Menyambangi Tengkleng Bu Edi

Tengkleng Bu Edi
Tengkleng Bu Edi © Aditya Rizki Yudiantika

Hasrat saya untuk menikmati tengkleng legendaris di Solo itu akhirnya tersampaikan. Tengkleng Bu Edi. Begitu banyak orang mengenalnya. Ini adalah kali ketiga kunjungan saya, setelah dua kunjungan sebelumnya gagal—mungkin Tuhan ingin mengajarkan saya arti perjuangan sebelum merasakan salah satu nikmat-Nya itu.

Pada kunjungan pertama, sekira setahun yang lalu, saya kesulitan menemukan letak lokasi tengkleng Bu Edi. Hasil googling saya mengabarkan jika warung Bu Edi ada di depan gapura Pasar Klewer. Kebetulan ketika itu Pasar Klewer baru saja terbakar beberapa bulan sebelumnya. Pikir saya, warung itu masih belum buka atau sedang dalam proses dipindahkan ke tempat sementara. Walhasil, saya urungkan niat itu.

Kali kedua, saya mencoba berputar-putar di sekitaran Pasar Klewer untuk mencari warung kebanggaan pencinta tengkleng di Solo itu. Kali ini harus ketemu tempatnya. Setelah beberapa kali bertanya ke para pedagang di sekitar pasar, akhirnya sampai juga di warung tengkleng Bu Edi.

Lokasi tengkleng Bu Edi tak jauh dari area relokasi Pasar Klewer, di sebelah barat Alun-Alun Utara Solo. Persis di selatan Masjid Agung Keraton Surakarta. Sialnya, begitu sampai lokasi, warung tersebut masih tutup. Saya ingat dan memaklumi, mungkin saat itu masih dalam suasana duka atas meninggalnya Bu Edi.

Berhubung sudah tahu lokasinya, pada kunjungan ketiga saya langsung menuju ke warung Bu Edi. Dari info yang saya dapat, tengkleng Bu Edi buka mulai siang hari, sekitar pukul 13.00 WIB hingga habis. Benar saja, ketika saya datang, para pelanggan kuliner tengkleng kambing tampak berjejer memenuhi meja-meja warung Bu Edi. Akhirnya.

* * *

Solo siang itu terasa gerah. Namun, tak lama kemudian, langit mulai berangsur-angsur mendung. Pertanda hujan akan segera turun. Sementara itu, rasa lapar melanda karena semenjak pagi saya belum makan.

Warung Bu Edi ada di dalam area parkir kendaraan Pasar Klewer. Tepatnya ada di bawah sebuah pendopo atau gazebo. Di sekeliling pendopo itu ada beberapa penjual kaki lima. Seperti penjual kupat tahu dan es buah. Meja dan kursi makan yang tersedia itu memang ditujukan untuk para pengunjung yang ingin menikmati sajian kuliner di sekitar pendopo.

Ada dua orang perempuan dewasa yang melayani para penikmat tengkleng. Satu orang menyiapkan makanan, lainnya menyiapkan minuman. Saya hanya bisa mengecap ludah sendiri begitu melihat kuali berisi potongan tengkleng kambing dan kuahnya ada di depan mata.

Nama warung Bu Edi ini diambil dari nama aslinya, Ediyem. Bulan Desember tahun 2015 lalu, Bu Edi, yang juga dikenal sebagai salah seorang tokoh kuliner Solo, telah berpulang di usia 66 tahun. Sepeninggal Bu Edi, warung itu gantian dikelola oleh anak-anak dan menantunya.

Orang-orang mengenal tengkleng Bu Edi sebagai tengkleng legendaris. Selain sudah ada sejak tahun 1971, tengkleng ini juga sering menjadi langganan abdi dalem keraton, pejabat tinggi, dan masyarakat Solo. Jokowi ketika masih menjabat sebagai Wali Kota Solo sering makan tengkleng di warung Bu Edi. Begitu juga Presiden SBY yang pernah mengundang Bu Edi secara khusus untuk menyajikan tengkleng di acara open house lebaran.

Tengkleng Bu Edi
Tengkleng Bu Edi © Aditya Rizki Yudiantika

Dari beberapa referensi, tengkleng adalah makanan asli Solo. Istilah tengkleng digunakan untuk menyebut masakan sejenis sup dengan bahan utama daging, jeroan, juga tulang kambing. Berbeda dengan gulai kambing, kuah tengkleng cenderung lebih encer.

Tengkleng Bu Edi disajikan seperti tengkleng pada umumnya. Selain tulang kambing, juga ada satu tusuk jeroan dalam seporsi tengkleng. Ukuran tulang kambing yang dihidangkan tak terlalu besar. Penyajian tengkleng di atas pincuk (daun pisang yang dilipat sehingga dapat berfungsi sebagai mangkuk) yang dilandasi piring membuat tengkleng ini terasa istimewa.

Soal rasa, saya punya cerita sendiri. Kuah tengkleng Bu Edi berwarna kuning agak kecokelatan dan tidak terlalu pekat. Memandangnya mengingatkan saya dengan kuah opor ayam atau gudeg basah. Dagingnya yang empuk dan tulangnya yang tak terlalu besar membuatnya mudah dicacah. Bagi saya, rasa kuahnya tidak terlalu manis dan asin, juga bumbunya yang terasa kurang kuat untuk ukuran tengkleng. Di luar itu, porsinya pas untuk tengkleng yang diberi harga Rp 25.000 per porsi. Harga yang masih terjangkau.

Jika dibandingkan dengan Tengkleng Gajah yang dijual di kawasan Jl. Kaliurang 9.3, Bulurejo, Yogyakarta, bentuk dan rasanya berbeda. Tengkleng Gajah terkenal karena ukuran tulangnya yang besar-besar, tanpa jeroan, serta disajikan dalam porsi yang lumayan banyak. Nasi bisa tambah sepuasnya. Penyajian nasi dan tengkleng pun dipisah. Bagi saya, Tengkleng Gajah mempunyai rasa yang cenderung lebih gurih dan kental aroma kuahnya dibanding tengkleng Bu Edi.

Sekilas mata memandang jalanan Solo, memang ada banyak warung tengkleng yang dijual di warung-warung tenda. Tapi siapa sangka, banyak pelancong dari luar daerah yang ingin mencicipi rasa tengkleng legendaris Bu Edi ini.

Sayangnya, saya belum sempat mencoba cita rasa tengkleng ini ketika Bu Edi masih hidup. Di kesempatan yang lain, sepertinya saya perlu lebih banyak mencicip surga-surga tengkleng yang tersebar di seantero Jogja-Solo.

Aditya Rizki Yudiantika

Pengembang web dan penikmat kuliner Indonesia. Bisa disapa di www.adityarizki.net.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com