Menyantap Menu Andalan Sang Sultan

Warung Rabeg dan Pindang
Lihat Galeri
6 Foto
Warung Rabeg dan Pindang
Menyantap Menu Andalan Sang Sultan
Warung Rabeg & Pindang Mang Sam

© Imam B. Carito

Warung Rabeg H. Naswi (Magersari)
Menyantap Menu Andalan Sang Sultan
Warung Rabeg H. Naswi (Magersari)

© Imam B. Carito

Rabeg Mang Sam bumbunya lebih merah dan pedas
Menyantap Menu Andalan Sang Sultan
Rabeg Kambing Mang Sam

© Imam B. Carito

Rabeg Kambing Mang Sam
Menyantap Menu Andalan Sang Sultan
Rabeg Mang Sam bumbunya lebih merah dan pedas

© Imam B. Carito

Rabeg H. Naswi rasa pedanya relatif kurang
Menyantap Menu Andalan Sang Sultan
Rabeg H. Naswi rasa pedanya relatif kurang

© Imam B. Carito

Rabeg Buatan Teman Sendiri
Menyantap Menu Andalan Sang Sultan
Rabeg Buatan Teman Sendiri

© Imam B. Carito

Saat musim libur sekolah itu, ia berharap dibelikan sepeda. Namun, bapaknya malah membelikannya kambing.

“Kambing bisa membuatmu lebih dewasa, sedangkan sepeda akan membuatmu tetap jadi kanak-kanak,” demikian bapaknya memberi alasan.

* * *

Daging kambing barangkali menjadi salah satu jenis daging yang paling sering kita konsumsi. Ada banyak macam olahan daging kambing. Di Surabaya, daging kambing dipotong kecil-kecil lalu disemur. Orang surabaya menyebutnya dengan nama Krengsengan.

Di Solo, daging kambing digulai. Campuran santan dan rempah menciptakan rasa gurih dan aroma yang tak kalah tanding. Makanan khas Solo ini dikenal dengan Tengkleng Kambing. Sedang di Banten, olahan daging kambing yang khas adalah Rabeg.

Baik di Serang maupun Cilegon, kita bisa menemukan beberapa warung atau rumah makan yang menyediakan menu rabeg ini. Di Cilegon kita bisa menemukan Rabeg khususnya di Warung Rabeg dan Pindang Mang Sam. Letaknya di Jl. Arga Raya Malabar Blok 9 no.17, Grogol, Kota Cilegon. Meski baru lima tahun berdiri, yakni pada 25 Oktober 2011, Warung makan ini menyediakan menu yang cukup lengkap. Dari rabeg kambing, sapi, ayam kampung, bebek, hingga nasi goreng rabeg juga ada.

Di Serang kita bisa menjumpai warung Rabeg yang lebih melegenda, namanya Warung Rabeng Naswi (Magersari). Letaknya di Jl. Mayor Syafe’i, No. 30, Kota Serang. Konon warung ini sudah hidup selama tiga generasi.

Warung Rabeg Naswi dirintis pertama kali oleh Hj. Jenah pada tahun 1975 di emperan kaki lima Jl. Tb Buang. Hingga tahun 1982, dibantu anaknya, H. Naswi, Hj. Jenah lalu memindahkan usahanya ke lingkungan Pasar Rau untuk meraup lebih banyak konsumen. Sejak Hj. Jenah dan H. Naswi meninggal pada 2007, Warung Rabeg kini dikelola Aulia Rohmah yang merupakan anak kandung H. Naswi.

* * *

Ia menangis. Ibunya mencoba menghiburnya. Menurut ibunya, sepeda bisa rusak, tapi kambing justru dapat beranak.

Rabeg adalah olahan daging kambing yang dipadukan dengan jeroan kambing. Pada olahan daging kambing yang umum kita santap, jarang sekali kita temui jeroan. Namun dalam olahan rabeg, jeroan justru memiliki cita rasa khas.

