Menyambangi Jangan Lombok Mbah Adi

Paket lengkap 10.000an
Paket lengkap 10.000an © Edo W Adityawarman

Perjalanan di kereta—terlepas dari fasilitas yang konon lebih baik, gerbong yang terbebas dari orang-orang kecil, udara yang sehat sebab tak ada asap rokok—adalah perjalanan yang dingin, membosankan dan kadang mengesalkan. Nyaris tak ada yang hal asyik yang bisa dilakukan dalam gerbong kereta itu kecuali ngecas handphone, memungut selimut dan bantal sewaan penumpang yang lebih dulu sampai tujuan, dan melompat dari gerbong saat kereta mampir di stasiun demi menunaikan separuh batang.

Tak percaya? Silakan coba sendiri. Naiklah kereta dari stasiun Kiaracondong menuju stasiun Kediri. Bila Anda dari Ibukota, cobalah naik kereta menuju Kediri. Bila dari Jogja, Semarang, atau mana pun lainnya, cobalah, naik kereta, dan turunlah di Kediri.

Halah, kenapa mesti turun Kediri? Jawabnya, pendek saja, karena di sana baru buka warung yang enak. Tenanan.

Nah, barangkali, kamu pernah dan/atau akan mengalami seperti ini. Dalam perjalanan panjang yang dingin, membosankan dan kadang mengesalkan di kereta, kamu merasa lapar. Kamu melihat beberapa kali pramusaji berlalu-lalang. Ada dua pilihan, melirik nampan yang dibawa, atau mengabaikannya. Lalu kamu memilih yang pertama: ada nasi goreng, dan ada nasi rames. Rupa dan kemasannya gemes, elok, dan baunya menggoda. Kamu menelan ludah. Sewaktu memikirkan langkah selanjutnya, tiba-tiba, ibu-ibu atau bapak-bapak di sampingmu memesan. Kamu mendengar nominal disebutkan. Kamu menelan ludah, lalu memutuskan untuk menahan lapar. Membuka menu gawai, scroll sebentar, menutupnya, membukanya lagi, menutupnya, begitu terus sampai perut tak lagi terasa lapar.

Beberapa jam kemudian, kamu merasakan kehangatan. Sinar matahari masuk ke dalam gerbong dari arah timur. Tutuplah matamu. Pertajam indra penciumanmu. Samar-samar, kamu tahu ada bau yang membuatmu nyaman. Aroma racikan tembakau dan sausnya yang sedap, yang masuk dalam gerbong kereta dengan cara yang entah bagaimana. Kamu menikmatinya dan kamu tahu, kamu sudah sampai di Kediri.

Keluar dari pintu stasiun yang besar dan sudah tua itu, berjalanlah lurus, ke Jalan Dhoho. Bila akhir pekan, maka jangan lupa beli koran. Berjalanlah ke arah selatan, ke alun-alun. Kalau tak kuat, boleh juga kamu naik becak. Sampai di Masjid Agung Kediri, carilah bus yang bisa membawamu ke arah Tulungagung. Naik, dan katakanlah pada kondektur, “Turun pertigaan Ngadiluwih, pak.”

Perjalanan bus hanya sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Di lampu merah itu, kamu melihat beberapa becak bermotor menanti penumpang. Pilih salah satu dan katakan tujuanmu dengan mantap dan bersemangat: Dukuh. Depan masjid, cucian motor. Ndalemipun Mbah Adi.

Jangan Lombok Mbah Adi

Sampai di tujuan, turunlah, dan jangan lupa membayar becak atas jasa besar yang ia berikan. Di cucian, kamu akan mendapati tiga sampai lima orang menunggu kendaraan mereka dibersihkan dan disiapkan untuk kencan. Bila beruntung, tentu kamu bisa mengajak salah satu dari mereka untuk berkenalan dan berbincang. Boleh-boleh saja. Tapi ingat, tujuan utamamu kali ini adalah untuk ke warung enak yang baru saja dibuka.

Jangan lombok. Dalam Bahasa Indonesia, atau dalam kosakata orang-orang kota, sayur cabai. Jenis masakan yang nyeleneh sejak dalam bahan, apalagi dalam racikan. Pedas sejak masih dipikirkan.

Kemantaban
Kemantaban © Edo W Adityawarman

Tanpa malu-malu, masuklah sambil memasang senyum semanis mungkin. Anda akan melihat siapa Mbah Adi. Seorang perempuan yang sudah sepuh, nenek-nenek, tapi masih sangat sehat, produktif, dan bahagia. Sambil terkagum, mungkin ingatan anda akan melayang pada sebuah film dokumenter berjudul “Mereka yang Melampaui Waktu”.

