Menyelami Jogjakarta melalui Kepik Sawah

Sudut Luar Kepik Sawah
Lihat Galeri
6 Foto
Sudut Luar Kepik Sawah
Menyelami Jogjakarta melalui Kepik Sawah
Sudut Luar Kepik Sawah

© Moddie Alvianto Wicaksono

Sudut Depan Kepik Sawah
Menyelami Jogjakarta melalui Kepik Sawah
Sudut Depan Kepik Sawah

© Moddie Alvianto Wicaksono

Sudut Belakang Kepik Sawah
Menyelami Jogjakarta melalui Kepik Sawah
Sudut Belakang Kepik Sawah

© Moddie Alvianto Wicaksono

Garang Asem
Menyelami Jogjakarta melalui Kepik Sawah
Garang Asem

© Moddie Alvianto Wicaksono

Limun Leci dan Sarsaparila
Menyelami Jogjakarta melalui Kepik Sawah
Limun Leci dan Sarsaparila

© Moddie Alvianto Wicaksono

Keriuhan bersama kolega
Menyelami Jogjakarta melalui Kepik Sawah
Keriuhan bersama kolega

© Moddie Alvianto Wicaksono

Riuh rendah suara bising dari bus pariwisata memadati sepanjang jalan. Hari sudah larut ketika kami melewati kawasan Godean. Sebuah kawasan yang kini mulai tampak ramai seiring masifnya pembangunan ruko dan perumahan baru. Terlebih banyaknya wisata baru di kawasan Godean seakan membelalakkan mata bahwa wisata Yogyakarta tak melulu soal pantai dan gunung.

Lambat laun Godean menunjukkan wajahnya sebagai kawasan dengan berbagai desa wisata. Bahkan salah satu desa tersebut pernah digunakan sebagai ajang Ngayogjazz beberapa tahun silam. Kami boleh bangga denyut pariwisata Jogja sudah menyebar ke seluruh sudut-sudut Jogja. Sudut-sudut yang sebelumnya mungkin tak terjamah oleh wisatawan.

Namun, kami tak boleh terjebak lintasan waktu. Meskipun pariwisata Jogja meningkat pesat namun Yogyakarta masih memiliki masalah yang lebih besar. Menurut Badan Pusat Statistik pada September 2016, Yogyakarta memiliki indeks ketimpangan ekonomi paling tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia. Apa artinya? Rasio antara si kaya dan si miskin semakin melebar.

Ini menjadi persoalan serius. Bagaimana bisa terjadi? Pariwisata meningkat, hunian makin nyaman, pertumbuhan manusia makin tajam namun disparitas ekonomi terlampaui jauh. Setidaknya ini pekerjaan baru bagi pemerintahan Yogyakarta dalam hal memperbaiki kesenjangan ekonomi.

“Maaf Mas dan Mbak semua, pesanannya sudah?” Ujar sang pramusaji.

Tiba-tiba lamunan kami buyar ketika mendengar perkataan sang pramusaji. Kami mungkin tidak sadar sepenuhnya bahwa kami telah tiba di sebuah warung kawasan Godean. Bahkan sudah dari 10 menit yang lalu. Ah, buat apa berpikir tentang Jogja. Toh nyatanya sudah banyak yang memuliakan keinginan perut daripada kebutuhan umat. Seperti mereka.

Sejenak kami melihat dan membolak-balikkan menu makanan dan minuman. Ada bintang biru dan bintang oranye pada beberapa makanan maupun minuman. Bintang biru berarti favorit pelanggan sedangkan bintang oranye adalah menu spesial Kepik Sawah.

Kepik Sawah adalah sebuah warung yang terletak di Jalan Godean Km 9. Kami lebih suka menyebutnya warung daripada restoran ataupun kedai. Suasananya yang berada di antara sawah. Dan tentu saja masih banyak kepik yang berkeliaran. Binatang yang berwarna merah dibalut dengan titik-titik hitam. Binatang inilah yang menjadi logo dari warung Kepik Sawah.

