ditandai dengan akses kepada tulisan. Semakin masyarakat akrab dengan buku, semakin modern mereka. Lebih lanjut, Lerner menjelaskan, kemampuan empati masyarakat modern lebih luas ketimbang masyarakat tradisional. Kemampuan empati di sini adalah sejauh mana orang dapat menempatkan dirinya dalam situasi orang lain.

Kita seringkali mendengar kata literasi. Namun literasi sekadar diterjemahkan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Singkat kata, literasi diartikan sebatas melek huruf. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014) pun belum menyertakan lema literasi. Alhasil, sekadar melek huruf—bisa membaca dan menulis—dirasa cukup bagi manusia Indonesia untuk menghadapi tantangan zaman dan semakin kompetitif.

Ignas Kleden menguraikan tiga jenis melek huruf. Pertama, orang-orang yang sempat mendapat pengajaran ihwal baca tulis, namun karena keterbatasan buku bacaan atau karena hal lainnya, mereka jarang mengamalkan kemampuan baca-tulisnya. Kedua, orang yang secara teknis dan fungsional bisa baca tulis. Mereka mengamalkan kemampuannya, namun pada taraf dan kepentingan tertentu saja, belum sampai membudaya. Dan jenis yang ketiga, orang yang secara teknis dan fungsional melek-huruf, serta menjadikan baca tulis sebagai kerja budaya.

Jenis ketiga yang diuraikan oleh Ignas Kleden itulah yang diharapkan terbentuk. Bagi mereka, baca tulis bukan sekadar aktivitas sampingan yang hanya dikerjakan jika memang ada tuntutan. Tetapi, baca tulis telah menjadi budaya, lengkap disertai dengan proses memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasikan teks. Efeknya, orang-orang yang memiliki daya literasi tinggi memiliki kecenderungan bersikap luwes, kaya pengetahuan, dan memiliki rasa empati tinggi pada sesuatu di luar dirinya. Hal tersebut berbeda dengan keadaan orang yang jarang membaca, di mana aktivitas ngobrol sebatas jadi luapan yang dipenuhi banalitas, kemarahan, menjelekkan, menghujat, atau memprovokasi.

Kehadiran Kafe Buku Deqiko menyokong penumbuhan literasi. Deqiko menjadi salah satu kantung-kantung literasi mahasiswa dan pelanggan lainnya untuk menghampiri buku. Bukan saja sekadar mengisi perut, atau menumpahkan segala pikiran dalam medium ngobrol, tetapi juga memperluas pikiran dengan membaca.

Pada hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-71, saya jadi teringat Mohammad Hatta, wakil presiden Indonesia. Beliau terkenal akrab dengan buku. Mas kawinnya saja buku. Bahkan dalam satu ungkapannya menegaskan buku memiliki strata tinggi dalam hidupnya. “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Kini, penjara itu bukan lagi sel jeruji. Penjara itu mewujud dalam hasrat berlebih untuk narsis, atau berkomentar tanpa memahami konteks persoalan secara mendalam dan dewasa. Buku, menjadi pembebas banalitas berpikir. Semoga saja, kemerdekaan yang sesungguhnya dari bangsa ini bisa segera ditapaki, meski usia sudah 71 tahun lamanya.

Selamat menyesap buku, selamat membaca kopi!

Muhammad Irkham Abdussalam

Pembaca buku soliter yang menanti kesempatan untuk mengobrol tentang Pierre Bourdieu dan Erik H. Erickson bersama Gita Gutawa.