Dari cara mengolah maupun tampilannya, rabeg sekilas lebih mirip semur. Dari bumbu dan rempah yang digunakan pun hampir mirip dengan bumbu semur. Namun, Rabeg memiliki kuah yang lebih banyak dan encer dibandingkan semur.

Dalam memasak semur, daging kambing beserta bumbu dimasak berbarengan hingga daging lunak dan kuah mengental. Sementara dalam memasak Rabeg, daging dan jeroan tidak dimasak langsung. Ada dua tahap dalam memasak jeroan kambing untuk rabeg.

Pertama, rebus jeroan kambing dengan daun salam dan sereh. Ini berfungsi untuk menghilangkan bau prengus pada daging kambing. Saat jeroan sudah matang namun belum begitu empuk, angkat jeroan tersebut dan tiriskan lalu sisihkan. Jangan buang kuah hasil rebusan, karena ini masih akan digunakan untuk memasak.

Kedua, potong jeroan yang telah direbus tersebut menjadi potongan kecil. Setelahnya, tumis potongan bawang merah dan bawang putih serta jahe, lengkuas dan biji pala yang sudah dimemarkan terlebih dahulu.

Ketiga, tumisan yang telah harus tersebut, lalu direbus dengan kuah hasil rebusan jeroan. Masukkan daging kambing, potongan jeroan dan tulang (kalau kamu ingin menambhkannya). Masak hingga bumbu meresap dan daging serta jeroan matang.

* * *

Kalau akhirnya ia mencoba menyukai kambing itu, tidak lain karena Nabi Muhammad, manusia paling sempurna itu, mengisi masa kecilnya dengan menjadi gembala kambing. Dalam bahasa guru madrasahnya, Nabi Muhammad menggembala kambing sebelum menggembala kaumnya.

Konon, rabeg adalah makanan kesukaan Sultan Maulana Hasanudin, Raja pertama Kesultanan Banten. Dikisahkan, ketika Maulana Hasanudin naik haji, kota yang pertama kali disinggahi usai mengarungi laut merah adalah Kota Rabiq. Kota ini mulanya bernama Al Johfa, pada abad ke-17 kota ini hancur diterjang ombak. Setelah dibangun kembali, dan menjadi lebih indah, kota ini lalu dinamai dengan Rabiq.

Sultan yang terpesona dengan keindahan kota Rabiq lalu singgah dan bersantap. Setelah pulang ke tanah air, untuk mengenang kesan atas keindahan kota Rabiq yang pernah disinggahinya, Sultan menitahkan jurumasak istana untuk memasak daging kambing. Karena tidak ada satupun juru masak yang tahu seperti apa persisnya bumbu untuk memesak daging seperti di Mekkah, para jurumasak lalu menerka-nerka resepnya. Namun siapa sangka Sultan ternyata sangat menyukai masakan tersebut.

Sejak saat itu, olahan daging kambing yang beraroma harum dan empuk ini menjadi sajian wajib Istana. Konon, hidangan yang semula dari resep karangan juru masak istana ini, lama kelamaan bocor juga ke masyarakat. Karena kemewahannya, sajian ini lalu menjadi sajian di acara perayaan masyarakat. Rabiq (Rabigh) nama daerah asal yang mengispirasi masakan ini lalu dijadikan nama untuk masakan ini, masyarakat mengejanya dengan Rabeg.

Selain disajikan dalam acara aqiqah, walimatul ‘ursy, khitanan serta acara seremonial tertentu, kini Rabeg bisa kita jumpai di berbagai warung. Dan jika kamu suatu saat mencicipi Rabeg, maka rasa nikmat itulah yang memepesona Sultan Maulana Hasanudin, Raja pertama Kesultanan Banten dulu.

Benar pula kata bapaknya, kambing memang tak sejahat manusia. Taka ada maksud, tak ada ingin, tanpa dendam, tanpa keculasan. Ia hanya punya naluri kehewanan, itu pun jauh lebih mahusiawi daripada manusia sendiri.

Imam B. Carito

Belum jadi apa-apa. Masih pengen jadi sesuatu. Suka membaca, masih belajar menulis. Suka kopi item, kopi susu dan kopi tahlil.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405