Menyambangi Warung Turki di Jakarta

Turki mungkin menjadi salah satu destinasi negara yang ingin Anda kunjungi. Tapi sebelum ke negeri kebab itu, agak baiknya kita mencoba kuliner khas Turki yang ada di Jakarta.

Ada 3 resto Turki di Jakarta yang cukup terkenal. Turkuaz di daerah Senopati, Istanbul di daerah Ampera dan Warung Turki di daerah Kemang. Kali ini saya berkesempatan mengunjungi salah satunya, Warung Turki. Warung Turki sebetulnya bisa dibilang versi lebih hemat dari Turkuaz karena memang masih satu grup dengan Turkuaz.

Warung Turki berada di Jalan Kemang Raya, berdekatan dengan Bank Mandiri. Jika baru kali pertama berkunjung ke warung itu, Anda akan melihat berderet kayu-kayu potongan yang digunakan sebagai bahan bakar pemanggang di bagian luar warung. Memasuki pintu, suasana Turki sangat kental terasa.

Interior Lantai 2
Interior Lantai 2 | © Nana Kusuma
Interior Lantai 3
Interior Lantai 3 | © Nana Kusuma

Warung Turki terdiri dari 3 lantai. Lantai paling atas menurut saya didesain dengan interior yang paling mantap. Konsep bagian dalam ruangan diberi nuansa seolah di luar ruangan. Namun, khusus lantai 3 ini hanya dibuka sore sampai malam, karena kalau siang udara akan terasa panas. Di lantai satu terdapat dapur terbuka dengan oven batu besar berbahan bakar kayu yang akan membuat kita lupa kalau masih berada di Jakarta.

Saya memilih duduk di lantai dua dengan desain interiornya yang penuh motif dan warna-warni ala Turki. Lampu gantung khas Turki pun berjajar di sepanjang ruangan. Hiasan khas Turki juga ditata rapi untuk menambah kental suasana Turki di warung ini.

Tapi tenang, baik lantai 1, 2 maupun 3 tempat tetap dibuat dengan kesan nyaman untuk dijadikan kumpul dan ngobrol-ngobrol santai. Saat beramai-ramai akan lebih asik jika dinikmati dengan menghisap shisha. Rasa shisha yang ditawarkan di sini komplit, mulai rasa buah, coklat, kopi, mint dan bisa juga mencampur rasa sesuai selera.

Rak Pernak - Pernik Khas Turki
Rak Pernak-pernik Khas Turki | © Nana Kusuma

Menu yang ditawarkan Warung Turki lengkap. Mulai dari makanan pembuka, minuman, makanan utama serta makanan penutup yang menggoda selera. Bersama seorang teman, saya hampir kalap memesan menu yang tersedia. Harga yang dibanderol memang tidak bisa dibilang murah, tapi jika melihat porsi dan rasanya, dijamin nggak akan merasa rugi dengan harga yang dibayar. Cocok dikantong dan lidah.

Beberapa menu makanan dan minuman yang kami pilih bertanda “chef recommendation”. Minumannya Naneli Cay alias Teh Mentol dan Warung Turki Lemonade yang rasanya asam namun menyegarkan. Kami memilih hidangan pembuka yang cukup berat, yaitu Pide Ekmegi. Pide Ekmegi adalah roti pipih tanpa isi dengan taburan wijen hitam di atasnya. Roti ini memang termasuk jenis roti favorit saya, teksturnya renyah di luar tapi sangat lembut di dalam. Pide Ekmegi biasanya disajikan untuk beramai-ramai, jadi kalau makan sendirian sebaiknya tidak pesan roti ini karena untuk ukuran yang lebih kecil saja, sepertinya tidak akan habis dimakan bertiga.

Untuk makanan utama kami memilih dua jenis kebab dan seporsi pizza ala Turki. Kebab yang kami pilih sama-sama berbahan dasar daging domba, namun dimasak dengan cara yang berbeda. Yang pertama Adana Kebab. Pada kebab jenis ini, daging digiling halus kemudian dibumbui dan dibuat berbentuk panjang seperti sosis. Sementara yang kedua, Sis Kebab yang merupakan potongan-potongan kecil daging yang dibumbui sehingga bentuknya mirip sate. Semua jenis kebab disajikan dengan salad bawang khas Turki dan Lavash, roti putih tipis yang lebih dikenal dengan nama Tortilla.

Menu utama lain yang menarik perhatian kami adalah Lahmacun yang merupakan pizza tradisional khas desa-desa di Turki. Pizza ala Turki ternyata memiliki tampilan sangat berbeda dengan Pizza dari Italia. Pizza ini terlihat lebih mirip Lasagna. Olahan daging domba atau daging sapi, ditaruh di atas selembar roti pizza. Pada bagian atas, pizza ditutup dengan selembar roti pizza.

Semua Menu yang Kami Pesan
Semua Menu yang Kami Pesan | © Nana Kusuma
Lahmacun (Pizza khas Turki)
Lahmacun (Pizza khas Turki) | © Nana Kusuma
Sutlac (Puding beras beraroma mawar)
Sutlac (Puding beras beraroma mawar) | © Nana Kusuma

Kami hampir tak sanggup menghabiskan seluruh hidangan yang kami pesan. Walhasil, kami pun bertahan di Warung Turki sampai berjam-jam agar bisa menghabiskan semua makanan yang kami pesan sedikit demi sedikit. Meski sudah cukup kenyang, namun rasa penasaran tetap mendorong saya untuk memesan sebuah makanan penutup khas Turki yang cukup terkenal: Sutlac atau pudding beras yang dimasak dengan campuran air mawar. Aroma mawar yang sangat terasa di hidangan ini menjadi penutup sempurna untuk menghilangkan aroma daging dan bawang dalam makanan utama.

Untuk menikmati hidangan lengkap dari pembuka, utama sampai penutup memang harus merogoh kocek cukup dalam, sekitar Rp300.000 per orang. Tapi kalau mau makan hidangan utama dan minum saja, cukup siapkan budget Rp170.000 atau Rp200.000 per orang.

Buat yang suka Turki juga, buruan aja deh meluncur ke Warung Turki Kemang ini. Lokasi sudah bisa ditemukan via Waze atau Google Map. Selain menyediakan makanan khas Turki, Warung Turki juga menyediakan berbagai pernak-pernik yang Turki banget. Dijamin tak mengecewakan.

Nana Kusuma

Suka membaca, suka jalan-jalan, suka belajar menulis apa saja. Catatan visual bisa diintip di akun instagram @nanakunanaku.