Anda menerka berapa usianya. Tapi saya kasih tahu. Usia beliau 93 tahun. Anda memperhatikan beliau menuang sayur pada mangkuk yang dialasi dengan lepek. Cabai, tempe, swiwi, serta kuah santan yang kental bercampur dalam satu mangkuk kenikmatan. Kombinasinya tak mesti seperti itu sebenarnya. Bisa berbeda-beda. Ada juga iga daging sapi, babat, dan… bebek Manila!

Asap kebul-kebul dari mangkukmu. Simbah akan memersilakanmu untuk mengambil nasi sendiri, sebab Simbah tau, seperti kata penyair, “nasi(b) adalah kesunyian masing-masing”. Oh, ya, jangan lupa untuk mengambil kerupuk dan memesan segelas teh hangat.

Bawa makanan adiluhung itu ke tempat mana pun sesukamu. Bisa dekat Simbah, atau ke meja yang tertata rapi dan bersih di area belakang warung. Tuang perlahan kuah dari sayur itu ke atas nasimu. Sendokan pertama akan membuat matamu nanap. Sendokan kedua, lidahmu akan tergelitik, indramu makin menguat, dan otakmu merasakan sensasi yang luar biasa, lalu memantulkan semuanya ke sekujur tubuhmu. Sendokan ketiga kamu akan tiba di taman Asoka. Sendokan keempat dan seterusnya, akan membawa sukmamu naik ke langit, seolah menggapai surga.

Thethelan
Thethelan © Edo W Adityawarman
Swiwi
Swiwi © Edo W Adityawarman

Oh, ya. Jangan lupakan bahwa kamu punya swiwi. Ada cara mudah menikmatinya. Begini. Pegang swiwi itu di ujungnya. Carilah ujung yang memiliki tulang besar. Pertama, carilah tulang yang diameternya lebih kecil daripada tulang utama. Dengan sedikit gerik memutar, cabutlah tulang kecil itu. Setelahnya, lakukan hal yang sama pada tulang yang lebih besar. Perhatikan tulang itu keluar hampir tanpa ada daging yang menempel padanya. Tapi untuk memastikan, baiknya tetap kamu masukkan tulang itu ke dalam mulutmu kemudian menghisapnya. Lalu makanlah daging di mangkukmu yang telah lemas kehilangan tulang. Kamu akan terbang bersama swiwi yang kamu makan.

Di tengah penerbanganmu itu, keringatmu mulai bercucuran, hidung juga mulai mengeluarkan cairan. Kamu ingat pesan dari mantanmu bahwa kamu tak boleh kekurangan cairan dalam tubuh. Maka minumlah teh hangat yang sudah dihidangkan Simbah. Desss. Sensasi menjadi makin gila, kenikmatan luar biasa, dan laju terbangmu makin cepat.

Biasanya, pada saat-saat ini, ingatanmu juga akan melayang ke mana-mana. Kamu melihat mantanmu, dengan kondisi yang sama sepertimu; keringat menetes dari sudut dahinya, matanya berair kepedasan, serta area di bawah hidungnya—tempat tumbuhnya kumis tipis itu—menjadi berembun. Kamu melihatnya melepas jaket tipis yang melindunginya dari sengatan matahari, meminum teh hangat sepertimu, lalu mengipas mulutnya dengan tangan. Huh hah huh hah. Ia tertawa. Mukamu dan mukanya memerah.

Matamu jadi berair karena sensasi yang campur aduk. Matamu jadi berair karena teringat mantan. Lalu, Simbah yang sangat baik itu datang padamu, mengembalikanmu dari pengalaman mi’raj yang nyaris ilahiah, dan memujimu sebagai seseorang yang kuat dan tabah. Menawarimu untuk tambah pesanan.

Kamu memesan secangkir kopi. Menyalakan rokokmu dan menghisapnya dalam-dalam. Ya, pesananmu tak salah. Kopi Simbah juga terkenal mantap.

Tentu bukan kopi yang dibikin teliti seperti barista-barista. Kopi Simbah adalah kopi robusta entah dari mana, yang digoreng dengan sedikit campuran beras, lalu digiling menggunakan mesin, dan diseduh dengan cara ditubruk dengan air yang mendidih. Seperti kopi umumnya di desa-desa. Tapi jangan salah sangka, banyak pekerja, juga pegawai kantoran yang rela mengaso siang demi meneguk kopi bikinan Simbah. Bahkan, ada beberapa supir truk yang membungkusnya dengan plastik untuk dinikmati di jalan.

Kopi datang. Kamu menuangnya di lepek, menyeruputnya, dan merasa tak mau pulang. Kamu ingin menunggu perutmu beristirahat sebelum kembali dipekerjakan.

Tak apa. Masuklah ke dalam rumah, tentunya dengan izin Simbah. Kalau beruntung, di dalam rumah kamu akan menemukan seorang pemuda, bermuka kusut, dengan rambut sebahu yang tampak selalu basah dengan air wudhu. Ajaklah berkenalan. Ia adalah aku.

Edo W Adityawarman

Tukang ngopi. Kuliah di Bandung.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405