Setelah memilah memilih makanan dan minuman, kami memesan Gadon dan Garang Asem. Tak lupa memesan Sarsaparila dan Limun Leci. Keempat pilihan tersebut adalah menu spesial dari Kepik Sawah.

Kami juga memesan tempe mendoan dan terong goreng krispi. Kata seorang teman, kedua lauk tersebut adalah camilan terenak di Kepik Sawah. Tentu saja kami tak boleh mengabaikan rekomendasi tersebut.

Sembari menunggu, beberapa dari kami berkeliling ke sudut-sudut Kepik Sawah. Warung Kepik Sawah memang didesain kembali ke zaman lampau. Banyak aksesoris-aksesoris lama tertampang di dinding atau tiang-tiang kayu. Salah satu yang menarik perhatian adalah kumpulan buku dari SH Mintardja. Seorang penulis Yogyakarta yang semasa hidupnya menulis 400 buku. Salah satu yang terbaik adalah cerita berseri terpanjang. Api di Bukit Menoreh.

Selain itu lampu, kursi, bahkan mejanya pun antik dan kuno. Tak heran, ada beberapa orang yang menyebutnya warung Kepik Sawah adalah warung Instagramable. Ya, warung kekinian dengan desain lampau yang laik untuk dijadikan tempat berfoto.

Pramusaji pun berpakaian adat Yogyakarta. Kalo yang laki-laki mengenakan surjan sedangkan wanita mengenakan kebaya. Kepik Sawah seakan ingin menunjukkan kebudayaan dan keelokan Yogyakarta. Tidak hanya budaya melainkan pustaka yang terjejer rapi di tiang-tiang penyangga Kepik Sawah.

Setelah berkeliling, makanan dan minuman tiba. Gadon dan Garang Asem dibungkus dengan daun pisang dan ditaruh di tempat semacam rantang. Jika Sarsaparila dan Limun Leci disajikan bersama segelas es batu.

Gadon adalah makanan yang berisi campuran daging sapi dan telur kemudian ditambah dengan kuah santan. Sedangkan Garang Asem adalah sajian serupa namun bahan dasarnya diganti dengan ayam kampung.

Ketika kami mencoba Gadon, sensasi daging giling yang sangat empuk tersaji di mulut. Karena terlalu empuk maka terlalu cepat pula kami menghabiskannya. Begitu pula dengan garang asem. Rasa gurih dengan daging yang empuk membuat kami lahap untuk menandaskan keduanya.

Tentu saja, terong goreng krispi dan tempe mendoan tak boleh dilupakan. Bahkan begitu pramusaji menaruh satu piring yang berisi 4 mendoan maka tangan-tangan dari kami berebut untuk segera mengambil mendoan. Bagi yang tak kebagian, mereka berebut untuk mengambil terong goreng krispi.

Beberapa dari kami ada pula yang mencoba makanan seperti gurame lada hitam dan nila bakar. Kalo kedua makanan tersebut adalah makanan favorit pelanggan. Dan jika melihat meja-meja pelanggan di sebelah kami bisa dipastikan salah satu menu makanan pasti tersedia.

Ada rasa, maka ada pula harga. Sebungkus Gadon dibanderol dengan harga 25 ribu rupiah. Begitu pula dengan Garang Asem. Dan perlu kalian tahu, itu harga paling tinggi yang disajikan pada menu Kepik Sawah. Kalo boleh dibilang, harga yang pantas sesuai dengan rasa yang tuntas. Senyum pun menjadi puas.

Paska menuntaskan segala menu makanan dan minuman, kami tak langsung bergegas untuk kembali ke kota. Menikmati raungan jangkrik dipadu dengan alunan musik dari Bossonova Jawa adalah sensasi suasana di Kepik Sawah. Terlebih rintik hujan semakin menambah syahdunya malam Sabtu di Yogyakarta.

Yogyakarta tak harus membenahi rupa maupun menambah ruang di daerah perkotaan. Tapi Yogyakarta juga harus menyediakan cerita baik berupa budaya, pustaka, maupun makanannya. Dan itu semua terangkum melalui Kepik Sawah.

Moddie Alvianto Wicaksono

Pemain Futsal Amatir