Menyambangi Terowongan Wihelmina sebagai Piknik Sambil Menengok Masa Lalu

“Guru terbaik adalah pengalaman langsung dan tidak melalui pandangan seseorang yang telah terdistorsi”

Satu kutipan dari novel On The Road-nya Jack Kerouac memang benar adanya. Jika kamu penasaran dengan suatu tempat; bagaimana sejarah dan situasi serta kondisi terkininya, maka datang dan saksikanlah secara langsung.

Hal ini saya sadari saat saya melakukan perjalanan ke tempat yang enggak terlalu populer: Terowongan Wihelmina, yang berada di Desa Empak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis.

Begini, bisa saja kamu mendapat kabar dari si A bahwa pantai Z bagus nan indah, lalu cerita gunung Y yang bersih dan sangat terawat, namun itu semua hanya didapat dari interpretasi seseorang yang keabsahannya masih bisa diperdebatkan.

Atau jika ingin mengaitkan dengan situasi sekarang ini; benarkah tempat-tempat eksotis yang berseliweran di Instagram seperti yang sering kita lihat itu benar-benar eksotis? Semuanya masih abu-abu sebelum kita melihatnya secara langsung, bukan?

Terowongan Wihelmina
Terowongan Wihelmina | © Hendi Abdurahman
Terowongan Hendrik
Terowongan Hendrik | © Hendi Abdurahman

Nah, kembali ke perjalanan dan kedatangan saya menyambangi terowongan Wihelmina itu sebenarnya dilakukan tanpa sengaja. Pada awalnya perjalanan saya bersama 5 orang kawan dengan 4 motor ini diinisiasi oleh rasa “cemburu” karena kami enggak mudik namun tetap ingin merasakan sensasi mudik.

Tak dinyana, kami menemukan sesuatu dalam perjalanan “maksa” ini. Bukan tentang nikmatnya perjalanan mudik, bukan pula tentang keindahan alam. Tapi justru lebih kepada spontanitas selama perjalanan. Di antaranya ya itu tadi, “ziarah” ke salah satu tempat bersejarah. Padahal tadinya tempat ini enggak ada dalam list yang akan kami kunjungi loh.

Wihelmina sendiri adalah nama ratu Belanda pada zaman dulu. Selain menjadi nama terowongan, Wihelmina juga menjadi nama ruas jalan di sekitaran Gedung Sate Bandung sebelum kini berubah menjadi Jalan Diponegoro yang saya kenal.

Sebelum sampai di terowongan kereta api terpanjang di pulau Jawa ini (menurut buku Kereta Api di Priangan Tempo Doeloe karya Sudarsono Katam) tangan saya dibuat pegal karena mesti berlama-lama menggenggam gas motor dengan rute Bandung – Pangandaran via Ciamis yang diteruskan melalui jalur Cikalong – Cijulang – Batukaras – Parigi – Pangandaran.

Ternyata tak hanya terowongan Wihelmina saja, ada juga terowongan lain seperti terowongan Hendrik dan terowongan Juliana.

Jembatan Cikacepit
Jembatan Cikacepit | © Hendi Abdurahman

Selain beberapa terowongan, ada juga jembatan dengan rel yang berkarat dan terbelah bernama Cikacepit. Jika diurut, terowongan Hendrik menjadi yang menyapa saya terlebih dahulu, disusul jembatan Cikacepit, terowongan Wihelmina, dan terowongan Juliana.

Dalam buku Kereta Api di Priangan Tempo Doeloe karya Sudarsono Katam, dijelaskan bahwa jalur kereta Api Banjar – Kalipucang dibangun oleh Staatsspoorwegen (perusahan perkeretaapian zaman Belanda) berdasarkan undang-undang tanggal 18 Juli 1911 untuk kemudian diresmikan pada tanggal 15 Desember 1916.

Mungkin bagi sebagian orang mendatangi tempat-tempat bersejarah, dalam hal ini jembatan dan terowongan, sepertinya hanya membuang-buang waktu. Tak ada makna esensial yang didapat dari mengunjungi jembatan dan terowongan kereta api. Tapi, enggak buat saya. Mengutip apa yang dikatakan Irfan, teman seperjalanan saya, “ketika hari-hari yang sedang dilalui terasa semakin sulit, menengok masa lalu kadang menjadi pelipur”.

Saat kereta api dewasa ini tak lagi menjadi moda transportasi utama untuk mengangkut dan menditribusikan hasil pertanian, kita diingatkan bahwa dulu kereta api adalah moda transportasi utama yang sangat membantu.

Nah nah nah… Perlu digarisbawahi kalau ternyata masa lalu enggak hanya menyoal tentang mantan, kan?

Lalu, sampai situ sajakah pengalaman saya?

Ternyata tidak. Saat saya mengunjungi terowongan Wihelmina itu, saya bertemu dengan satu komunitas motor trail yang secara berani memasuki terowongan yang berjarak lebih dari 1 kilometer itu secara gelap-gelapan, belum lagi banyaknya kelalawar yang berterbangan. Saya terkagum-kagum. Oke, untuk kasus anak-anak bermotor trail ini saya cukupkan. Karena ternyata ada yang bikin saya lebih kagum lagi.

Sarni, begitu ia memperkenalkan diri. Beliau sedang “liburan” bersama keluarga dan juga cucu-cucunya. Saya kaget ketika beliau berkata bahwa liburan yang dimaksud adalah menyusuri terowongan Wihelmina. Padahal menurut saya, terowongan itu bisa dikatakan bukanlah tempat wisata.

Sarni berasal dari Purbalingga. Dia sudah beberapa tahun tinggal di kampung Pasir Andong, beberapa kilometer dari terowongan Wihelmina.

“Liburan kami ya seperti ini, menyusuri terowongan ini”, begitu ucapnya ketika kawan saya, Ridwan ngobrol bersama beliau. Dengan jempol kaki yang dibalut plastik, kami bertukar cerita. Sampai akhirnya saya dan kawan-kawan tercengang saat mengetahui alasan dibalik jempolnya yang dibalut plastik tersebut, yakni gara-gara digigit kelabang. Saya melongo, kawan lainnya tercengang.

Sarni mengajak cucu dan anaknya untuk berliburan. Layaknya piknik di kawasan wisata pada umumnya, di tengah obrolan mereka membuka cemilan berupa kue kering dan beberapa cemilan ringan yang dibawa dari rumah sebagai bekal. Mereka menawari kami, tanpa sungkan kami ikut larut untuk mencicipi kue yang ditawarkan. Tentu saja sambil bertukar cerita.

Setelah ngalor-ngidul bertukar cerita, kami harus berpisah. Padahal pertemuan kami dengan Bu Sarni dan keluarga serta cucu-cucunya itu terasa baru sebentar saja. Sebelum kami mengakhiri obrolan, beliau bertanya dengan sedikit keheranan. “Kok aneh yah, orang kota mau liburan ke terowongan kaya gini. Soalnya kebanyakan orang kalau berlibur kan ke pantai (Pangandaran). Kami memang sekumpulang orang aneh, Bu, saya bergumam dalam hati.

Sampai pada akhirnya saya dan kawan-kawan harus mengakhiri obrolan karena waktu sudah sore. Pertanda kalau kami harus melanjutkan perjalanan.

Sekali lagi, benar kiranya ketika hari-hari yang sedang dilalui terasa semakin sulit, menengok masa lalu kadang menjadi pelipur. Dan Ibu Sarni tahu betul akan itu, menengok sisa-sisa kejayaan Wihelmina sambil piknik bisa jadi adalah cara pelipur dari kapitalisasi tempat-tempat wisata yang makin merajalela.

Hendi Abdurahman

Pejalan kaki di Minggu Pagi, Pegiat Komunitas Aleut.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405